
Tantangan datang tak hanya dari soal kebersihan lingkungan, tapi juga soal legalitas inovasi. Di hadapan guru SD Almadany, juri LLSMS Dr. Ernawati meminta tiga produk unggulan sekolah didaftarkan HAKI—langkah konkret menjadikan inovasi sekolah bernilai dan berkelanjutan.
Tagar.co – Rabu pagi (23/7/2025), suasana di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, terasa berbeda. Sekolah berbasis lingkungan ini tengah dinilai dalam ajang Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) 2025.
Namun, bukan hanya soal kebersihan atau keasrian taman yang menjadi perhatian para juri, melainkan juga daya inovasi warganya.
Di tengah proses penilaian, salah satu juri, Dr. Ernawati, S.Kep.Ns., M.Kes.—anggota Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik—melemparkan sebuah tantangan tak biasa kepada tim guru SD Almadany.
Baca juga: Lomba Tak Biasa: Penjurian LLSMS di SD Almadany Tuntas hingga Malam
“Saya tantang Ustazah untuk meng-HAKI-kan tiga produk ini dalam waktu sebulan,” ujarnya sambil tersenyum kepada Putri Nur Aisyah, S.Gz., manajer Almadany Mart, unit wirausaha sekolah yang mengelola produk-produk olahan lokal.
Tantangan itu pun langsung dijawab sigap oleh Kepala SD Almadany, Lilik Isnawati, S.Pd., M.Pd., dan Putri Nur Aisyah dengan penuh keyakinan. “Nggeh, Bu. Insyaallah, siap,” ucap keduanya hampir bersamaan, menandai komitmen untuk naik kelas dari sekadar produsen sekolah menjadi pelaku inovasi yang diakui hukum.
Tiga produk unggulan yang dimaksud yakni minuman herbal mpon-mpon kunyit-kunir, minuman daun kelor–jeruk, serta kue pisang–ikan bandeng. Produk-produk ini merupakan hasil kreasi sekolah dalam mengembangkan pola konsumsi sehat berbasis potensi lokal, sekaligus sebagai sarana edukasi kewirausahaan bagi siswa.
Ernawati, inventor/pemilik HAKI beberapa produk inovatif, seperti kapsul suplemen fertilitas berbasis kulit manggis dan cairan probiotik antioksidan untuk luka, memberikan penguatan bahwa inovasi yang baik harus memiliki daya jual dan keberlanjutan. “Inovasi yang tidak bisa dikomersialkan, itu hanya akan berakhir di lemari-lemari buku. Tidak hidup, tidak berdampak,” tegasnya.
Ia pun melanjutkan, bahwa tantangan terbesar dari sebuah inovasi bukan pada penciptaannya, melainkan pada ketahanannya menghadapi realitas pasar yang terus berubah. Oleh karena itu, menurutnya, sekolah sebagai institusi pendidikan modern harus berani memasuki wilayah continuous improvement.
“Continuous improvement adalah kunci agar inovasi tidak berhenti di satu titik. Ini adalah proses berkelanjutan yang dilakukan lewat evaluasi dan penyempurnaan terus-menerus,” ungkapnya.
Bersama dua juri lainnya—Drs. Mohammad Nurfatoni dari Divisi Pendidikan Nonformal dan TIK Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik, serta Mardliyatul Faizun, S.S., Sekretaris Eksekutif Majelis Dikdasmen dan PNF—Ernawati berkeliling meninjau berbagai titik sekolah. Mereka tidak hanya menilai fasilitas, tetapi juga menggali semangat inovasi, kerja tim, dan kepekaan terhadap lingkungan hidup yang selama ini dirawat oleh SD Almadany.
Hari itu, LLSMS di SD Almadany tidak hanya menghadirkan penilaian, tapi juga momentum pembelajaran bersama: bahwa inovasi harus dilatih, diuji, dan diperjuangkan untuk memberi manfaat nyata. Dan SD Almadany telah mengambil tantangan itu dengan penuh percaya diri. (#)
Jurnalis Mahfudz Effendi Penyunting Mohammad Nurfatoni












