Feature

Jangan Kehilangan Angka Satu: Makna Iman di Balik Deretan Nol di Pariwara Pamitan Smamsatu

71
×

Jangan Kehilangan Angka Satu: Makna Iman di Balik Deretan Nol di Pariwara Pamitan Smamsatu

Sebarkan artikel ini
Suhadi Fadjaray di acara Pariwara Pamitan Smamsatu (Tagar.co/M. Ali Safa’at)

Dengan analogi uang dan angka, Suhadi Fadjaray menggugah lulusan Smamsatu Gresik untuk tidak kehilangan yang paling utama: iman.

Tagar.co – “Apapun yang terjadi, tetap beriman.” Kalimat sederhana tapi penuh kekuatan itu menggema di Graha Kartini Ballroom, Gresik, Kamis (22/5/2025). Di hadapan para siswa kelas XII dan wali santri SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu), motivator Suhadi Fadjaray menyampaikan pesan kebajikan yang menggetarkan hati dalam momen perpisahan bertajuk Pariwara Pamitan.

“Pagi ini saya diberi amanah untuk memberi inspirasi kecil kepada para wali santri dan anak-anak semuanya. Mudah-mudahan hidup kalian semuanya nanti itu berkaitan dengan Allah semuanya,” ucapnya membuka dengan teduh.

Baca juga: Bikin Air Mata Meleleh, Pidato Dhagit di Pariwara Pamitan Smamsatu

Mengusung tema “Tajam Berpikir, Teduh di Hati, Tangguh dalam Perilaku”, Suhadi memilih memulai dari fondasi spiritualitas: keteduhan hati. “Karena saya menginginkan hati kita semuanya itu nanti menjadi qalbun salim, hati yang lurus, hati yang selamat, dan hati yang bisa kembali kepada Allah dalam kondisi tenang—rida dan diridai,” ucapnya penuh penghayatan.

Menurutnya, hati yang teduh merupakan sumber kecerdasan yang hakiki. “Orang-orang yang hatinya tidak tenang biasanya mikirnya grusa-grusu, dan orang-orang yang mikirnya grusa-grusu, perilakunya juga grudak-gruduk,” katanya, mengundang senyum hadirin.

Ia lalu merujuk ayat Al-Qur’an dalam surah Al-‘Ashr, bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal saleh. “Semuanya akan merugi, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada iman dan di tangannya ada amal saleh.”

Dengan gaya komunikatif khasnya, Suhadi menyapa wali santri dan siswa dengan pertanyaan reflektif, “Siapa yang minat masuk surga bersama anak-anaknya?” Hampir seluruh hadirin mengangkat tangan. Lalu ia beralih kepada siswa, “Siapa yang ikhlas, rida, kalau ibu bapakmu nanti bisa masuk surga bersamamu?” Anak-anak berdiri serempak, disambut senyum bangga para orang tua.

Baca Juga:  Santunan Anak Yatim di Bungah Tutup Rangkaian Ramadan Berbagi IPM MBS Madinatul Ilmi Smamsatu

Namun ia juga menyentuh sisi realitas relasi keluarga. “Siapa yang pernah uring-uringan sama orang tuanya?” tanyanya, sambil menghitung jumlah siswa yang berdiri. Lalu bertanya lebih spesifik, “Siapa yang lebih sering uring-uringan sama kalian: Ayah atau ibu?” Serentak para siswa menjawab, “Ibu…” Gelak hadirin pun pecah.

Siswa yang merespon pertanyaan pemateri (Tagar.co/M. Ali Safa’at)

Analogi Uang: Ukhuwah dan Nilai Tertinggi

Salah satu bagian yang paling menyentuh dan membekas adalah saat Suhadi mengangkat selembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah.

“Bu, ini uang pecahan berapa?” tanyanya sambil memperlihatkan lembar merah itu lewat slide kepada para siswa.

“Seratus ribu!” jawab mereka.

“Ini adalah pecahan tertinggi di Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi dari seratus ribu,” jelas Suhadi. “Dan coba lihat siapa gambarnya? Pak Karno dan Pak Hatta. Berdua. Ini satu-satunya uang yang gambarnya berjemaah.”

Ia lalu menjelaskan filosofi di balik itu. “Uang paling tinggi nilainya justru yang berjamaah. Sukarno dan Hatta berdampingan, memakai jas, berdasi, dan berkopiah. Simbol kehormatan dan persatuan.”

Kemudian ia membandingkan dengan pecahan seribu rupiah. “Yang ini siapa? Pattimura. Sendirian. Berewok, bawa golok.”

Gelak tawa pun terdengar. Namun Suhadi melanjutkan dengan pesan serius.

“Saya mendefinisikan ini: seratus ribu adalah simbol orang-orang yang rezekinya lapang. Seribu, simbol rezeki yang sempit. Dan siapa yang lebih pantas masuk masjid? Yang pakai kopiah atau yang bawa golok?” tanyanya.

“Pakai kopiah!” jawab siswa serempak.

