
Menjelang Ramadan, Kajian Ahad Pagi Jannaty PCM Menganti mengajak jemaah meneguhkan iman dan merawat amal kebersamaan sebagai bekal menjalani kehidupan sehari-hari.
Tagar.co — Pimpinan Cabang Muhammadiyah Menganti kembali menggelar Kajian Ahad Pagi Jannaty, Ahad (8/2/2026). Kajian yang diikuti jemaah dari berbagai ranting ini menghadirkan Ustaz Tajun Nasher, Lc., Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, dengan pembahasan bertema “Ramadan: Momentum Tajdid Iman dan Amal Jamai”.
Baca juga: Salat sebagai Energi Perubahan Sosial, Pesan Isra Mikraj dari Menganti
Dalam suasana yang tenang dan khidmat, kajian berjalan sebagai ruang penguatan keimanan sekaligus penyegaran pemahaman keislaman. Tema Ramadan dipilih sebagai bahan refleksi, mengingat bulan suci tersebut selalu menjadi fase penting dalam perjalanan spiritual umat Islam.
Ustaz Tajun menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan momentum tajdid—pembaruan iman dan orientasi hidup.
“Ramadan adalah kesempatan Allah Swt. untuk membersihkan hati, memperkuat iman, dan menaikkan kualitas amal, baik secara personal maupun secara berjemaah,” ujarnya.
Ia kemudian menggarisbawahi keutamaan majelis ilmu sebagai salah satu sarana utama penguatan iman. Mengutip hadis Nabi Saw., Ustaz Tajun menjelaskan bahwa orang-orang yang berkumpul di rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan diliputi ketenangan, rahmat, serta dinaungi para malaikat. Majelis ilmu, menurutnya, bukan sekadar forum belajar, tetapi juga ruang turunnya keberkahan.
Dalam konteks Ramadan, Al-Qur’an mendapat perhatian khusus. Bulan puasa disebut sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, kalamullah yang menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Ustaz Tajun mengingatkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya pada aspek membaca, tetapi perlu ditumbuhkan dalam lima dimensi: tilawah, tahfiz, tafsir, takdib (pengamalan dalam akhlak), dan tablig.
“Al-Qur’an harus hidup dalam perilaku kita. Ia bukan hanya dibaca, tetapi membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak,” tegasnya.
Beranjak pada pembahasan puasa, Ustaz Tajun menjelaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat erat dengan keimanan dan keikhlasan. Menahan lapar dan dahaga sepanjang hari hanya mungkin dilakukan oleh orang yang beriman, karena iman bersifat batiniah dan tidak kasatmata. Puasa, karena itu, menjadi bukti nyata hubungan hamba dengan Tuhannya.
Ia juga memaparkan ketentuan dasar puasa, mulai dari niat sebelum terbit fajar—yang dalam Muhammadiyah cukup di dalam hati—hingga waktu pelaksanaan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Imsak, ditegaskan, hanyalah tanda persiapan, bukan batas akhir makan dan minum.
Kajian ini turut mengulas keringanan (uzur) dalam puasa sebagai wujud Islam yang penuh kemudahan. Orang sakit, musafir, perempuan haid dan nifas, diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Sementara bagi lansia yang sangat lemah atau penderita sakit menahun yang kecil kemungkinan sembuh, kewajiban puasa diganti dengan fidiah.
Terkait perempuan hamil dan menyusui, Ustaz Tajun menyampaikan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama—antara kewajiban qadha atau fidiah—dengan penekanan bahwa keselamatan diri dan anak tetap menjadi pertimbangan utama.
Menutup kajian, Ustaz Tajun mengajak jemaah menjadikan Ramadhan sebagai sarana evaluasi dan perbaikan diri secara berkelanjutan. Puasa Ramadhan, menurutnya, adalah tolok ukur ketakwaan, yang nilainya tidak hanya tampak selama sebulan, tetapi tercermin dalam konsistensi iman dan amal setelahnya.
“Yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan kesungguhan menjalankan ibadah sesuai kemampuan. Dari situlah Ramadan menjadi energi perubahan, bukan sekadar peristiwa tahunan,” ujarnya. (#)
Jurnalis Muhammad Zuhair Ujab | Penyunting Mohammad Nurfatoni






