Feature

Karang Tangguh Dimulai dari Desa: Muhammadiyah dan Aisyiyah Gaungkan Ketahanan Iklim di NTB

31
×

Karang Tangguh Dimulai dari Desa: Muhammadiyah dan Aisyiyah Gaungkan Ketahanan Iklim di NTB

Sebarkan artikel ini
Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, hadir menandatangani peresmian kerjasama program Karang Tangguh SIAP SIAGA di Sumbawa, pada Rabu 11 Juni 2025.

Lewat Program Karang Tangguh, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dorong ketahanan pangan dan adaptasi iklim dari desa. NTB jadi titik awal model kolaborasi tangguh menghadapi krisis iklim.

Sumbawa — Upaya membangun desa yang tangguh terhadap bencana dan krisis iklim kini mendapatkan energi baru. Muhammadiyah dan Aisyiyah, melalui kolaborasi antar-lembaga yang kuat, meluncurkan Program Karang Tangguh sebagai pendekatan berbasis komunitas dalam memperkuat ketahanan desa.

Peluncuran program ini berlangsung di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dalam agenda Workshop dan Kick-Off Rencana Kerja Tahunan 2025 Program Siap Siaga pada Rabu, 11 Juni 2025.

Baca juga: Masjid Muhammadiyah Hijau: Gerakan Spiritual dan Solusi Lingkungan

Acara ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan integrasi pengurangan risiko bencana dalam pembangunan desa, sekaligus dukungan terhadap Peraturan Gubernur NTB Nomor 84 Tahun 2022 tentang Desa Tangguh Bencana (Destana).

Program Karang Tangguh sendiri digagas oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan dijalankan bersama Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, secara resmi menandatangani peresmian kerja sama program ini di sela-sela kegiatan.

“Program ini kami rancang untuk memperkuat daya lenting masyarakat desa terhadap bencana, khususnya dengan membangun ketahanan pangan yang terintegrasi dengan adaptasi perubahan iklim,” jelas Indrayanto, Wakil Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, dalam paparannya di hadapan para peserta.

Ia menegaskan, penguatan kapasitas komunitas, kelompok rentan, dan kelembagaan desa menjadi fokus utama. “Selain itu, kami juga ingin mendorong pelibatan lebih besar dari jaringan Muhammadiyah di berbagai daerah agar menjadi bagian dari solusi berbasis komunitas,” imbuhnya.

Keterangan: Rahmawati Husein (kedua dari kanan), Ketua LLHPB PP Aisyiyah, didampingi LLHPB PDA Sumbawa dan LLHPB PWA NTB

Sementara itu, Ketua LLHPB PP Aisyiyah, Rahmawati Husein, menyoroti peran penting perempuan dalam membangun ketangguhan desa. “Kami akan fokus pada penanaman mangrove serta penguatan ketahanan pangan berbasis kelautan sebagai bentuk adaptasi komunitas terhadap perubahan iklim,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan aktif perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi justru sebagai penggerak utama perubahan. “Perempuan, melalui gerakan ‘Aisyiyah, bukan hanya menjadi penerima dampak, tapi juga aktor utama dalam membangun ketangguhan bersama masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga:  Kuliah Subuh di Atas Bukit

Rahmawati juga berharap agar program ini bisa tumbuh menjadi model yang dapat direplikasi secara mandiri di berbagai wilayah. “Kami berharap program ini menjadi percontohan yang bisa direplikasi secara mandiri di wilayah lain,” ujarnya mengakhiri sambutan.

Peluncuran Karang Tangguh ini juga menjadi bagian dari sosialisasi Rencana Kerja Tahunan Program Siap Siaga yang melibatkan berbagai mitra strategis, termasuk MDMC dan LLHPB.

Program SIAP SIAGA merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang bertujuan memperkuat sistem kelembagaan pengelolaan risiko bencana, khususnya di tingkat provinsi dan kabupaten.

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 70 peserta dari berbagai unsur, mulai dari BNPB, Kedutaan Besar Australia, Siap Siaga Nasional, hingga organisasi perangkat daerah Provinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa, seperti BPBD, Bappeda, Dinas PMD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas P3AP2KB, Diskominfo, dan unsur masyarakat sipil seperti Forum PRB dan Forum Perguruan Tinggi PB.

Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, masyarakat sipil, dan mitra pembangunan, Karang Tangguh diharapkan menjadi jawaban atas tantangan iklim hari ini—dimulai dari desa, oleh warga desa, dan untuk keberlanjutan hidup bersama. (#)

Baca Juga:  Aisyiyah Serukan Gerakan Sampah Tuntas: Saatnya Mengelola, Bukan Sekadar Membuang

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni