Feature

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia

2155
×

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia

Sebarkan artikel ini
Para santri peserta Pelatihan Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media dalam rangka Gerakan Santri Menulis (GSM) 2026 berfoto bersama usai kegiatan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Adiwerna, Ahad (8/3/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi media, kemampuan menulis, serta kreativitas santri dalam memproduksi konten inspiratif di era digital. (Tagar.co/Hendra Apriyadi)

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengajak santri Gen Z memperkuat budaya membaca dan menulis melalui “ngaji kata”. Literasi, menurutnya, menjadi kunci membuka wawasan hingga menjelajah dunia.

Tagar.co – Para santri generasi Z mengikuti Pelatihan Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media dalam rangka Gerakan Santri Menulis (GSM) 2026 yang diselenggarakan Suara Merdeka Network di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Tegal, Jawa Tengah, Ahad (8/3/2026).

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguasaan literasi dan kreativitas media bagi generasi muda, khususnya para santri.

Baca juga: Ceramah Tarawih Abdul Mu’ti: Lima Kemuliaan Ramadan yang Perlu Dimaksimalkan

Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, santri tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi. Mereka perlu memiliki kemampuan menulis serta memproduksi konten yang edukatif, inspiratif, dan berkarakter.

Dalam sesi dialog, Abdul Mu’ti mengajak para santri mendiskusikan tema kegiatan, yakni “Ngaji Kata Membuka Dunia.”

“Siapa yang bisa menjelaskan apa maksud dari tema tersebut?” tanyanya kepada para santri.

Baca Juga:  Muhammadiyah Gandeng UPER Edu Tech Tiongkok, Dirikan Mandarin Language Center di Yogyakarta

Pertanyaan itu langsung disambut antusias. Para santri berlomba mengacungkan tangan untuk menjawab. Salah satu santri bernama Alma kemudian mendapat kesempatan menyampaikan pendapatnya.

Dengan percaya diri, Alma menjelaskan bahwa membaca merupakan jendela untuk mengetahui berbagai hal di dunia.

“Dengan membaca, kita menjadi tahu banyak hal. Dari membaca kita dapat membuka wawasan dan pengetahuan tentang dunia,” jawabnya.

Ia juga menambahkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, memotivasi, dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan.

Melalui membaca Al-Qur’an, seseorang dapat memahami makna ayat-ayatnya. Demikian pula melalui novel atau cerpen, pembaca dapat mengambil berbagai pesan dan nilai kehidupan yang bermanfaat.

Menanggapi jawaban tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa “ngaji kata” tidak sekadar mempelajari kata-kata, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, dengan memperbanyak membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan tentang dunia. Ia juga mengingatkan bahwa perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah membaca, sebagaimana termaktub dalam kata Iqra.

“Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa orang yang berilmu memiliki derajat yang lebih tinggi,” jelasnya.

Baca Juga:  Didik Suhardi: Olympicad Momentum Bangun Generasi Emas Muhammadiyah

Berbagi Kisah

Dalam suasana dialog yang hangat, Abdul Mu’ti juga berbagi kisah perjalanan hidupnya. Ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari kampung dengan keterbatasan fasilitas.

Pada tahun 1990-an bahkan listrik belum tersedia di daerah tempat tinggalnya. Namun dengan semangat belajar yang tinggi, ia mampu melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.

Ia mengungkapkan bahwa pendidikan telah membawanya menuntut ilmu di berbagai negara, bahkan berkesempatan berkeliling dunia hingga lima benua.

Abdul Mu’ti juga mengisahkan pengalamannya berpidato menggunakan bahasa Indonesia di forum internasional, antara lain di Unesco dan di Samarkand, kota bersejarah yang dikenal sebagai tempat lahirnya banyak ulama besar.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak para santri untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di sisi lain, ia juga menegaskan pentingnya mencintai bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.

Dengan nada santai disertai guyonan, ia berkata, “Ora ngapak ora kepenak,” yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan para santri.

Menutup dialognya, Abdul Mu’ti memotivasi para santri agar menjadi pembaca yang baik dan kritis. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam scroll culture, yakni kebiasaan hanya menggulir informasi di media sosial tanpa membaca secara mendalam.

Baca Juga:  Tahun 2026, Pemerintah Siapkan Revitalisasi untuk 71.000 Satuan Pendidikan

Menurutnya, orang yang cerdas adalah mereka yang mampu berpikir kritis dan melakukan tabayun saat menerima informasi.

“Jika menemukan informasi yang meragukan atau berpotensi hoaks, periksa dahulu kebenarannya sebelum mempercayai atau menyebarkannya,” pesannya. (#)

Jurnalsi Hendra Apriyadi | Penyunting Mohammad Nurfatoni