Feature

Demi Kesetaraan, Aisyiyah Luncurkan Gerakan Pendidikan Inklusif Berkelanjutan

24
×

Demi Kesetaraan, Aisyiyah Luncurkan Gerakan Pendidikan Inklusif Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Konferensi pers PP Aisyiyah di Yogyakarta Selasa 14 Januari 2025

Organisasi perempuan Muhammadiyah ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan inklusif bagi seluruh anak bangsa.

Tagar.co – Langkah nyata untuk mewujudkan pendidikan yang setara dan tanpa diskriminasi digaungkan Aisyiyah. Melalui Tanwir I yang akan digelar di Hotel Tavia Heritage, Jakarta, pada 15-17 Januari 2025, organisasi perempuan Muhammadiyah ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan inklusif bagi seluruh anak bangsa.

Sebanyak 350 peserta dari pimpinan pusat, wilayah, dan daerah Aisyiyah akan hadir dalam forum permusyawaratan tertinggi di bawah muktamar ini. Sementara Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah di luar negeri akan berpartisipasi secara daring melalui Zoom.

Baca juga: Aisyiyah Angkat Isu Kedaulatan Pangan hingga Perlindungan Anak dalam Tanwir I

Tanwir I Aisyiyah kali ini mengusung tema “Dinamisasi Perempuan Berkemajuan Menuju Indonesia Berkeadilan”. Tema ini, menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Salmah, sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Masih terdapat ketimpangan di tengah masyarakat yang terlihat dari problem kemiskinan, belum terpenuhinya akses layanan dasar terutama pada kelompok rentan dan marjinal, hingga masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkap Salmah dalam Konferensi Pers Jelang Tanwir I Aisyiyah, Selasa (14/1), di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Baca Juga:  Aisyiyah Se-Eks Keresidenan Pekalongan Konsolidasikan Gerakan Perempuan Berkemajuan

Sebagai gerakan perempuan yang peduli pada isu perempuan, anak, dan kelompok marjinal, Aisyiyah memandang bahwa ketimpangan tersebut harus diatasi. “’Aisyiyah sebagai gerakan perempuan yang peduli pada isu perempuan, anak, dan kelompok marjinal melihat bahwa ketimpangan tersebut harus diatasi agar tidak ada seorang pun yang tertinggal atau no one left behind,” tegas Salmah.

Sekretaris Umum PP Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, menambahkan berbagai strategi perlu dilakukan untuk mencapai kesetaraan tersebut. “Strategi yang bisa dilakukan, baik itu dengan penyadaran, pemenuhan akses layanan dasar, pemberdayaan, hingga advokasi kebijakan,” papar Tri.

Dalam Tanwir I ini, Aisyiyah akan membahas berbagai isu penting, mulai dari gerakan pendidikan inklusif, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan, kedaulatan pangan di tengah perubahan iklim dan ekonomi global, ketahanan keluarga, hingga isu-isu perempuan dan anak dalam pandangan Islam Berkemajuan.

Gerakan Pendidikan Inklusif Berkelanjutan: Wujud Nyata Kesetaraan

Salah satu agenda utama dalam Tanwir I Aisyiyah adalah peluncuran Gerakan Pendidikan Inklusif Berkelanjutan. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, gerakan ini menjadi wujud nyata komitmen Aisyiyah dalam menyediakan pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi.

Baca Juga:  Aisyiyah Krian Siapkan Pemimpin Adaptif Hadapi Tantangan Zaman

“Gerakan pendidikan inklusif menjadi upaya nyata untuk menyediakan pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi, yang menjunjung tinggi kesetaraan, dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak dengan beragam latar belakang, kondisi, dan kebutuhan,” terang Tri.

Tri memaparkan saat ini belum semua sekolah menerapkan pendidikan inklusif, meskipun telah diamanatkan oleh undang-undang. Akibatnya, banyak anak dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam belum dapat mengakses pendidikan bermutu. “Ia memberi contoh, anak berkebutuhan khusus (ABK), korban perkawinan anak dan kekerasan, anak berhadapan dengan hukum, anak dari masyarakat adat, maupun anak yang tinggal di daerah kondisi geografis yang tidak mudah dijangkau,” jelasnya.

Melalui Tanwir I, Aisyiyah tidak hanya melakukan refleksi atas perjalanan pasca-Muktamar ke-48 tahun 2022 di Surakarta, tetapi juga memperkuat konsolidasi gerakan untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan, di mana setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan haknya atas pendidikan yang berkualitas. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni