
Guru tak malu belajar mengaji lagi huruf hijaiyah sampai mahir. Ini ikhtiar melahirkan generasi Qurani yang cerdas dan berakhlak mulia.
Tagar.co – Para guru melafalkan secara benar huruf-huruf hijaiyah sesuai makhrajnya. Pelatih memperlihatkan cara menempatkan bibir, lidah, dan bentuk mulut supaya sesuai bunyinya.
Sesekali tawa pecah saat ada peserta yang tertekuk lidahnya sehingga lafalnya terdengar lucu. Seperti melafalkan huruf-huruf yang mirip seperti kha, kho, ha. Paling susah melatih bunyi dhod. Ini pelafalan paling sulit.
Itulah suasana rapat kerja dan pelatihan makhrajul huruf di MI Muhammadiyah Tempeh Lor, Lumajang, Selasa (1/7/2025).
Mereka menggandeng tim pelatih tilawah Quran dari Metode Ummi. Metode pembelajaran Al-Qur’an ini menekankan bacaan tartil, pendekatan menyenangkan, dan penanaman nilai iman sejak dini.
Umi Fauzia Yuniarsih, Koordinator Metode Ummi untuk madrasah ini, berdiri di hadapan para guru.
Pelatihan berlangsung interaktif. Dengan sabar dia mengoreksi makhraj dan tajwid. Lalu menyimulasikan cara mengajar yang lebih ramah bagi anak-anak.
”Kalau salah dari guru, anak akan keliru sampai tua. Maka tugas kami memastikan para pendidik memulai dari niat yang lurus dan bacaan yang lurus pula,” katanya.
Karena itu guru mengajinya harus benar. Terus belajar dan tak perlu malu. Mereka sadar, pekerjaan mereka bukan sekadar mengajar huruf, tapi menyiram jiwa.
”Kami ingin setiap anak bukan hanya bisa membaca, tetapi juga mencintai Al-Qur’an,” ucap Umi. “Dan cinta itu tumbuh dari cara guru mengajarkannya dengan sabar, dengan ruh, dan dengan hati yang bening.”
Program kerja bersama Metode Ummi difokuskan pada tiga pilar utama: peningkatan standar bacaan guru, keterampilan menyampaikan materi dengan metode yang menggembirakan, serta keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak mengaji.
Tak hanya kurikulum yang dibenahi, tapi juga cara pandang. Demi melahirkan generasi Qur’ani yang tak hanya cerdas, tapi juga berakhlak mulia.
Kepala madrasah, Muhammad Ali, S.Pd.I, menegaskan, pendidikan di MI Muhammadiyah Tempeh Lor bukanlah sekadar soal nilai rapor.
”Kami ingin madrasah ini menjadi tempat anak tumbuh menjadi manusia utuh. Ilmunya tajam, akhlaknya lapang, dan imannya kokoh,” ujarnya lirih namun mantap. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












