Feature

Ketika Pak AR Dapat Pinjaman Tanah Presiden Soeharto 

34
×

Ketika Pak AR Dapat Pinjaman Tanah Presiden Soeharto 

Sebarkan artikel ini
Lewat surat yang ditulis tangan dan berbahasa Jawa, ketua PP Muhammadiyah Abdul Rozak (AR) Fachrudin dapat 'pinjaman' tanah sampai hari kiamat.
Dr KH Nurbani Yusuf saat menjadi pemateri Baitul Arqam PCM Sidoarjo (Tagar.co/Darul Setiawan)

Lewat surat yang ditulis tangan dan berbahasa Jawa, ketua PP Muhammadiyah Abdul Rozak (AR) Fachrudin dapat ‘pinjaman’ tanah sampai hari kiamat.

Tagar.co— Sosok fenomenal ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terlama Abdul Rozak Fachrudin (Pak AR), diungkap dalam Baitul Arqam Pendidik dan Tenaga Kependidikan PCM Sidoarjo, Kamis (26/12/24).

Ketua PP Muhammadiyah periode 1968-1990 itu dikisahkan Dr Nurbani Yusuf dengan penuh antusias. Kiai Nurbani, mengajak para guru-karyawan Muhammadiyah untuk meneladaninya.

Di awal, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu itu, mengajak peserta mengingat kembali kunci lahirnya Muhammadiyah dari pendirinya KH Ahmad Dahlan.

Kunci Muhammadiyah adalah pembaharuan, perubahan, dan modernitas, yang saat itu umat Islam mengalami masa ketertinggalan. “Maka pulang dari Makkah tahun 1906, KH Dahlan khotbah Jumat memakai Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa,” ujarnya.

Tetapi untuk rukun-rukunnya tetap Bahasa Arab, pesan-pesannya Bahasa Indonesia dan jawa. “Maka dahsyat dan geger ulama di Indonesia. Mereka menyebut Dahlan sebagai kiai gendeng, kafir, bahkan memanggilnya dengan kiai Londo,” terangnya.

Rebutan Stempel

Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar itu lalu mengisahkan, jika Gus Dur pernah berkata ‘saya ini orang Muhammadiyah yang dititipkan di NU’.

Baca Juga:  Antusiasme Tinggi Warnai Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, Ribuan Warga Sambut Din Syamsuddin

“Maka, banyak yang menyebut jika kemenangan Muhammadiyah adalah kemenangan dialektik, yakni sesuatu yang awalnya dibantah, disesatkan, dikafirkan, terus dibenarkan dan diikuti secara beramai-ramai. Contohnya khotbah Jumat tadi,” paparnya.

Selain itu, Kiai Dahlan mendirikan sekolah pada1918, yang menggabungkan dan menjadikan satu atap antara ilmu agama dengan ilmu sekuler. “Itulah konsep Muhammadiyah, yang sebelumnya dipisah antara ilmu agama dan umum, dan sekarang diikuti sekolah saat ini,” jelasnya.

Muhammadiyah, lanjut Kiai Nurbani, menjadi organisasi yang paling kaya raya dengan total aset 400 triliun, “Semua aset milik Muhammadiyah, milik persyarikatan, bukan milik perseorangan. Paling kalau mau rebutan ya cuma rebutan stempel atau kop surat,” ujarnya disambut tawa peserta.

Muhammadiyah itu sudah 112 tahun, belum pernah mendengar ada dualisme PP Muhammadiyah, atau ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) tandingan, tidak pernah ada.

“Itulah hebatnya Muhammadiyah, yang lain ada munas luar biasa, di Muhammadiyah dalam menentukan pimpinan tenang-tenang saja. Itulah kepribadian Muhammadiyah, praktis. Kepribadian Muhammadiyah itu bisa dicontoh dari Pak AR Fachruddin,” kata Kiai Nurbani.

AR Fachruddin merupakan sosok ketua PP Muhammadiyah yang bersahaja selama empat setengah periode. Di masa kepemimpinannya, ratusan universitas hingga ribuan sekolah berhasil berdiri. “Pak AR juga fenomenal karena biasanya ketua PP itu cuma dua periode. Saat pemilihan beliau dipilih tidak pernah pakai voting, selalu aklamasi,” paparnya.

Baca Juga:  Baitul Arqam PCM Sumberrejo, Guru MTs Muga Perkuat Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah

Di balik sosoknya yang fenomenal, Pak AR cuma pegawai KUA golongan II-b. “Beliau bukan profesor, bukan doktor. “Tapi dia orang yang paling sering diajak sarapan pagi oleh Pak Harto,” ungkapnya seraya bercerita jika setiap Jumat pagi Pak AR selalu diundang ke istana tanpa protokoler.

Surat Sederhana

Kiai Nurbani kemudian melanjutkan, jika ada cerita bagus dari Pak Amien Rais. “Pak Amien Rais suatu saat menyampaikan ke Pak AR, ‘Pak AR kita harus punya universitas pendidikan’. Lalu Pak AR bilang, inggih Mas Amien monggo,” cerita Kiai Nurbani yang menyebut Pak AR itu suka bahasa Jawa yang medok.

Pak Amien Rais pun bikin proposal. Tiga bulan ketemu, Pak AR tanya terkait proposal. Enam bulan hingga setahun pun ketika ditanya belum jadi dan masih survei. “Memang orang pintar itu kalau bikin proposal lama karena banyak referensi,” canda Kiai Nurbani disambut senyum peserta.

Lalu Pak AR bikin surat sederhana ke Presiden Soeharto dalam bahasa Jawa kemudian disampaikan ke istana, tapi tidak di hari Jumat. Akhirnya Pak AR tidak bisa bertemu dengan Pak Soeharto tetapi dititipkan ke ajudannya.

Baca Juga:  Panggung Ekspresi Siswa Miosi, Unleash Your Inner Talent

Tiga bulan kemudian dijawab istana, jika Muhammadiyah ‘dipinjami’ tanah seluas 35 hektar, yang sekarang menjadi Universitas Ahmad Dahlan (UAD). “Iya, dipinjami sampai hari kiamat. Maka kita melihat betapa lugunya Pak AR,” tuturnya.

Di era kepempimpinan Pak AR, berdirilah ratusan universitas, ratusan rumah sakit, serta ribuan sekolah. Kalau Pak AR dapat bisyarah dikumpulkan. “Kalau sudah kumpul 10-15 amplop, lalu dibagikan pada para guru TK, TPQ, dan ranting,” paparnya.

Selain itu, kepribadian yang bisa dicontoh dari sosok AR Fachruddin yakni kesederhanaannya. “Pak AR itu tidak pernah tidur di hotel, lebih memilih tidur di rumah pimpinan cabang atau pimpinan ranting,” jelasnya.

Baitul Arqam Pendidik dan Tenaga Kependidikan Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidoarjo diselenggarakan di Hotel Puri Gendis, Trawas, Mojokerto, Kamis (26/12/24).

Kegiatan yang berlangsung dua gelombang dan mengundang para pakar dan tokoh Muhammadiyah itu berakhir Jumat (27/12/24). (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh. Penyunting Darul Setiawan.