
Memperingati Milad Ke-108 Aisyiyah, LLHPB PCA Krian memulai gerakan nyata ketahanan pangan keluarga. Dari lomba video hingga pembagian bibit, semua dimulai dari pekarangan rumah untuk kemandirian bangsa.
Tagar.co – Di tengah peringatan Milad Ke-108 Aisyiyah yang berlangsung meriah di kompleks SD Muhammadiyah 1 Krian, Sidoarjo, Sabtu (28/6/2025), sebuah semangat baru tumbuh dari halaman-halaman rumah: ketahanan pangan.
Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Krian, melalui Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), mengambil peran strategis dengan menebar bibit harapan: tanaman, ternak, dan kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan keluarga.
Baca juga: Milad Ke-108 Aisyiyah: Menguatkan Qaryah Tayibah, Meneguhkan Peran Perempuan untuk Negeri
Mengusung tema besar “Memperkokoh Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Tayibah Menuju Ketahanan Nasional”, LLHPB PCA Krian menampilkan wajah lain dari gerakan perempuan Aisyiyah—bukan hanya peduli pada isu sosial dan kebencanaan, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan pangan mandiri dari rumah sendiri.

Salah satu inisiatif yang paling mencuri perhatian adalah lomba video antar-ranting bertema “Peran Aisyiyah dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga”. Para peserta—ibu-ibu dari berbagai ranting PCA Krian—dengan penuh antusias mendokumentasikan inovasi sederhana mereka: menanam kangkung dalam ember, menata pot sayur di pagar, atau memelihara lele dalam tong plastik.
Hasilnya, Ranting Jerukgamping dinobatkan sebagai Juara 1, diikuti Ranting Jatikalang dan Katerungan yang masing-masing meraih Juara 2 dan 3. Lomba ini bukan semata ajang kreasi, tetapi panggung inspirasi bagi gerakan yang lebih luas.
Tak hanya itu, LLHPB juga membagikan bibit tanaman seperti cabai, terong, oyong, dan kacang panjang, serta bibit ternak berupa ikan lele dan ayam kepada para peserta. Langkah konkret ini merupakan implementasi dari Gerakan Lumbung Hidup yang menjadi program nasional Aisyiyah—mengubah pekarangan rumah menjadi lumbung-lumbung kecil penyokong dapur keluarga.
Ketua PCA Krian, Siti Nur Qalbi, S.I.Kom., menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar simbolik.
“Kami ingin mengajak seluruh anggota Aisyiyah untuk menanam sesuatu yang bermanfaat di halaman rumahnya. Cabai, tomat, jahe, atau bahkan ternak seperti lele dan ayam, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber pangan dan tambahan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo. Narasumber workshop, Agustina Retnoningtuas, SP, M.Si., menyampaikan bahwa ketahanan pangan tak membutuhkan lahan luas.
“Dengan memanfaatkan lahan sempit dan metode seperti hidroponik atau pot, masyarakat bisa tetap mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” jelasnya.
Gerakan ini menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan merupakan bagian dari mitigasi bencana. Ketika sebuah keluarga mampu menyediakan sebagian kebutuhan pangannya sendiri, daya tahannya terhadap krisis—baik karena bencana alam maupun guncangan ekonomi—akan meningkat.
Majelis LLHPB PCA Krian menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan lagi isu besar yang hanya bisa ditangani negara, tetapi bisa dimulai dari halaman rumah. Dari tangan-tangan ibu Aisyiyah, benih harapan itu ditanam, dirawat, dan suatu hari nanti—dikutip dari semangat mereka—dipanen bersama sebagai ketahanan nasional yang sesungguhnya. (#)
Jurnalis Aniwati Penyunitng Mohammad Nurfatoni












