Opini

Menghayati Roh Kurban: Dari Simbolik ke Spiritualitas

31
×

Menghayati Roh Kurban: Dari Simbolik ke Spiritualitas

Sebarkan artikel ini
Kurban bukan sekadar menyembelih hewan dan membagi daging. Ia adalah latihan menaklukkan ego, menyucikan niat, dan membuktikan kepedulian kepada sesama.
Ulul Albab

Kurban bukan sekadar menyembelih hewan dan membagi daging. Ia adalah latihan menaklukkan ego, menyucikan niat, dan membuktikan kepedulian kepada sesama.

Serial Inspirasi Kurban (1): Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur, Ketua Litbang DPP Amphuri, Dewan Pembina Yayasan Masjid Subulussalam

Tagar.coMomen besar yang kita nantikan setelah Idulfitri adalah Iduladha, hari raya agung dalam Islam yang tidak hanya disyariatkan untuk berpuasa (bagi yang tidak berhaji) dan berhaji (bagi yang mampu), tetapi juga diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki.

Pertanyaannya adalah: sudahkah kita benar-benar mempersiapkan momen penting ini secara lahir dan batin? Sudahkah kita memahami bahwa perintah berkurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi merupakan bentuk latihan spiritual yang mendalam?

Jangan-jangan kita memaknai kurban hanya sebagai ritual simbolik: menyembelih hewan, berbagi daging, lalu selesai. Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah Swt. telah mengingatkan:

“Daging-daging dan darah (hewan) kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (Al-Hajj: 37)

Baca Juga:  Silence of the Experts dan Demokrasi yang Gelisah

Artinya, ibadah kurban harus dimaknai lebih dalam daripada sekadar penyembelihan hewan. Ayat tersebut menegaskan bahwa yang Allah nilai bukanlah daging dan darah hewan kurban kita, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati dalam melaksanakannya.

Kurban: Latihan Ikhlas dan Kepedulian

Ibadah kurban memiliki dimensi ganda: spiritual dan sosial. Dari sisi spiritual, ia mengajarkan keikhlasan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail—seorang ayah yang rela mengorbankan anaknya demi menaati perintah Tuhannya, dan seorang anak yang rela disembelih demi ketaatan kepada Allah. Dasarnya adalah ketakwaan kepada-Nya.

Sementara dari sisi sosial, kurban merupakan wujud nyata solidaritas. Kurban memungkinkan tetangga-tetangga kita dan kaum Muslim yang secara ekonomi rentan—yang jarang mengonsumsi daging—untuk menikmati nikmatnya protein hewani. Bahkan bagi sebagian dari mereka, Iduladha merupakan satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk menyantap lauk daging.

Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, tetapi Menyembelih Ego

Dalam praktiknya, hal yang lebih berat daripada menyembelih hewan kurban adalah menyembelih ego—ego yang merasa seluruh harta adalah milik pribadi, rasa enggan berbagi, serta keinginan untuk pamer saat berkurban. Inilah makna kurban yang lebih mendalam. Karena hakikatnya, kurban bukan tentang darah dan daging, melainkan tentang ketundukan kita di hadapan Tuhan.

Baca Juga:  Menjernihkan Isu Halal di Balik Perjanjian Dagang Indonesia–AS

Rasulullah Saw. pun mengingatkan dengan tegas:

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi yang mampu, dan mengisyaratkan bahwa kurban adalah kewajiban sosial sekaligus bentuk ibadah pribadi.

Mari Persiapkan dengan Roh dan Niat yang Tulus

Menjelang hari-hari besar Iduladha, mari kita memurnikan kembali niat kurban kita. Jika belum mampu menyembelih sendiri, bisa berpatungan. Jika belum siap secara materi, mulailah dengan semangat dan niat yang tulus. Sebab semua amal kebaikan bergantung pada niat.

Yang lebih penting daripada daging dan dokumentasi yang dipamerkan adalah: apakah kurban ini membuat kita lebih dekat kepada Allah dan lebih peduli terhadap sesama?

Semoga tahun ini, kurban yang kita tunaikan benar-benar menjadi bentuk ketakwaan, bukan sekadar tradisi tahunan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni