
Di balik penilaian LLSMS, SD Muri menyisipkan satu keistimewaan: sambutan kuliner khas Giri yang menyentuh rasa. Dari polo pedem hingga gulai obos, para juri tak hanya diajak menilai, tetapi juga merasakan hangatnya tradisi dan kebersamaan dalam setiap sajian.
Tagar.co — Aroma rempah dan senyum hangat menyambut kedatangan tim juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) di SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Rabu (23/7/2025).
Di tengah tugas menilai aspek kebersihan, kenyamanan, dan kerindangan sekolah—serta kantin terhieginis dan toilet terbersih, para juri diajak sejenak mencicipi keramahan khas lokal melalui meja makan yang penuh sajian tradisional dari desa Giri.
Baca juga: Warna-warni Penyambutan Juri LLSMS di SD Muri Gresik: Dari Drumben hingga Batik Giri
Usai berkeliling area sekolah, tim juri dari Majelis Dikdasmen PNF dan Majelsi Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik—Mohammad Nurfatoni, Ernawati, dan Mardliyatul Faizun—disambut di ruang tamu guru. Di sana telah tersaji hidangan makan siang yang bukan sekadar pengisi perut, tetapi juga pengikat rasa dan cerita budaya.
Kuliner Giri, Hangatkan Suasana
Sebagai pembuka, disajikan dua minuman tradisional: kunyit asam dan pokak. Keduanya dibuat oleh tangan-tangan terampil ibu-ibu Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Muri. Hangat dan menyegarkan, minuman ini menjadi sapaan pertama yang menyamankan tenggorokan para tamu.
Di meja, camilan ringan tersaji rapi—polo pedem, kacang tanah rebus, pisang kukus, dan aneka umbi-umbian. Tak hanya mengundang selera, jajanan ini membawa kenangan akan masa kecil dan tradisi desa.
Namun yang paling menarik perhatian adalah hidangan utama: gule obos, kuliner warisan leluhur Giri. Makanan ini terdiri atas lontong, irisan daging sapi, dan obos—kerupuk yang diremas lalu disiram kuah gulai khas yang gurih dan kaya rempah.
“Ini kali pertama saya mencicipi gulai obos. Luar biasa rasanya, khas sekali,” ujar Mohammad Nurfatoni sambil tersenyum, menikmati sendok demi sendok kuah hangat di piringnya.

Cita Rasa yang Menyatukan
Lebih dari sekadar makan siang, momen ini menjadi medium silaturahim dan pelestarian budaya. Para guru, panitia, dan juri berbincang akrab di sela-sela suapan. Tampak jelas, nilai gotong royong antara sekolah dan orang tua membingkai keseluruhan sajian.
Kegiatan pun ditutup dengan suguhan pokak—minuman rempah hangat yang dipercaya menambah stamina. Wajah para juri menunjukkan kepuasan, bukan hanya karena rasa makanan, tetapi juga karena suasana yang tulus dan penuh makna.
SD Muri menunjukkan bahwa penyambutan bukan soal kemewahan, tetapi ketulusan dan penghargaan atas budaya sendiri. Dalam bingkai LLSMS, sekolah ini telah menyajikan nilai-nilai kesehatan, keramahan, dan kearifan lokal dalam satu piring yang utuh.
Jurnalis Nurul Ainia Rachmayuni












