
Di balik rak-rak berdebu, ia menulis diam-diam, tak peduli dunia memfitnah. Hingga suatu hari, sebuah buku membongkar siapa dia sebenarnya—seseorang yang memilih diam demi nyawa orang-orang tercintanya.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Hidup kadang seperti panggung yang lampunya terlalu terang: segala gerak diawasi. Fadhil tahu persis rasanya, ketika derit kursi kayunya saja bisa jadi bahan gosip. Tapi ia tetap di sana, di sudut toko buku kecil yang tak pernah benar-benar sepi.
Toko buku itu berada di gang sempit, nyaris tanpa papan nama. Namun selalu ada kaki-kaki yang masuk dengan pelan, atau mata yang sekadar mencuri judul dari rak-rak kayu tua yang dipenuhi debu dan cerita. Di sudut paling pojok, Fadhil duduk tenang di balik meja, mengenakan jaket usang dan senyum yang lebih sering diam daripada bersuara.
Orang-orang menyebutnya “tukang buku yang aneh”.
Bukan karena ia menjual buku langka, bukan pula karena ia tak pernah menggembok tokonya meski malam sudah larut. Tapi karena Fadhil terlalu pendiam, terlalu tidak peduli pada sekitarnya, dan terlalu rajin menulis padahal tidak ada yang tahu apa yang ia tulis. Setiap malam, ia menyalakan lampu kecil dan mencoret-coret di buku catatan, seolah sedang mengeja dunia yang hanya ia pahami sendiri.
“Nggak capek ya, Pak Fadhil, nulis melulu? Toko kosong, malah coret-coret. Anak istri ke mana, toh?” celetuk Bu Yani, pemilik warung sebelah.
Kabar tentang Fadhil berkembang seperti jamur di musim hujan. Ada yang bilang dia ditinggal istri karena tidak bekerja tetap. Ada pula yang menyebutkan ia punya utang yang tak pernah dibayar. Semuanya berputar seperti pusaran gosip yang tak pernah kehabisan bahan bakar.
Namun Fadhil, tak pernah sekalipun membantah. Ia hanya senyum, angkat bahu, lalu kembali menunduk di hadapan bukunya.
Pernah suatu sore, anak-anak muda dari komunitas baca datang, ingin mengajaknya diskusi. Tapi Fadhil hanya berkata pelan, “Aku tidak butuh dikenal, aku hanya ingin menulis.”
Suatu malam, saat hujan turun deras dan toko-toko lain mulai menggulung terpal, Fadhil tetap duduk di tempatnya. Ia menyelesaikan lembar terakhir dari bukunya yang keempat belas. Di halaman akhir, ia menuliskan sebuah kalimat:
“Jika kau sibuk menjawab semua tuduhan, kau akan lupa menjawab panggilan Tuhan.”
Esok harinya, ia menyampul naskah itu, menguncinya di laci, dan berjalan ke makam istrinya. Di sana, ia duduk lama. Ia berbicara dalam diam, seolah ada suara yang lebih jelas dari semua bisik dunia: suara hatinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, kabar tentang Fadhil berubah. Bukan karena dia mendadak kaya, bukan pula karena ia muncul di televisi. Tapi karena seseorang menemukan namanya di sampul sebuah buku yang masuk dalam daftar bacaan wajib mahasiswa sastra: “Langit Tak Pernah Menghakimi.”
Kampus besar di kota mengundangnya menjadi pembicara. Tapi ia menolak.
“Saya bukan siapa-siapa,” katanya. “Biarkan buku saya bicara.”
Namun yang mengejutkan bukan itu.
Di tahun keempat setelah kabar bukunya meluas, seorang wartawan muda datang menemuinya. Ia menggali informasi, menghubungi mantan rekan, bahkan menelusuri masa lalu Fadhil. Hingga ia pulang dengan wajah pucat, membawa temuan yang membuat gosip Bu Yani terasa seperti dongeng anak-anak.
Fadhil ternyata bukan Fadhil.
Nama aslinya adalah Rahmat Santosa, mantan direktur keuangan sebuah perusahaan raksasa yang menghilang setelah menjadi whistleblower dalam kasus korupsi besar-besaran. Ia diburu, dibingkai, dan difitnah. Setelah menyerahkan semua bukti ke KPK secara anonim, ia memilih “mati” sebagai Rahmat dan “hidup kembali” sebagai Fadhil—penjual buku kecil yang tak dianggap.
Semua tuduhan yang dulu mengelilinginya adalah hasil operasi senyap untuk mematahkan kredibilitasnya. Istrinya meninggal karena stres berat. Anaknya disembunyikan demi keamanan. Tapi ia tak pernah membuka mulut, tak pernah membela diri.
Ia tahu, jika ia bicara, nyawa orang yang ia cintai bisa menjadi taruhannya.
Ia memilih diam.
Ia memilih hidup dengan menulis.
Dan hanya buku-bukunya yang tahu siapa dia sebenarnya.
Kini, di toko kecil itu, Fadhil masih menulis. Dunia boleh terus menuduh, tapi ia tahu: yang benar tak butuh gaduh. Sebab catatan Tuhan jauh lebih abadi daripada bisik manusia. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












