Feature

Enam Tahap Design Thinking dalam Kepemimpinan Pembelajaran STEM

28
×

Enam Tahap Design Thinking dalam Kepemimpinan Pembelajaran STEM

Sebarkan artikel ini
Kelompok siswa SDMM dalam kepemimpinan pembelajaran (Science, Technology, Engineering, Math) dan Design Thinking (Tagar.co/Istimewa)

Dari taman SDMM dan sosok Pak Bon, lahirlah pelajaran tentang empati, sains, dan kepemimpinan. Design Thinking dan STEM bukan sekadar metode, tapi cara murid belajar peduli—setetes demi setetes.

Tagar.co — Proyek menanam kacang hijau—kapas, biji, air, catatan tinggi batang setiap hari—sudah lama menjadi “ritual” di kelas-kelas dasar.

Namun bagi Ria Pusvita Sari, guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik yang akrab disapa Vita, praktik itu kerap berakhir sebagai drill learning: murid menjalankan instruksi, memahami urutan, tetapi kehilangan makna.

Mereka tahu daun tumbuh dari biji, tetapi tak pernah diajak bertanya untuk apa pengetahuan itu, dan siapa yang terdampak oleh pengetahuan mereka.

“Kita terlalu fokus pada hasil dan jadwal, tapi lupa bertanya: siapa yang benar-benar terdampak, dan bagaimana murid terhubung? Jika murid tak merasa punya ruang, mereka akan berakhir hanya menjadi penonton,” terang Vita yang selama lima bulan mengikuti program sertifikasi internasional STEM dari STEM.org Accredited Educational Experience, Amerika Serikat dan mendapat sertifikat STEM bernomor 35539762011 itu.

Dia menyampaikan hal itu dalam Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Kepemimpinan Pembelajaran STEM, yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik dengan dukungan penuh Pimpinan Daerah Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Gresik, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Sabtu (19/7/25).

Vita dan timnya pun memilih keluar dari pola lama dan mencoba pendekatan baru: pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Math) dan Design Thinking—yang tidak dimulai dari soal, tetapi dari rasa.

Titik Empati: Sebuah Video dan Keheningan

Semuanya dimulai dari sebuah video pendek. Dalam tayangan itu, terlihat seorang pria paruh baya menyeret selang panjang dan menyiram tanaman satu per satu di halaman sekolah. Tidak ada musik. Tidak ada suara latar. Hanya gerak lambat dan desiran air.

Dialah Pak Bon, petugas kebun sekolah.

Usai video diputar, kelas hening. Lalu beberapa suara pelan terdengar:

“Itu siapa, Bu?”
“Kok sendirian?”
“Itu Pak siapa?”

Baca Juga:  Teologi Kepemimpinan: Kepala Sekolah Tak Cukup Menjabat, Harus Meninggalkan Legasi

Banyak anak ternyata tidak mengenalnya, padahal setiap hari mereka melewati taman itu. “Itu momen aha. Mereka baru sadar bahwa taman itu tidak otomatis basah. Ada yang menyiramnya. Ada yang bekerja setiap hari, tanpa mereka perhatikan,” kata Vita.

Inilah tahap Empathize — anak-anak tidak diberi tahu apa masalahnya. Mereka yang merasakan dan menemukan sendiri.

“Kami tidak mulai dengan soal matematika atau IPA. Kami mulai dari perasaan. Dari rasa ingin tahu dan rasa kasihan. Itu membuat mereka terhubung secara emosional,” jelas Vita.

Ria Pusvita Sari dalam Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Kepemimpinan Pembelajaran STEM, yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik dengan dukungan penuh Pimpinan Daerah Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Gresik, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Sabtu (19/7/25).

Define dan Ledakan Ide: Dari Piket hingga Sensor

Setelah memahami situasi Pak Bon, anak-anak diajak merumuskan persoalan dalam tahap Define. Mereka memetakan: taman luas, satu orang menyiram, dan apa dampaknya jika Pak Bon tidak masuk.

Tahap berikutnya, Ideate, menjadi ruang lahirnya gagasan liar dan tak terduga. Ada yang menyarankan menambah petugas, ada yang ingin membuat jadwal piket siswa, dan ada pula yang menyarankan… mengganti tanaman hidup dengan tanaman plastik.

Namun satu ide mencuri perhatian: membuat sistem penyiraman otomatis berbasis sensor. Ide ini datang dari kelompok yang aktif di klub robotik.

“Kami membiarkan semua ide keluar, bahkan yang ngawur. Di situlah anak-anak merasa pikirannya dihargai. Lalu pelan-pelan kami bantu arahkan ke solusi yang feasible,” ujar Vita.

Prototype: Air, Sudut, dan Rasa Penasaran

Di tahap Prototype, barulah sains dan matematika masuk dengan alami. Anak-anak menggambar desain, mengukur panjang pipa, memperkirakan tekanan air, dan belajar tentang kemiringan toren.

“Kami tidak mulai dari rumus. Kami tunggu sampai mereka bertanya, ‘Bu, kenapa airnya nggak keluar?’ Nah, baru kami masuk dengan konsep debit, tekanan, dan gravitasi,” jelas Vita.

