Opini

Idulfitri: Momentum Silaturahmi dan Rekonsiliasi

18
×

Idulfitri: Momentum Silaturahmi dan Rekonsiliasi

Sebarkan artikel ini
Sapto Suhendro

Idulfitri adalah momen suci untuk membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan membuka ruang rekonsiliasi. Saatnya kembali ke fitrah, saling memaafkan, dan membangun harmoni dalam kebersamaan.

Oleh Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd; Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Mudiknya Lebaran di mana-mana,
pulang ke kampung amatlah bermakna.
meskipun jauh ditempuh juga,
jangan paksakan diri.

Makanlah ketupat rasanya nikmat,
bermaaf-maafan, bersihkan dosa.
jangan lupakan yang tidak mampu,
agar semua turut gembira.

Taqabbalallahuminna waminkum,
siamana wa siamakum.
taqabbalalahuminawaminkum,
terimalah puasa kami.
sucikanlah lahir dan batin.

Penggalan lirik lagu Taqabalallahuminawaminkum yang dipopulerkan oleh grup musik legendaris Bimbo ini mungkin tak asing di telinga kita. Lagu tersebut menjadi salah satu penanda suasana Lebaran, kerap terdengar di radio dan televisi, terutama di masa kejayaan Bimbo yang terbentuk sejak 1967 dan telah merilis berbagai album religi, seperti Wudu (1991), Taqabalallahuminawaminkum (2003), dan Qasidah (2007).

Ucapan Taqabalallahuminawaminkum menjadi tradisi saat Idulfitri. Ucapan ini bermakna saling mendoakan agar Allah menerima amal ibadah yang dilakukan selama Ramadan. Di tengah gegap gempita tradisi mudik yang menghiasi berbagai media, masyarakat Indonesia menyambut hari kemenangan ini dengan penuh sukacita, menikmati hidangan khas seperti ketupat, lontong sayur, dan opor ayam yang tersaji di hampir setiap rumah.

Baca Juga:  Idulfitri, Kelas Terbuka Pengajaran Nilai Akhlak

Baca juga: Kemenangan Sejati: Menjaga Ketakwaan setelah Ramadan, Khotbah Idulfitri

Namun, Lebaran bukan hanya tentang kemeriahan. Di balik kegembiraan, ada nilai luhur yang perlu dijaga: berbagi dengan sesama, terutama dengan mereka yang kurang mampu. Berbagi rezeki, saling mengunjungi, serta saling memaafkan atas segala kesalahan—baik yang disengaja maupun tidak—menjadi esensi dari Idulfitri yang sejati.

Idulfitri adalah momen merayakan kemenangan setelah sebulan penuh beribadah kepada Allah Swt. Kita mengisi Ramadan dengan salat fardu, salat sunah, tarawih, membayar zakat, menunaikan infak dan sedekah, serta berlomba membaca Al-Qur’an. Setelah menjalani ibadah vertikal ini, tibalah saatnya di bulan Syawal untuk memperkuat hubungan horizontal kita dengan sesama manusia.

Silaturahmi adalah jembatan untuk memperbaiki hubungan tersebut. Bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengunjungi sanak saudara, mempererat hubungan suami-istri, meminta maaf kepada orang tua, menyapa tetangga se-RT dan RW, hingga menyelenggarakan halal bihalal bersama rekan kerja atau keluarga besar. Semua itu menjadi upaya nyata memperkuat tali silaturahmi dan mengukuhkan semangat saling memaafkan.

Baca Juga:  Kue Lebaran Tersaji di Kelas, Momen Indah Halalbihalal di TK  Handayani

Momen Rekonsiliasi

Dalam konteks yang lebih luas, Idulfitri juga merupakan momentum penting untuk melakukan rekonsiliasi. Dalam bahasa Yunani, katallaso berarti “didamaikan kembali”, “menghapus permusuhan”, atau “meniadakan kesalahan”. Mengutip buku Manajemen Konflik Sumber Daya Alam karya M. Rawa El Amady, rekonsiliasi adalah proses transformasi dari konflik menuju perdamaian.

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Maka, wajar jika kesalahan selalu menyertai hidup kita. Namun, yang terpenting adalah kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar—yakni dengan bertaubat. Rasulullah Saw. bersabda:

“Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (H,R. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi)

Allah Swt. mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Jika kesalahan dilakukan kepada Allah, maka bertobatlah kepada-Nya. Namun, jika kesalahan dilakukan kepada sesama manusia, maka rekonsiliasi dilakukan dengan mengakui kesalahan, meminta maaf, dan tidak mengulanginya. Inilah makna sejati dari rekonsiliasi di Hari Raya Idulfitri.

Rekonsiliasi juga relevan dalam konteks sosial dan kepemimpinan. Seorang kepala keluarga, ketua organisasi, pemimpin lembaga, hingga kepala pemerintahan dari tingkat RT, RW, kepala desa, bupati, gubernur, hingga presiden—semuanya adalah manusia biasa yang tak luput dari salah. Maka, Idulfitri adalah saat yang tepat untuk membuka ruang maaf, memperbaiki hubungan dengan pihak yang berbeda pandangan, termasuk perbedaan pilihan politik.

Baca Juga:  Hari Pertama Lebaran di Kampung, Cerita Lama yang Tidak Pernah Kehilangan Rasa

Dengan rekonsiliasi, setiap pemimpin dapat menjalankan amanah dengan hati lapang dan semangat kebersamaan. Sebab, sukses besar adalah akumulasi dari sukses-sukses kecil yang dijalani bersama. Ketika seluruh komponen masyarakat saling memahami dan memaafkan, maka jalan menuju keberhasilan akan lebih mudah ditempuh.

Semoga Idulfitri 1446 ini menjadi momen penuh kebahagiaan yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Mari kita jadikan hari kemenangan ini sebagai titik awal mempererat silaturahmi dan membuka pintu rekonsiliasi demi kehidupan yang lebih damai, harmonis, dan penuh keberkahan. Amin. (#)

Pemyunting Mohamamd Nurfatoni