“Semoga kalau kalian nanti lulus dan bekerja, kalian datang ke masjid dengan uang yang pakai kopiah,” doanya. Lalu ia menegaskan bahwa rezeki yang lapang adalah nikmat, tapi iman tetap harus menjadi landasan utama. “Kaya dan miskin itu ujian. Tapi pengalaman saya, diuji kaya lebih enak. Diuji miskin itu loro kabeh awak.”

Baca Juga:  Siswi Kelas X Smamsatu Ikuti PKDA, Fokus Ilmu dan Akhlak
Praktik menyentuh pundak teman (Tagar.co/M. Ali Safa’at)

Deretan Nol dan Nilai Sejati Iman

Setelah membahas uang, Suhadi beralih ke tampilan slide berisi angka-angka nol. Ia memperlihatkan deretan panjang angka nol kepada para siswa.

“Lihat anak-anakku, ini nol semua. Ada sembilan nol. Nilainya?”

“Satu miliar,” jawab mereka.

“Saya tambah satu nol lagi, jadi berapa?”

“Sepuluh miliar.”

“Satu nol lagi?”

“Seratus miliar.”

“Nol-nol ini,” lanjut Suhadi, “melambangkan semua prestasi kalian: lulus SMA, kuliah S1, lanjut S2, S3, jadi direktur, jadi CEO, semua itu hanya nol. Tambah nol, tambah panjang, tambah besar.”

Namun ia lalu menghapus angka satu di depan barisan nol itu.

“Kalau angka satunya saya ambil, berapa nilainya?”

“Nol!” jawab mereka serempak.

“Angka satu itu adalah iman. Kalau tidak ada iman, semua prestasi itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Mau jadi apa pun, tanpa iman, kosong.”

Suhadi menyampaikan pesan kuat: “Apapun kegiatan kalian nanti, profesi kalian, tetap beriman. Jangan sampai kehilangan iman. Karena kehilangan iman berarti kehilangan seluruh prestasi kita.”

Ia menegaskan, “Alhamdulillah, SMA Muhammadiyah 1 Gresik ini insyaallah meluluskan 100 persen generasi yang beriman.” Pernyataan itu disambut tepuk tangan riuh dari para hadirin.

Para guru pun ikut memekikkan Allahuakbar (Tagar.co/M. Ali Safa’at)

Gerakan Simbolik: Mengikat Janji Iman Lewat Tepukan di Pundak

Usai menyampaikan pesan-pesan spiritual dan motivasi yang menggugah, Suhadi Fadjaray membei pesan dengan sebuah simbol yang sederhana namun bermakna dalam. Ia mengajak seluruh hadirin—para siswa, guru, dan wali santri—untuk berdiri dan melakukan gerakan bersama.

“Angkat tangan kanan kalian, letakkan di pundak teman kalian yang ada di sebelah kanan,” instruksinya terdengar hangat namun tegas.

Baca Juga:  Belajar Lintas Negara: Murid ICO Smamsatu Rasakan Kelas Digital dan Budaya Sekolah Malaysia

Semua peserta serempak mengikuti. Aula Graha Kartini Ballroom mendadak hening. Tangan-tangan menyentuh pundak dengan takzim, sebagai simbol dukungan dan persaudaraan.

Suhadi memandu, “Ucapkan bersama saya: Apapun yang terjadi, tetap beriman. Ojok ndablek-ndablek.

Suara ratusan siswa membahana, mengikuti lantunan ucapan itu. Bukan sekadar kalimat, tapi ikrar bersama.

Kemudian ia meminta semua bergeser, tangan kiri diletakkan di pundak kiri teman di samping. Ia lanjutkan, “Sekarang bilang: Sampeyan berimano. Ojok nonton-nonton tok. Ojok jarkoni. Apapun yang terjadi, tetap beriman.

Tawa kecil sempat terdengar karena ungkapan “jarkoni”—iso ngajar ora iso nglakoni—yang akrab dan jenaka, tapi menyentil. Namun suasana kembali hening dalam kekhusyukan.

Suhadi lalu mengajak hadirin melakukan pekikan spiritual. “Sekarang mari kita takbir tiga kali, sekuat hati kita!”

Teriakan takbir pun menggema, penuh semangat:

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!”

Aula berguncang oleh gema suara yang melambung ke langit-langit, namun lebih dalam lagi—bergetar di hati setiap yang hadir.

Usai pekikan takbir, Suhadi kembali mengingatkan dengan suara berat dan perlahan, “Jangan sampai kehilangan angka satu. Karena angka satu itu iman. Kalau satu itu hilang, semua nol tidak akan berarti.”

Ia lalu menyampaikan hasil riset: “80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan hatinya. Hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otaknya.”

“Ini kabar baik bagi kalian yang mungkin merasa tidak terlalu cerdas, termasuk saya,” ujarnya merendah, mengundang tawa hadirin.

Karena banyak orang-orang yang kadang-kadang tidak cocok pilihan cita-citanya. Maunya ITS perkapalan, ternyata Allah takdirkan untuk menjadi yang jauh yang baik yakni pemimpin ‘kapal’ rumah sakit Muhammadiyah. (#)

Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni