Feature

Dr. Ernawati: Pendidikan Seksual Bukan Tabu tapi Hak Remaja

34
×

Dr. Ernawati: Pendidikan Seksual Bukan Tabu tapi Hak Remaja

Sebarkan artikel ini
Dr. Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kes dan Martin Christy Ranggani (Tagar.co/Istimewa)

Dalam podcast Bukit Cakra Paskamayan, Dr. Ernawati membongkar mitos seputar seksualitas remaja dan pentingnya pendidikan seksual sejak dini. Minim edukasi bisa berdampak besar bagi kesehatan dan masa depan remaja.

Tagar.co – Masih banyak remaja di Indonesia yang tumbuh tanpa bekal pengetahuan seksual yang memadai. Padahal, pendidikan seksual yang tepat sangat penting untuk membekali generasi muda agar mampu membuat keputusan yang sehat dan bertanggung jawab.

Hal ini menjadi pokok pembahasan dalam podcast Bukit Cakra Paskamayan bersama Dr. Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kes, dari Pusat Studi Kajian Eksakta dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gresik.

Dipandu oleh Martin Christy Ranggani sebagai moderator, diskusi yang brlangsung di Laboratorium Farmakologi UMG Jumat 18 Juli 2025 ini mengupas berbagai aspek penting seputar pendidikan seksual remaja.

Sejak awal, Bu Erna, sapaan akrabnya, menegaskan urgensi pendidikan seksual bagi pelajar dan remaja. “Pendidikan seksual membantu mereka mempersiapkan diri mengambil keputusan yang tepat soal hubungan dan kesehatan reproduksi. Ini juga bisa mengurangi stigma terhadap orientasi seksual dan identitas gender,” ujarnya.

Dampak Buruk Minimnya Pendidikan Seksual

Kurangnya edukasi seksual dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari kehamilan yang tidak diinginkan hingga infeksi penyakit menular seksual. Bu Erna menekankan, “Remaja sering tidak paham cara menjaga kesehatan reproduksi karena tidak tahu soal kontrasepsi maupun risiko penularan penyakit seksual.”

Sayangnya, pendidikan seksual masih dianggap tabu di banyak lingkungan. “Kultur dan nilai tradisional membuat seksualitas jadi topik yang dianggap tidak pantas, terutama untuk anak-anak dan remaja. Padahal, ketidaktahuan justru membuka risiko lebih besar,” jelasnya.

Risiko Informasi Keliru dan Peran Orang Tua

Ketika sekolah dan keluarga bungkam, remaja pun mencari informasi dari media sosial atau teman sebaya. Namun, menurut Bu Erna, ini berbahaya. “Informasi dari sumber yang tidak kredibel bisa sangat menyesatkan. Akibatnya, remaja memiliki persepsi keliru tentang hubungan dan tubuh mereka.”

Dalam konteks ini, peran orang tua dan guru sangat krusial. “Mereka bisa memberikan pendidikan seksual yang komprehensif—dari soal kesehatan reproduksi hingga hubungan yang sehat dan tanggung jawab seksual,” ujarnya.

Mitos Seputar Seks yang Masih Dipercaya Remaja

Beberapa mitos yang sering dipercayai remaja juga menjadi sorotan. Misalnya, anggapan bahwa kehamilan tidak bisa terjadi pada hubungan pertama, atau bahwa posisi tertentu bisa mencegah kehamilan. Ada pula kesalahpahaman mengenai penyakit menular seksual dan masturbasi. “Pendidikan yang benar bisa meluruskan semua ini,” kata Dr. Ernawati.

Menciptakan Ruang Aman untuk Belajar

Lalu, bagaimana menyampaikan pendidikan seksual tanpa membuat remaja merasa malu? “Kuncinya adalah komunikasi yang jujur dan terbuka, serta penggunaan bahasa yang sesuai dengan usia. Ciptakan lingkungan yang aman agar mereka nyaman bertanya dan berbagi,” sarannya.

Ia juga menyoroti pengaruh media sosial yang bersifat dua sisi. Di satu sisi, mudahnya akses informasi bisa menjadi peluang edukasi. Tapi di sisi lain, informasi yang salah justru sangat berisiko.

Kurikulum Sekolah dan Akses Informasi yang Aman

Menurut Bu Erna, kurikulum sekolah seharusnya memuat pendidikan seksual komprehensif. “Topiknya bisa disesuaikan dengan usia siswa, mulai dari kesehatan reproduksi, hubungan yang sehat, hingga pencegahan penyakit.”

Ia juga mendorong remaja untuk mencari informasi dari sumber tepercaya, seperti situs kesehatan resmi, buku ilmiah, atau organisasi profesional.

Sebagai penutup, Bu Erna menyampaikan bahwa pendidikan seksual tidak hanya melindungi remaja dari risiko, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup. “Mereka akan lebih siap mengambil keputusan, berkomunikasi dengan baik, dan bertanggung jawab atas diri sendiri,” tandasnya.

Podcast ini diakhiri dengan harapan agar lebih banyak pihak—terutama sekolah dan keluarga—mau membuka ruang diskusi seksual yang sehat dan informatif. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni