
Usai para jurnalis mengemukakan gagasannya seputar pemberitaan setahun di Tagar.co, Pemred Sugeng Purwanto mengenalkan karakteristik tulisan feature.
Tagar.co — Suasana hangat menyelimuti ruang Qatar di lantai 9 Hotel Namira, Surabaya. Sejak pagi hingga menjelang zuhur, para jurnalis Tagar.co berkumpul untuk mencurahkan gagasan dalam acara peringatan setahun berdirinya media ini, pada Ahad (3/8/2025). Masing-masing jurnalis secara bergantian memaparkan gagasan mereka di hadapan rekan-rekan dan redaksi.
Sebagai penutup, Pemimpin Redaksi Tagar.co, Sugeng Purwanto, memberikan tanggapan atas beragam masukan yang jurnalis sampaikan. Suaranya mewakili para redaktur yang semuanya hadir sejak pagi. Ada Sugiran, Ichwan Arif, Sayyidah Nuriyah, Mohammad Nurfatoni, Darul Setiawan, dan Nely Izzatul Maimanah.
Sugeng awalnya menanggapi pertanyaan Hamzah, seorang jurnalis asal Surabaya yang menanyakan posisi editor sebagai “kasta tertinggi” dalam ruang redaksi.
Hamzah merasa bingung karena tulisannya yang sudah dia anggap baik, masih saja mengalami penyuntingan. Kebingungan Hamzah ini tampaknya mewakili para jurnalis lainnya.
Dalam kesempatan itu, Sugeng menjelaskan, penyuntingan ketat adalah bagian tak terpisahkan dari proses redaksi Tagar.co. “Nama penyunting tercantum (di bagian bawah naskah yang terbit. Kalau tulisannya jelek, nanti memalukan. Jadi, penyuntingan ketat untuk menghasilkan tulisan yang bagus,” tegas Sugeng.
Ia mengakui, terkadang hasil suntingan bisa mengejutkan penulis. Bahkan pernah ada naskah dari tokoh yang saat dia sunting, Sugeng langsung menambahkan data untuk melengkapinya. Pasalnya, kebetulan saat itu Sugeng berpengalaman menyunting buku terkait.

Ubah Berita Basi Jadi Karya Abadi
Sugeng juga menyoroti masalah berita yang sering “mengendap” atau basi karena jurnalis terlambat menulis. “Berita sepekan lalu, sudah basi, baru ditulis. Ada yang saya tolak sehingga jengkel,” kenangnya. L
Namun, ia juga menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi masalah ini. “Nah, bagaimana yang basi itu bisa terbaca? Kita olah jadi feature,” ungkapnya.
Ia mengambil contoh kisah seorang mualaf yang Kuswantoro, jurnalis dari Lumajang, tulis. Berita yang sudah agak lama itu Kuswantoro olah menjadi feature yang menarik, hingga akhirnya viral. “Bagaimana bertahan di desa yang banyak nonmuslimnya. Berita agak lama kalau difeaturekan jadi baik,” jelas Sugeng.
Selain itu, untuk berita baru, Sugeng menyarankan pendekatan softnews yang menonjolkan sisi kemanusiaan. “Cara penulisannya menarik. Kemanusiaannya ditampilkan,” katanya, sambil memberikan contoh liputan Halalbihalal PWM Jatim oleh Nadhirotul Mawaddah, jurnalis asal Menganti, Gresik, yang juga hadir pagi itu.
“Itu pengalaman luar biasa. Dikejar deadline, berita harus tayang hari itu juga. Seperti wartawan sesungguhnya,” tambahnya sambil tertawa. Jurnalis Tagar.co pun mampu bersaing dengan wartawan media lainnya di lapangan.
Sugeng kemudian mengapresiasi Nely Izzatul Maimanah, redaktur yang sudah banyak pengalaman liputan langsung, termasuk di Muktamar Solo. Alhasil, kini dia terpilih sebagai wartawan Suara Aisyiyah.
Jelajah Batas Jurnalisme Digital
Sugeng menekankan, media daring saat ini lebih fleksibel. “Media daring sekarang lebih enak. Tidak terpaku 5W1H. Apalagi liputan cepat. 4W saja cukup. Mengirim terpisah bersambung. Jadi, orangnya masih pidato, beritanya sudah keluar,” paparnya. Berita bersambung itu biasa ia temui di Detik.com.
Ia juga teringat contoh liputan langsung hingga larut malam. Seperti kegiatan Bikersmu oleh tim jurnalis Tagar.co Lumajang. Yakni Umi Fauziyah Yuniarsih, Kuswantoro, Rizal Mazaki, dan Suharyo. Sugiran, Redaktur asal Situbondo juga ikut meliput.
“Waktu itu sudah malam. Kalau terlalu malam, pada tidur, tidak ada yang baca. Kalau sudah berupa feature, tidak apa-apa terbit pagi. Lebih banyak yang baca,” jelasnya.
Sugeng menutup ulasannya dengan menekankan peran vital editor sebagai perwakilan pembaca. “Editor mewakili pembaca sehingga tahu cita rasa bahasa. Kalau pembaca tidak suka, editor juga tidak suka,” ujarnya.
Menurutnya, di era digital, tulisan yang bertele-tele harus jurnalis hindari. “Kalau bertele-tele, pasti tidak suka. Kalau bertele-tele, kami ringkas,” pungkasnya.
Ia menegaskan, dalam jurnalisme digital, gaya bahasa yang ringkas dan menceritakan seperlunya jauh lebih disukai, kecuali jika data yang tersaji memang banyak dan kompleks. Untuk itu, Tagar.co juga merancang Writing Academy untuk meningkatkan kualitas jurnalisme para jrunalisnya. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












