
Pembinaan AUM Driyorejo memperkuat identitas 66 pendidik melalui internalisasi nilai Islam berkemajuan. Ada apresiasi khusus bagi peserta aktif guna memotivasi peningkatan kualitas pendidikan.
Tagar.co — Lantunan ayat suci Al-Qur’an memecah keheningan pagi di Masjid Nur Hidayah, Kota Baru Driyorejo, Gresik, Jawa Timur. Sebanyak 66 pejuang pendidikan berkumpul di kompleks SD Muhammadiyah 1 Driyorejo (SD Mudri) pada Sabtu, (10/1/2026). Mereka bukan sekadar duduk untuk menggugurkan kewajiban, melainkan sedang menajamkan “pedang” identitas sebagai pendidik di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Driyorejo.
Para peserta merupakan wajah-wajah penggerak dari lima Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah tersebut. Mulai dari KB-TK Aisyiyah 38 Driyorejo, ABA 45 Bambe, ABA 49 Mojosarirejo, SD Mudri, hingga SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo (Spemia). Di bawah arahan pembawa acara Alfionita Kusumawardhani, S.Si., S.Pd., suasana pembinaan yang biasanya kaku berubah menjadi hangat dan penuh antusiasme.
Drs. Alim Nur Shodiq, M.Pd.I., sang pemateri utama, tampil dengan gaya santai namun berisi. Ia menekankan, guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar daripada sekadar mentransfer ilmu pengetahuan. Menurutnya, seorang guru harus menjadi “pembeda” di tengah arus zaman yang kian dinamis.
“Guru Muhammadiyah tidak boleh sekadar mengajar. Ia harus hadir dengan kepribadian yang kuat, melayani sepenuh hati, dan memberikan manfaat yang luas bagi siswa serta masyarakat,” tegas Alim di awal materi. Pesan ini menjadi pemantik semangat para guru untuk meninjau kembali peran mereka di ruang kelas.
Baca Juga: Dua Dokter Cilik dan Mimpi Besar dari Ruang UKS SD Mudri
Delapan Nilai Guru Berkemajuan
Memasuki inti materi bertajuk “Menjadi Guru Pembeda dengan Nilai Keislaman,” Ustaz Alim—begitu jemaah akrab menyapanya—memaparkan delapan nilai utama yang wajib meresap ke dalam sanubari setiap pendidik. Nilai-nilai tersebut mencakup tauhid, kejujuran dan tanggung jawab, kesadaran diri (self-awareness), sikap terbuka dan responsif (open-minded), hingga semangat organisasi pembaharu.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari sikap eksklusif dan individualis. “Guru Muhammadiyah harus berkemajuan, unggul, dan ikhlas dalam setiap aktivitas,” imbuhnya. Delapan nilai ini merupakan fondasi yang membedakan kualitas pelayanan pendidikan di sekolah Muhammadiyah dengan lembaga pendidikan lainnya.
Diskusi pun memanas saat sesi tanya jawab berlangsung. Kepala Spemia, Muhammad Husen Al Asy’ari, S.Pd., melontarkan pertanyaan reflektif mengenai relevansi tradisi. “Apakah masih relevan kita menerapkan adab-adab kebiasaan tradisi pesantren tradisional di sekolah Islam modern?” tanyanya.
Alim menjawab dengan lugas, nilai-nilai tersebut tetap memiliki tempat di era modern, namun dengan catatan penting. “Kita harus bisa memilah mana tradisi yang relevan sesuai perkembangan keilmuan dan tradisi atau kebiasaan di Muhammadiyah,” jelasnya.
Jawaban ini menegaskan, Muhammadiyah tidak menutup mata pada tradisi, namun selalu melakukan filterisasi berbasis rasionalitas dan syariat.
Baca Juga: Push Up Bersama, Serunya LDKS IPM Driyorejo
Menembus Batas Doa dan Apresiasi
Pertanyaan yang tidak kalah emosional datang dari Rina Moeljana, staf SD Mudri. Ia menyentuh sisi kemanusiaan dan akidah terkait nilai tauhid. “Apakah dengan meyakini nilai tauhid, Allah akan menjawab doa kita untuk orang tua yang sudah meninggal namun berbeda agama?” tuturnya dengan nada penuh harap.
Menanggapi hal sensitif tersebut, Alim memberikan jawaban yang menyejukkan sekaligus tegas secara teologis. “Urusan doa sampai atau tidak, itu murni kehendak Allah. Namun, kita sebagai anak berkewajiban tetap mendoakan kedua orang tua meskipun telah meninggal dunia,” ungkapnya.
Menjelang akhir acara, suasana kian semarak. Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah berupa buku kepada dua peserta paling aktif yang mengajukan pertanyaan terbaik. Sorak sorai peserta lain mengiringi langkah para penanya saat menerima buah tangan tersebut.
Kepala SD Mudri, Teguh Abdillah, S.Pd., M.Pd., memastikan, kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda sekali jalan. Sebagai tuan rumah, ia berkomitmen menjaga konsistensi pembinaan. “Kami akan terus melaksanakan pembinaan serupa secara berkala agar kualitas pendidik Muhammadiyah meningkat seiring tantangan zaman,” ujarnya.
Teguh percaya, guru adalah wajah terdepan persyarikatan. Jika wajahnya berseri dengan ilmu dan karakter, maka pesan Islam berkemajuan akan lebih mudah membumi di hati para siswa. Melalui ruang silaturahmi ini, PCM Driyorejo optimis layanan pendidikan mereka akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat. (*)
Jurnalis Elisyah Susanty Penyunting Sayyidah Nuriyah












