Feature

Mengenal Lima Tipologi Perilaku Keberagamaan, Menguatkan Jati Diri Muhammadiyah

40
×

Mengenal Lima Tipologi Perilaku Keberagamaan, Menguatkan Jati Diri Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Machfudl Asy’rofi memberikan penguatan ideologis guru dan karyawan SD Almadany (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Lima Tipologi Perilaku Keberagamaan dan MKCH menjadi materi pembinaan guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang, Kebomas, Gresik.

Tagar.co – Dalam pembinaan guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Gresik, Sabtu (25/1/2025), Wakil Ketua PDM Gresik periode 2015-2022, Mahfudl Asy’rofi, M.Si., menyampaikan materi tentang tipologi perilaku keberagamaan.

“Ada lima tipologi perilaku keberagamaan, yakni eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, eklektisisme, dan universalisme,” ungkapnya.

Mahfudl menjelaskan kelima tipologi ini tidak bersifat mutlak dan terpisah satu sama lain, melainkan lebih sebagai kecenderungan yang menonjol. “Setiap agama maupun sikap keberagamaan senantiasa memiliki potensi untuk melahirkan kelima sikap tersebut,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mahfudl menguraikan masing-masing tipologi. Pertama, eksklusivisme, yaitu pandangan yang menganggap hanya agama yang dianutnya yang paling benar, sementara agama lain sesat dan pemeluknya terkutuk. Penganut eksklusivisme cenderung ingin mengikis agama lain atau mengonversi pemeluknya. Sikap ini didasari keyakinan hitam-putih, benar dan salah secara mutlak.

Kedua, inklusivisme, yang berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh atau sesempurna agama yang dianutnya. “Di sini masih ada toleransi teologis dan iman, namun tetap ada keyakinan hitam-putih, di mana agama lain dipandang memiliki kebenaran yang tidak utuh,” jelas Mahfudl.

Baca Juga:  Penilaian Sumatif Akhir Jenjang 2026: SD Almadany Mengukur Capaian Belajar Murid Angkatan 3

Ketiga, pluralisme atau paralelisme. Sikap teologis paralelisme dapat dirumuskan dalam berbagai pernyataan, seperti: “agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai Kebenaran yang Sama”; “agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan Kebenaran-kebenaran yang sama sah”; atau “setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran.” Pluralisme secara teologis memandang semua agama berdiri sejajar dalam menegakkan moral dan kebenaran.

Keempat, eklektisisme, yaitu sikap yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk dirinya. “Format akhir dari sebuah agama menjadi semacam mosaik yang bersifat eklektik, hasil dari pertemuan berbagai ajaran agama yang dianggap baik,” terang Mahfudl.

Kelima, universalisme, yang beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama. Perbedaan yang ada lebih disebabkan oleh faktor historis-antropologis. “Universalisme menekankan kesatuan manusia yang melintasi batas geografis, agama, dan antropologis,” pungkasnya.

MKCH sebagai Ideologi Muhammadiyah

Selain membahas tipologi keberagamaan, Mahfudl Asy’rofi juga menyampaikan tentang Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) sebagai ideologi Muhammadiyah. “MKCH adalah panduan dalam memahami, mengamalkan, mempraktikkan, dan mendakwahkan ajaran Islam,” tegasnya.

Baca Juga:  Murid SD Almadany Panen Telur Asin Hasil Proyek STEM

Menyelami Roh Perjuangan: Pembinaan Ideologi untuk Guru dan Karyawan SD Almadany Gresik

Menurutnya, MKCH merupakan ikhtiar Muhammadiyah untuk menjaga watak dan ciri khas perjuangannya. “MKCH menjadi komitmen bagi pemilik, penyelenggara, dan pelaksana Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) untuk merawat manfaat organisasi bagi kemanusiaan,” lanjutnya.

MKCH juga berfungsi sebagai landasan normatif dan operasional organisasi, sekaligus menjadi rambu dan strategi perjuangan dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita persyarikatan.

Sebagai penutup, Mahfudl memberikan penguatan kepada para pejuang di AUM agar senantiasa meyakini bahwa Muhammadiyah adalah: (1) Gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi mungkar, (2) bercita-cita mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, (3) berakidah Islam, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah, serta (4) melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni