
Musibah sering datang dan pergi jadi statistik. Tapi bagi yang merasakannya langsung, setiap tragedi adalah bisikan takdir—pengingat bahwa manusia hanya tamu di panggung bumi.
Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Tagar.co – Di dunia yang terus berlari, tragedi sering kali hanya mampir sebagai berita. Judul sekilas. Data korban. Statistik. Lalu dunia kembali berjalan.
Namun, bagi sebagian orang, sebuah musibah bukan sekadar berita—melainkan suara takdir yang menggema, menggetarkan ruang kesadaran terdalam manusia.
Seperti insiden jatuhnya pesawat Air India AI171. Bagi sebagian orang, ini hanyalah kecelakaan penerbangan.
Baca juga: Mukjizat di Kursi 11A Pesawat Air India
Namun bagi yang nyaris berangkat tetapi gagal, bagi yang kehilangan satu keluarga tanpa jejak, bagi yang selamat seorang diri di antara ratusan, dan bagi yang membatalkan keberangkatan karena gelisah tanpa sebab —peristiwa ini bukan sekadar tragedi, melainkan perjumpaan langsung dengan rahasia Tuhan.
Takdir: Bahasa Tuhan yang Tak Terucap
Kita hidup di dunia yang menjunjung logika dan rencana. Namun, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan, bahkan oleh teknologi paling canggih atau data paling akurat:
mengapa seseorang ketinggalan pesawat lalu selamat dari maut?
mengapa satu orang bertahan di antara ratusan tubuh yang diam?
mengapa satu keluarga pergi bersama, tanpa pamit?
وَمَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” (At-Taghābun: 11)
Kehidupan manusia adalah rangkaian peristiwa yang terjalin dalam garis takdir.
Sebagian kita menyebutnya kebetulan, padahal bisa jadi itu bentuk kasih sayang Tuhan yang tak kita pahami.
Antara Gagal dan Selamat: Mata Hati yang Terbuka
Seorang pria menangis di bandara karena ketinggalan pesawat. Ia mengutuk hari yang buruk.
Namun beberapa jam kemudian, ia tersungkur dalam sujud syukur: “Yang kuanggap kegagalan, ternyata adalah penyelamatan dari langit.”
Seorang perempuan membatalkan penerbangan karena kegelisahan yang tak bisa dijelaskan. Hari berikutnya, ia menyadari: bisikan hati bisa jadi adalah suara Tuhan.
Dan seorang penyintas, satu-satunya dari ratusan penumpang, kini hidup dalam pertanyaan sunyi: “Untuk apa aku diselamatkan?” Sebab, tak semua yang selamat benar-benar hidup, dan tak semua yang wafat benar-benar pergi.
Manusia Merencanakan, Tuhan Menentukan
Dalam dunia modern yang serba terukur, tragedi semacam ini menyadarkan kita:
manusia bukan penguasa takdirnya sendiri. Ia bisa merencanakan, mengatur, bahkan mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Namun, pada akhirnya, hanya satu kehendak yang berlaku: Kehendak Sang Pencipta.
وَاعْلَمْ أَنَّ ٱلْأُمَّةَ لَوِ ٱجْتَمَعُوا عَلَىٰٓ أَن يَنفَعُوكَ بِشَىْءٍۢ لَمْ يَنفَعُوكَ إِلَّا بِشَىْءٍۢ قَدْ كَتَبَهُ ٱللَّهُ لَكَ
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu…” (H.R. Tirmidzi)
Refleksi dari Sang Khalifah Umar bin Khattab Ra.
Khalifah Umar bin Khattab Ra. pernah berkata penuh ketundukan:
ما أبالي أصبحت على ما أحب أو على ما أكره، لأني لا أدري الخير فيما أحب أو فيما أكره
“Aku tidak peduli apakah aku bangun pagi dalam keadaan yang aku sukai atau yang aku benci, karena aku tidak tahu, apakah kebaikan itu terletak pada yang aku sukai atau justru pada yang aku benci.” (Ibnul Jauzi dalam Shifatu Shafwah)
Kata-kata itu menjadi suluh di tengah gelapnya musibah: bahwa apa yang tampak buruk di mata manusia, bisa jadi kebaikan yang tak terbayangkan. Sebaliknya, apa yang kita inginkan bisa jadi membinasakan. Dan manusia… hanya bisa pasrah.
Ketika Dunia Diam, Takdir yang Bicara
Kecelakaan itu mungkin akan hilang dari layar-layar berita dalam beberapa hari. Namun, bagi mereka yang mengalaminya langsung, hidup tak akan pernah sama.
Bagi mereka yang menyaksikan, ini lebih dari sekadar kehilangan: ini adalah pelajaran, bahwa hidup bisa berakhir kapan saja, dan bahwa keselamatan sejati bukan hanya tentang lolos dari maut, tetapi tentang menyadari siapa yang benar-benar memegang kendali.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal panjangnya umur, tetapi bagaimana kita menjalani detik-detiknya dengan penuh kesadaran bahwa kita bukan pemiliknya.
وَلِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِي ٱلْأَرْضِ ۚ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ
“Kepunyaan Allah-lah segala yang di langit dan di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (Ali ‘Imran: 109)
Bagi sebagian orang, ini hanyalah musibah. Namun bagi sebagian yang lain, ini adalah takdir yang sedang bicara. Dan ketika takdir bicara, manusia hanya bisa tunduk. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