Uji coba dilakukan langsung di taman sekolah. Ada sistem yang berhasil menyiram banyak titik, ada pula yang hanya menyemprot dari empat lubang dari dua belas yang dirancang. Tapi justru kelompok yang gagal itulah yang paling reflektif.

Baca Juga:  SDMM, Kebanggaan Muhammadiyah Gresik yang Terus Menginspirasi

“Mereka tahu kenapa gagal, lalu memperbaiki sudut toren dan diameter pipa. Itu bukan kegagalan, tapi tumbuhnya pemahaman,” ujar Vita.

Tahap Test bukan hanya soal berhasil atau tidak. Tapi tentang keberanian untuk mencoba ulang, memahami kekurangan, dan memperbaiki desain.

Present dan Refleksi: Suara Anak-anak untuk Pak Bon

Tahap Present dilakukan di depan taman, bukan di dalam kelas. Setiap kelompok menjelaskan alat buatannya, tantangannya, dan… harapannya. Hampir semua siswa menyebut nama Pak Bon.

“Kami buat ini supaya Pak Bon nggak capek lagi,” ujar salah satu siswa.
“Kalau Pak Bon libur, tanamannya tetap disiram,” tambah yang lain.

Bagi Vita, ini adalah puncak dari pembelajaran yang tidak mungkin dicapai lewat proyek kacang hijau biasa. Di sinilah anak-anak belajar bukan hanya untuk tahu, tapi untuk peduli.

“Dulu mereka bahkan tidak tahu siapa yang nyiram tanaman. Sekarang mereka menyapa Pak Bon tiap pagi,” kata Vita dengan suara yang nyaris bergetar.

Peran Guru

Vita juga menekankan pentingnya peran guru dalam pembelajaran mendalam: bukan sebagai pembicara utama, tapi sebagai fasilitator yang mengupas makna.

“Fasilitator itu seperti GPS. Ia tidak menyetir, tapi memberi arah saat anak mulai bingung. Kita bantu mereka tidak kehilangan makna.”

Ia juga mengingatkan bahwa pembelajaran mendalam tidak selalu terukur lewat angka atau nilai. Tapi terasa dari perubahan sikap: dari anak yang diam menjadi penanya, dari penonton menjadi pemilik masalah.

“Salah satu anak datang ke saya dan bilang, ‘Bu, aku mau bantu orang lewat alat-alat yang aku buat nanti.’ Saya menangis di situ.”

Dalam refleksinya, Vita membedakan tiga pendekatan pembelajaran:

  • Disipliner
    Siswa mempelajari konsep dan keterampilan berdasarkan disiplin ilmunya masing-masing.

  • Multidisipliner
    Siswa mempelajari konsep dan keterampilan secara terpisah dalam setiap disiplin ilmu, tetapi berdasarkan tema umum.

  • Interdisipliner
    Siswa mempelajari konsep dan keterampilan dari dua atau lebih disiplin ilmu yang terkait secara erat untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan.

  • Transdisipliner
    Dengan menghadapi masalah dunia nyata, siswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan dari dua atau lebih disiplin ilmu.

Baca Juga:  Brighter Reform: 22 Tahun SDMM Menebar Kemanfaatan dan Kontribusi Global

Proyek STEM penyiraman ini, menurutnya, adalah contoh transdisipliner. Anak-anak belajar bukan hanya IPA dan Matematika, tapi juga etika, spiritualitas, kolaborasi, dan kontribusi sosial.

“Ini bukan cuma soal air dan sensor. Ini soal siapa kita di bumi ini. Kita ini siapa sih kalau bukan penjaga?”

Selain membimbing siswa, Vita menekankan bahwa guru dalam pembelajaran STEM perlu mengasah kepemimpinan pembelajaran (learning leadership). Bukan hanya memandu langkah teknis, tetapi juga memimpin proses pencarian makna dan menyulam arah perubahan budaya belajar di sekolah.

“Guru harus punya visi bukan sekadar menyampaikan materi, tapi memfasilitasi pencarian makna. STEM Learning Leadership itu bukan soal jago IPA, tapi soal membangun struktur pembelajaran yang menumbuhkan empati, kolaborasi, dan refleksi,” ujar Vita.

Ia menambahkan, kepemimpinan semacam ini hanya tumbuh jika guru mau keluar dari zona nyaman. Mau mendengarkan suara anak-anak. Mau mengubah peran dari pengajar menjadi penjelajah bersama.

“Kalau murid bingung dan kita langsung menjawab, kita mengambil hak belajar mereka. Tapi kalau kita beri waktu untuk bertanya, untuk mencari sendiri, di situlah kepemimpinan kita diuji: sabar, hadir, membimbing dari belakang,” katanya.

Konsep ini pula yang membuat pembelajaran STEM di SD Muhammadiyah Manyar bukan sekadar proyek sesaat, tetapi transformasi cara berpikir—bagi siswa, juga guru.

Kini, pelajaran sains di SD Muhammadiyah Manyar tak lagi hanya soal batang tumbuh dan daun membuka. Ia tumbuh dari empati dan rasa ingin tahu, menyatu dalam taman kecil yang perlahan mengajarkan mereka: bahwa menyiram tanaman bisa menjadi pelajaran tentang cinta, kerja sama, dan masa depan — yang mereka bentuk sendiri, setetes demi setetes. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni