
Mendikdasmen Abdul Mu’ti hadir dalam event Muhammadiyah Jogja Expo (MJE). Alih-alih menyampaikan sambutan panjang lebar, ia justru mengajak guru untuk berdiskusi. Dalam momen itu, ia sempat memberikan uang kepada salah satu guru TK sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi.
Tagar.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed hadir dalam event Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) Ke-4, Jumat (12/9/2025).
Acara ini merupakan program tahunan yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan berlangsung selama 3 hari, Jumat-Ahad (12-14/9/2025) bertempat di Jogja Expo Center.
Abdul Mu’ti didapuk untuk menyampaikan tema “Angkringan Pendidikan: Bemutu untuk Semua”. Tiba sekitar pukul 17.30 WIB di JEC, ia langsung menyapa audiens dan meminta siapapun peserta untuk menyampaikan unek-unek serta berdiskusi.
Salah satu peserta yang langsung mengacungkan tangan adalah Sri Rahayu, Guru TK Aisyiyah Gunungkidul. Di hadapan Mendikdasmen, ia tiba-tiba berderai air mata. Mengaku terharu bisa bertemu langsung dengan Pak Menteri.
“Bapak, kami kadang berada di titik lemah. Rasanya sudah berjuang tapi gaji ibu-ibu guru ini 10 juta dikurangi banyak nol-nya. Kami titip agar nasib kami diperjuangkan,” katanya.
Usai menyampaikan unek-unek, moderator kegiatan, Taufiq Ridwan pun berujar. “Saya akan mintakan uang setengah juta dari Ketua PWM DIY untuk Bu Sri Rahayu,” ucap Taufiq.
Lalu Abdul Mu’ti pun menyahut. “Kalau PWM kasih 500 ribu, saya tambah nol satu. Saya kasih 5 juta,” ujar Abdul Mu’ti yang langsung disambut tepuk tangan peserta yang hadir.
“Yang kami beri ini tidak sebanding dengan pengabdian Ibu yang telah 20 tahun,” imbuhnya.
Sertifikasi Guru Bertahap
Abdul Mu’ti pun menjelaskan bahwa hal tersebut sudah menjadi progam Mendikdasmen. Bahwa setiap guru secara bertahap akan mendapatkan sertifikasi apabila telah memenuhi jenjang pendidikan dan ikut Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Dia juga mengaku baru saja melakukan menyaksikan penandatanganan dengan Perguruan Tinggi. Bahwa akan ada program beasiswa 3 juta per semester bagi guru PAUD atau TK yang belum memiliki ijazah D4 atau S1.
“Sekarang memang era kita harus proaktif. Maka jangan menunggu. Ketika sudah ada kesempatan, langsung saja daftar. Dalam program itu juga ada Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), bahwa pengalaman ibu-ibu mengajar diakui 75 persen. Ketika menempuh pendidikan normalnya 4 tahun, di RPL ini cukup 1 tahun selesai. Ibarat shalat jamak qashar. 1 tahun bisa dapat gelar D4 atau S1,” ucapnya sambil tersenyum.
Abdul Mu’ti mengaku yakin, dengan cara seperti itu maka guru-guru bisa ikut program. “Dan pepatah bahwa Guru Muhammadiyah Aisyiyah walau gajinya kecil tetap semangat itu tidak ada lagi. Yang ada Guru Muhammadiyah Aisyiyah walau gajinya besar tetap semangat,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, bahwa sejak tahun ini setiap guru honorer mendapat 300 ribu per bulan. “Ada 315 sekian guru yang mendapatkan ini. Maka di tahun datang, saya menyarankan agar Dikdasmen Muhammadiyah dan Aisyiyah aktif mendata gurunya sehingga itu terdaftar,” paparnya.
Dalam mengambil kebijakan bantuan itu, Abdul Mu’ti juga menegaskan tidak khusus untuk di negeri saja. Tapi untuk negeri maupun swasta. “Karena kami berpendapat bahwa swasta adalah mitra pemerintah. Tanpa swasta negara tidak bisa menjalankan amanah menjalankan pendidikan untuk semua,” tandasnya diiringi tepuk tangan peserta.
