Feature

Dari Samarinda, Muhammadiyah Menyalakan 1000 Cahaya untuk Bumi

196
×

Dari Samarinda, Muhammadiyah Menyalakan 1000 Cahaya untuk Bumi

Sebarkan artikel ini

Dari Samarinda, Muhammadiyah menyalakan semangat baru untuk merawat bumi. Gerakan 1000 Cahaya hadir dengan agenda konservasi air, penghijauan, pengelolaan sampah, hingga transisi energi sebagai langkah nyata menghadapi krisis iklim.

Tagar.co — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur resmi membuka Mainstreaming Gerakan 1000 Cahaya Muhammadiyah di Samarinda, Jumat (5/12/2025).

Dengan diikuti lima puluh peserta dari berbagai amal usaha dan majelis, kegiatan ini menjadi tonggak penting: untuk pertama kalinya program nasional tersebut digelar di luar Pulau Jawa, menandai perluasan komitmen Muhammadiyah dalam aksi iklim berkelanjutan.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Kaltim, Taufan Tirkaamiana, menggarisbawahi bahwa Gerakan 1000 Cahaya dibangun di atas empat isu prioritas: konservasi air, penghijauan, pengelolaan sampah, dan energi bersih.

Baca juga: Solar Panel dan Harapan Baru: Perjalanan Gerakan Green Hero 1000 Cahaya

“Semua isu itu sudah terintegrasi dengan program Majelis Lingkungan Hidup. Namun implementasi lapangan harus cermat, terutama penghijauan,” ujarnya.

Taufan menyinggung pengalaman penghijauan yang pernah dilakukan di kawasan ringroad Samarinda. Pohon-pohon yang ditanam kala itu harus tergusur karena alih fungsi lahan. “Karena itu, koordinasi dan kepastian status lahan harus matang sebelum menanam,” tegasnya.

Baca Juga:  Muhammadiyah Gerakkan Revolusi Energi Bersih lewat TOT Kader Pintar 1000 Cahaya

Akar Gerakan dari Forum Iklim Global

Direktur Program 1000 Cahaya PP Muhammadiyah, Ahid Mudayana, memaparkan latar global gerakan ini. Program tersebut lahir dari Global Forum for Climate Movement pada 2023 dan sejak itu berkembang menjadi respon Muhammadiyah terhadap ancaman krisis iklim.

“Kaltim menjadi titik ketiga pelaksanaan tahun ini, sekaligus yang pertama di luar Jawa,” jelasnya.

Menurut Ahid, transisi energi merupakan aspek krusial gerakan 1000 Cahaya, sejalan dengan arah kebijakan nasional. “Indonesia sudah menetapkan target Net Zero Emission pada 2060, sebagaimana ditegaskan dalam forum G20 di Bali,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa bencana ekologis yang menimpa Sumatra harus dibaca sebagai alarm keras. “Kerusakan lingkungan sudah menunjukkan akibatnya. Harapan kami, tidak ada lagi wilayah lain yang mengalami nasib serupa.”

Refleksi Kemanusiaan dan Peran Khalifah

Ketua PWM Kaltim, Siswanto, membuka agenda dengan refleksi tentang rangkaian bencana yang belakangan menimpa berbagai daerah di Indonesia.

“Bencana datang silih berganti seperti piala bergilir dari satu daerah ke daerah lain. Kita harus bertanya: ada apa dengan negeri ini?” ujarnya.

Baca Juga:  Solar Panel dan Harapan Baru: Perjalanan Gerakan Green Hero 1000 Cahaya

Baca juga: 1000 Cahaya dan LPCR Muhammadiyah Latih Kader Jadi Pelopor Energi Terbarukan

Ia menegaskan bahwa Islam memandang manusia sebagai hamba sekaligus khalifah yang memikul amanah menjaga bumi. Merujuk QS Al-Baqarah ayat 30, Siswanto menekankan tiga mandat utama: menjaga, melestarikan, dan mengelola bumi secara bertanggung jawab.

“Muhammadiyah selalu mengingatkan bahwa beragama tidak berhenti pada ibadah ritual. Ada tanggung jawab sosial dan ekologis yang wajib kita tunaikan,” katanya.

Audit Lingkungan hingga Fikih Ekologi

Rangkaian program Gerakan 1000 Cahaya di Kaltim dirancang komprehensif. Salah satu agenda strategis adalah audit lingkungan mandiri yang diprioritaskan untuk sekolah dan amal usaha Muhammadiyah. Peserta juga mendapatkan materi Fikih Lingkungan dari Majelis Tarjih dan Tajdid serta pembekalan isu energi dari tim pusat.

Pada 2026, program dijadwalkan berlanjut ke Sumatra pada awal tahun, dan diusulkan hadir di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini menunjukkan keseriusan Muhammadiyah memperluas pendidikan lingkungan hingga kawasan-kawasan yang menghadapi tekanan ekologis tinggi.

Pembukaan acara diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan tamu undangan — sebuah penanda dimulainya gerakan yang diharapkan membawa dampak nyata bagi pelestarian lingkungan di Kalimantan Timur dan wilayah lain di Indonesia.

Baca Juga:  Merawat Bumi sebagai Ibadah: Aisyiyah Jabar Gaungkan Ekofeminisme

Program 1000 Cahaya adalah inisiatif Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berfokus pada gerakan penyelamatan lingkungan, konservasi ekosistem lokal, dan transisi menuju energi bersih. Program ini menyasar ranting, sekolah, pesantren, masjid, serta green hero ‘Aisyiyah sebagai motor penggerak perubahan berbasis komunitas. (#)

Jurnalis Sukowati Penyunting Mohammad Nurfatoni