Telaah

Ketika Aku Bukan Siapa-Siapa: Refleksi tentang Jasa, Adab, dan Keikhlasan

40
×

Ketika Aku Bukan Siapa-Siapa: Refleksi tentang Jasa, Adab, dan Keikhlasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kita sering merasa berjasa karena panggung, posisi, atau pengaruh. Namun di hadapan Allah, semua itu fana. Tanpa murid, siapa guru? Tanpa umat, siapa dai? Tanpa Dia, siapakah kita?

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Kadang kita merasa besar karena panggung, bangga karena posisi, dan merasa berjasa karena banyak tangan menyalami.

Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
“Siapa aku tanpa mereka?”

Aku jadi guru karena ada murid. Aku jadi pemimpin karena ada rakyat. Aku jadi ustaz karena ada jemaah.

Baca juga: Tombol Bahagia Itu di Hati, Bukan di Dunia

Aku dikenal karena ada yang mau mendengar.
Lalu siapa aku tanpa mereka?

Namun, lebih dalam lagi, siapa aku tanpa Dia?

Tanpa izin Allah, siapa yang membuat lisan ini fasih? Siapa yang menanamkan cinta murid kepada guru? Siapa yang menggerakkan hati umat untuk datang mendengar dakwah?

Kita ini bukan sumber kebaikan, kita hanyalah jalan yang Allah pilih untuk mengalirkan cahaya-Nya.

Baca Juga:  Dari Kepompong Manjadi Kupu-Kupu, Wajah Baru Manusia Pascaramadan

Jadi, pantaskah merasa berjasa dalam agama ini?

Padahal justru agama inilah yang memuliakan kita, bukan kita yang memuliakannya.

Allah sudah menegur mereka yang merasa berjasa karena Islamnya:

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ

“Orang-orang Arab Badui berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk (Islam), sebab iman belum masuk ke dalam hatimu.’” (Al-Ḥujurāt: 14)

Dan Allah lanjutkan dengan ayat yang menghantam hati para pembaca yang masih ingin dihormati karena jasanya:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُواۖ قُل لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, justru Allah-lah yang telah memberi nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada iman, jika kamu benar-benar jujur.’” (Al-Ḥujurāt: 17)

Subhanallah!

Teguran itu berlaku untuk siapa pun — dai yang merasa dakwahnya paling berpengaruh, pemimpin yang merasa paling berkorban, bahkan guru yang merasa paling berjasa.

Padahal hakikatnya: kitalah yang mendapat anugerah karena diizinkan berperan di jalan-Nya.

Baca Juga:  eLKISI Bahas Minimnya Dai di Kawasan Minoritas Muslim

Adab yang Menumbuhkan Rendah Hati

Guru sejati takkan merasa tinggi di hadapan muridnya, sebab tanpa murid, ilmunya tak akan berbuah.

Dan murid yang beradab takkan sombong di hadapan gurunya, sebab tanpa guru, ilmunya takkan bertumbuh.

Maka keduanya saling menunduk dalam cinta yang berakar pada Allah.

Sang guru berbisik lirih dalam hati:

Man ana laulakum — siapa aku tanpa kalian.”

Dan murid yang beradab menjawab:
Man ana laulak — siapa aku tanpa engkau.”

Di sanalah adab menemukan puncaknya — ketika cinta dan hormat berbalas, bukan karena status, tapi karena keikhlasan.

Guru tak merasa lebih tinggi, murid tak merasa lebih kecil.
Keduanya sama-sama hamba, yang saling menolong menuju rida Allah.

Refleksi di Hari Kiamat

Namun kelak di Hari Kiamat, semua gelar, jabatan, dan rasa “aku” akan lenyap.
Tak ada lagi pemimpin yang berkata, “Itu rakyatku.”
Tak ada lagi guru yang berkata, “Itu muridku.”
Tak ada ustaz yang berkata, “Itu jemaahku.”

Hingga suara mengguncang semesta terdengar:

أَيْنَ الْمُلُوكُ؟ أَيْنَ الْجَبَابِرَةُ؟

Baca Juga:  Doa Terpenting di Sepuluh Malam Terakhir

“Di mana para raja itu? Di mana orang-orang yang dulu sombong dan berkuasa itu?”

Dan Allah menjawab dengan keagungan-Nya yang mutlak:

لِمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ لِلَّهِ ٱلۡوَ ٰ⁠حِدِ ٱلۡقَهَّارِ

“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ghāfir: 16)

Saat itulah semua tunduk, semua sadar, bahwa tak ada satu pun jasa yang bisa disombongkan.

Kita hanya perantara, bukan pemilik pengaruh.

Kita hanya debu di bawah cahaya-Nya, yang berkilau hanya karena disentuh oleh kasih-Nya.

Maka janganlah merasa berjasa dalam agama, sebab sejatinya agama inilah yang berjasa pada kita.

Kalau hari ini kita masih diberi tempat untuk mengajar, berdakwah, atau memimpin — itu bukan karena kita layak, tapi karena Allah masih menutupi aib dan memberi peran.

“Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka yang Allah hadirkan untukku,
dan aku bukan apa-apa tanpa Dia yang memberi arti pada diriku.”

Penutup

“Jika suatu hari kamu merasa besar, ingatlah — di Hari itu Allah akan berseru:
‘Aynal mulūk?’

Dan semua ‘aku’ akan tertunduk, sebab yang berkuasa hanyalah Dia.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…