Feature

Saat Simulasi Mitigasi Bencana di Wonorejo Mendadak Diuji Angin Kencang

53
×

Saat Simulasi Mitigasi Bencana di Wonorejo Mendadak Diuji Angin Kencang

Sebarkan artikel ini
Ratusan siswa KB, TK, dan MI Muhammadiyah Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, mengikuti pelatihan mitigasi bencana yang dipandu Amarnia dan M. Yusuf Hidayatullah dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Lumajang pada Rabu (4/3/2026). (Tagar.co/Ferdi Irwansyah)

Pelatihan mitigasi bencana di KB, TK, dan MI Muhammadiyah Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, berubah menegangkan ketika angin kencang tiba-tiba datang dan merobohkan banner kegiatan.

Tagar.co – Suasana pelatihan mitigasi bencana di lingkungan KB, TK, dan MI Muhammadiyah Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, mendadak berubah menegangkan pada Rabu (4/3/2026).

Saat materi keselamatan tengah disampaikan, angin kencang tiba-tiba datang dan membuat simulasi yang semula bersifat teoritis berubah menjadi pengalaman nyata bagi ratusan siswa.

Baca juga:  Cahaya Ramadan di Masjid Al-Asy’ari Wonorejo

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu menghadirkan tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Lumajang. Dua narasumber, Amarnia dan M. Yusuf Hidayatullah, memberikan edukasi kepada para siswa tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana sejak usia dini.

Angin Kencang Berembus Mendadak

Ratusan anak dari jenjang KB, TK, hingga MI tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendengarkan penjelasan tentang cara menyelamatkan diri, mengenali tanda bahaya, serta langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Namun di tengah pemaparan materi, cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah. Angin kencang berembus mendadak, menyapu area aula dan halaman sekolah. Suasana yang semula tertib seketika berubah riuh.

Baca Juga:  Kuliah Subuh di Atas Bukit

Sebagian anak terkejut dan spontan berteriak, “Bencana angin! Ada bencana angin!” Teriakan mereka bercampur dengan kegaduhan kecil ketika embusan angin cukup kuat hingga merobohkan banner kegiatan yang terpasang di depan area acara.

Pak Hadir, salah satu panitia keamanan di lokasi, mengaku kejadian tersebut di luar perkiraan panitia.

“Jujur, ini di luar prediksi kami semua. Baru kali ini terjadi angin kencang secara tiba-tiba saat kegiatan berlangsung. Kami semua sempat terkejut, tetapi syukurlah anak-anak langsung bereaksi meski suasana sempat riuh,” ujarnya.

Ratusan siswa KB, TK, dan MI Muhammadiyah Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, mengikuti pelatihan mitigasi bencana yang dipandu Amarnia dan M. Yusuf Hidayatullah dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Lumajang pada Rabu (4/3/2026). (Tagar.co/Ferdi Irwansyah)

Cara Menghadapi Kondisi Darurat

Situasi itu dengan cepat ditangani oleh tim MDMC. Mereka menenangkan para siswa sekaligus memanfaatkan kejadian tersebut sebagai contoh langsung bagaimana bersikap saat menghadapi kondisi darurat.

Para narasumber kemudian menjelaskan cara melindungi diri ketika terjadi angin kencang atau ada benda yang berpotensi jatuh. Anak-anak diarahkan untuk menjauh dari benda yang tidak stabil dan tetap berada di tempat yang aman.

Momen tak terduga itu justru menjadikan pelatihan terasa lebih nyata. Simulasi mitigasi yang semula berupa teori berubah menjadi pengalaman langsung yang memberi pelajaran berharga bagi para siswa.

Baca Juga:  Gereja Mormon Percaya Kejujuran Muhammadiyah

Peristiwa kecil di Wonorejo ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak sekadar materi di ruang kelas atau simulasi yang berjalan sesuai skenario. Bencana bisa datang kapan saja dan dalam situasi yang tidak terduga.

Karena itu, pendidikan kesiapsiagaan sejak dini menjadi penting. Dengan pengetahuan yang cukup dan latihan yang berulang, anak-anak diharapkan mampu tetap tenang dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Meski hanya berupa angin kencang dan banner yang roboh, kejadian tersebut berhasil mengubah pelajaran teori menjadi pengalaman nyata bagi para siswa KB, TK, dan MI Muhammadiyah Wonorejo. (#)

Jurnalis Ferdi Irwansyah | Penyunting Mohammad Nurfatoni