Ajak Guru Aktif Perbarui Data
Maka dia mengajak semua guru untuk aktif memperbarui data. Tahun ini ada 200 ribu sekian guru yang mengikuti PPG. “Ketika PPG lulus, maka mereka aka sertifikasi. Ketika sudah sertifikasi, bagi guru sertifikasi dapat tunjangan 2 juta per bulan. Kalau ASN sebesar gaji pokok,” lanjutnya.
Dia pun berharap agar Bu Sri Rahayu tetap semangat dan komitmen mengabdi di TK ABA Gunungkidul.
Dia menambahkan, bahwa saat ini yang harus diperjuangkan memang guru Kelompok Bermain (KB) dan Tempat Penitipan Anak (TPA). “Kami sebenarnya mengusulkan definisi guru tidak hanya lembaga formal tapi juga informal dan non-formal. Jika ini disetujui maka tidak hanya TK, tapi KB dan Teman Penitipan Anak juga akan mendapatkan hal yang sama,” pungkasnya.
Keluhan BOS dan DAK
Selain itu, Abdul Mu’ti juga mendapatkan keluhan dari salah satu peserta, terkait susahnya guru yang belum sertifikasi untuk mengakses BOS. Ada juga sekolah tidak mendapatkan bantuan Bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus) fisik. Sementara mengalami kekurangan tempat, sehingga belajar di masjid, perpustakaan, dan lain-lain.
Menjawab hal itu, Abdul Mu’ti menegaskan, bahwa sudah ada kebijakan baru terkait pengggunaan dana BOS. Saat ini, dana BOS bisa digunakan sekian persen untuk gaji guru honorer. Sementara yang sudah PPPK tidak termasuk karena sudah ASN.
“Kita ini sering kali bermasalah dengan data. Kadang-kadang yang kami minta data pokok, tapi yang dikirim pokoknya data. Sehingga terkadang yang diupload dan real itu tidak sama. Maka ini masalah kita. Tahun ini ada renovasi dan revitalisasi untuk negeri dan swasta. 20 persen untuk swasta. Kebijakan Bapak presiden adalah meningkatkan mutu secara merata. Maka yang sudah mampu ya cari cara. Jangan jadi mustahik terus,” ucapnya.
Keluhkan TKA dan Bimbel
Ada juga peserta yang bertanya tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA). Maka Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa ini kebijakan yang tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Selama ini, ketika tidak ada Ujian Nasional, kita mengalami masalah. Sekolah e ora sinau atau disebut schooling without learning (sekolah tanpa belajar). Dia sekolah tapi tidak paham apa yang dipelajari, maka PISA kita rendah. Oleh sebab itu kami berusaha memperbaiki dengan adanya TKA,” ungkapnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan, TKA ini arahnya pada kognitif, dan karena hanya akademik, maka tidak menjadi penentu kelulusan. Tetap satuan pendidikan lah yang membuat penilaian berdasarkan karakter dan nilai raport.
“Bahwa ada bimbel, ya itu memang pinter-pinternya pengusaha bimbel. Tapi perlu kami tekankan bahwa kami juga memfasilitasi try out. Sehingga itu bisa dilakukan sendiri oleh guru, karena materi sudah kami siapkan. Pesan saya, sekolah itu sudah cukup. Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau dari rumah sendiri,” ungkapnya.
Dia pun mengingatkan, bagi siswa-siswi kelas 12 agar mulai daftar sekarang untuk TKA. “Jangan menunggu last minuts. Kami berharap sekolah Muhammadiyah ikut dalam TKA,” ucapnya.
Menurutnya, TKA itu kenapa dilakukan di bulan November, karena kalau hasilnya belum tercapai, maka nilai rapor akan diperhitungkan.
“Tapi pesan saya kepada bapak ibu guru, bahwa mengisi nilai rapor itu harus sesuai teori, realita dan variabel. Sementara banyak guru menilai karena sedekah. Ini yang membuat kadang kampus mengalami kesulitan. Ternyata hasil nilai itu dari sedekah,” pungkasnya disambut tepuk tangan peserta yang memenuhi JEC. (#)
Jurnalis Nely Izzatul












