Feature

Inovasi Gemahri dan Melisa Ceria SD Islam Sabilul Khoir

44
×

Inovasi Gemahri dan Melisa Ceria SD Islam Sabilul Khoir

Sebarkan artikel ini
SD Islam Sabilul Khoir di Kota Batu sukses membangun karakter siswa melalui inovasi Gemahri dan Melisa Ceria demi mewujudkan generasi Qurani yang peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Kegiatan Melisa Ceria (Melihat sampah ambil buang pada tempatnya) di SD Islam Sabilul Khoir Kota Batu. (Tagar.co/Sigit Satria)

SD Islam Sabilul Khoir di Kota Batu sukses membangun karakter siswa melalui inovasi Gemahri dan Melisa Ceria demi mewujudkan generasi Qurani yang peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Tagar.co — Udara sejuk Kota Batu menyelimuti gedung SD Islam Sabilul Khoir saat jarum jam menunjukkan waktu masuk kelas. Namun, ada yang berbeda di sekolah berbasis Al-Qur’an ini. Para siswa tidak hanya datang membawa tas berisi buku, tetapi juga membawa kesadaran tinggi terhadap kebersihan lingkungan.

Sekolah yang memiliki program unggulan Tahfizul Qur’an ini terus memperkuat ekosistem pendidikannya. Mereka sadar, capaian akademik saja tidak cukup. Generasi masa depan harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh dan kepekaan sosial yang tinggi. Oleh karena itu, sekolah meluncurkan dua inovasi berkelanjutan yang saling bertautan: Melisa Ceria dan Gemahri.

Inovasi pertama bertajuk Melisa Ceria, sebuah akronim dari Mari Lihat Sampah Segera Ambil, Cerdas, Ramah Lingkungan, dan Aktif. Program ini lahir sebagai jawaban atas tantangan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.

Inovator Melisa Ceria, Tania Diniatsani Savitri, S.Pd., menjelaskan, melalui Melisa Ceria, para guru membiasakan siswa memiliki kepekaan tajam terhadap lingkungan sekitar. “Prinsipnya sederhana namun mendalam: setiap kali mata melihat sampah, tangan harus segera bergerak mengambil dan membuangnya ke tempat yang tepat,” terangnya.

Baca Juga:  Sedekah Oksigen dan Arah Baru Kesalehan

Pihak sekolah mengintegrasikan pembiasaan ini dalam aktivitas harian. Mulai dari ruang kelas hingga sudut-sudut kantin. Nilai religius menjadi ruh utama dalam gerakan ini. Guru senantiasa mengingatkan para siswa pada hadis Rasulullah SAW, “Ath-thahuru syathrul iman” yang artinya, kebersihan adalah sebagian dari iman.

“Dengan lingkungan yang bersih dan rapi, suasana belajar menjadi lebih nyaman, sehat, dan kondusif,” ungkap Tania.

Dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, lanjut Tania, SD Islam Sabilul Khoir berharap tumbuh pola perilaku terstruktur yang mampu memberikan dampak besar bagi masa depan siswa dan kelestarian bumi.

Baca Juga: Cilik-Cilik Peduli Lingkungan, Gerakan Hijau Bocah TK Aisyiyah Bebekan

Mendidik dengan Sentuhan Hati dan Keteladanan

Jika Melisa Ceria menyasar kebersihan fisik, maka inovasi Gemahri atau Gerakan Mendidik dengan Hati hadir untuk menyentuh relung jiwa. Di tengah gempuran era digital yang kian kompleks, sekolah memandang perlunya penguatan karakter melalui internalisasi nilai-nilai keislaman dan ilmu umum.

Inovator Gemahri, Wiwid Hidayati, S.Pd.I., mengungkap, “Gemahri menekankan, sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan ruang strategis pembentukan moral.”

Baca Juga:  Cilik-Cilik Peduli Lingkungan, Gerakan Hijau Bocah TK Aisyiyah Bebekan

Program Gemahri berdiri tegak di atas empat pilar utama yang disebut ASAH: Amanah, Sabar, Asih, dan Hidayah. Dalam praktik sehari-hari, guru memegang peranan vital sebagai teladan utama. Mereka tidak hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai ASAH dalam setiap interaksi dengan siswa.

“Kami menggunakan pendekatan mendidik dengan sentuhan hati. Kami membimbing langkah siswa dengan ketulusan dan mengarahkan mereka menuju karakter mulia yang diridhai Allah SWT,” jelas Wiwid Hidayati.

Melalui Gemahri, proses belajar tidak lagi terasa kaku, melainkan menjadi perjalanan spiritual dan emosional yang hangat bagi anak didik.

Baca Juga: Mobil Terbang RBC Tanamkan Literasi dan Edukasi Lingkungan sejak Dini di TK Cahaya Permata

SD Islam Sabilul Khoir di Kota Batu sukses membangun karakter siswa melalui inovasi Gemahri dan Melisa Ceria demi mewujudkan generasi Qurani yang peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Bimbingan Teknis Inovasi Gemahri. (Tagar.co/Sigit Satria)

Sinergi Menuju Generasi Qurani Unggul

Implementasi Gemahri berlangsung secara sistematis dan terukur. Wiwid dan tim inovasi terlebih dahulu merumuskan serta mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kultur unik sekolah. Langkah ini kemudian berlanjut dengan sesi in house training untuk menyamakan visi seluruh pendidik. Setelah itu, program berjalan secara bertahap dengan pendampingan, pemantauan, serta evaluasi rutin oleh guru kelas.

Baca Juga:  Sedekah Oksigen dan Arah Baru Kesalehan

Sinergi antara Melisa Ceria dan Gemahri menciptakan harmoni di SD Islam Sabilul Khoir. Sekolah kini bukan sekadar bangunan fisik tempat belajar, melainkan laboratorium karakter yang hidup. Dukungan penuh dari guru, siswa, hingga orang tua menjadi kunci utama mengapa inovasi ini terus berkelanjutan.

Wiwid dan segenap pihak sekolah tetap optimis, langkah-langkah kecil ini akan mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, ramah, dan berkarakter. Tujuan akhirnya jelas: mencetak generasi Qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mencintai lingkungan dan memiliki akhlakul karimah yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. (#)

Jurnalis M. Ilham Penyunting Sayyidah Nuriyah