
Ribuan warga Aceh dan Sumatra terdampak banjir besar, tapi relawan tetap hadir mengevakuasi, menjaga pendidikan anak, dan memberikan dukungan psikososial.
Tagar.co – Peringatan Hari Relawan Internasional pada 5 Desember 2025 berlangsung dalam suasana yang sarat empati. Di Aceh dan beberapa wilayah Sumatra, banjir besar merendam rumah, fasilitas kesehatan, dan sekolah, menjadikan momen perayaan berubah menjadi ruang refleksi tentang pentingnya solidaritas dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana.
Sejak curah hujan ekstrem melanda awal pekan ini, ribuan warga terpaksa dievakuasi. Banyak yang kehilangan akses air bersih, kebutuhan pokok, dan tempat belajar anak-anak. Relawan dari berbagai organisasi menjadi tulang punggung evakuasi, menelusuri kawasan banjir dengan perahu karet untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
Baca juga: Banjir Kayu Gelondongan, Dosa Ekologi, dan Korban yang Dilupakan
Fasilitator Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B., menyebut peringatan Hari Relawan Intenrasiona tahun ini sebagai momen “sangat emosional” karena bertepatan dengan perjuangan ribuan warga menyelamatkan hidup mereka.
Menurut alumnus Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta itu relawan adalah ujung tombak resiliensi masyarakat. Saat jalur resmi terhambat akibat genangan tinggi, relawan lokal menjadi pihak pertama yang hadir membantu. Mereka mengevakuasi lansia, ibu hamil, balita, dan kelompok rentan lainnya dari permukiman yang terisolasi arus deras.
Selain evakuasi, Bambang menekankan pentingnya pendidikan di tengah bencana. Banyak sekolah di Aceh dan Sumatra mengalami kerusakan fisik dan tertimbun lumpur. Relawan membantu membersihkan ruang belajar, menyelamatkan dokumen penting, hingga menghadirkan sekolah sementara di lokasi pengungsian, agar anak-anak tetap bisa belajar dan bermain dengan aman.
Dukungan psikososial bagi korban, terutama anak-anak, juga menjadi prioritas. Trauma akibat rumah, buku, dan sekolah mereka terendam bisa berdampak jangka panjang. Relawan tidak hanya membawa logistik, tetapi juga memberikan pendampingan emosional melalui layanan dukungan psikososial.
Bambang menilai banjir besar ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat kapasitas penanggulangan bencana. Edukasi kebencanaan di sekolah, latihan evakuasi berkala, dan peningkatan kualitas relawan adalah langkah yang harus diutamakan.
Kerja sama antara relawan, pemerintah, dan masyarakat terus berjalan di wilayah terdampak. Meski tantangan masih besar, semangat para relawan menunjukkan bahwa kemanusiaan tetap hidup di tengah bencana. Hari Relawan Internasional tahun ini menjadi simbol bahwa kepedulian tidak pernah surut, bahkan ketika wilayah terdampak tengah berjuang keluar dari genangan.
Di tengah kesedihan itu, keberanian relawan menulis ulang harapan bagi ribuan keluarga di Aceh dan Sumatra. Semangat mereka membuktikan bahwa kemanusiaan selalu memiliki tempat, meski arus banjir menghanyutkan banyak harapan. (#)
Jurnalis Edi Susanto Penyunting Mohammad Nurfatoni












