Feature

Dari Bandung Lautan Sampah, Tumbuh Harapan lewat Pena Pemuda Lintas Agama

17
×

Dari Bandung Lautan Sampah, Tumbuh Harapan lewat Pena Pemuda Lintas Agama

Sebarkan artikel ini
Parid Ridwanuddin dari GreenFaith Indonesia membuka sesi Workshop Jurnalisme Pemuda Lintas Iman

Bandung tak hanya dirundung tumpukan sampah, tapi juga disirami semangat anak-anak muda lintas agama. Lewat workshop jurnalisme, mereka merangkai cerita dan menanam harapan untuk keadilan iklim dari pinggiran kota.

Tagar.co – Di tengah krisis iklim yang kian mencemaskan, sekelompok anak muda lintas agama di Kota Bandung mengambil peran penting: belajar jurnalisme untuk menyuarakan keadilan lingkungan dari akar rumput.

Workshop Jurnalisme Pemuda Lintas Iman yang digelar pada Rabu, 12 Juni 2025, menjadi pembuka dari rangkaian program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (Smile).

Baca juga: Masjid Muhammadiyah Hijau: Gerakan Spiritual dan Solusi Lingkungan

Program ini diinisiasi oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah bekerja sama dengan BandungBergerak, sebuah media alternatif yang dikenal karena keberpihakannya pada masyarakat pinggiran.

Isu utama yang diangkat kali ini: “Bandung Lautan Sampah.” Sebuah metafora sekaligus kenyataan yang menggambarkan krisis iklim dan ketidakadilan lingkungan di wilayah urban.

Generasi Resah, Generasi Bergerak

Parid Ridwanuddin dari GreenFaith Indonesia membuka sesi daring pertama dengan refleksi tajam: “Kita punya gerakan besar dan dukungan publik yang kuat. Generasi muda adalah kelompok paling resah terhadap krisis iklim, dan keresahan ini penting sebagai bahan bakar untuk bergerak.”

Baca Juga:  Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Menurut Parid, isu lingkungan dan iman bukanlah dua hal yang terpisah. “Kita bisa membangun narasi lintas iman untuk memperkuat gerakan. Perubahan bisa dimulai dari paradigma dan perilaku, lalu meluas menjadi advokasi kebijakan,” ujarnya sambil menekankan perlunya konsolidasi strategis untuk mengkritisi eksploitasi sumber daya alam.

Spirit Rumah Ibadah dan Jurnalisme Empatik

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menambahkan dimensi spiritualitas dalam advokasi lingkungan. “Program ini tidak sekadar berbasis data, tapi juga spiritualitas lintas iman. Rumah ibadah bisa jadi basis gerakan anak muda. Semua agama mengajarkan manusia menjaga bumi,” katanya.

Ia menyebutkan ajaran-ajaran lingkungan dalam berbagai agama: kebersihan sebagian dari iman dalam Islam, konsep Tri Hita Karana dalam Hindu, dan panggilan untuk merawat bumi dalam ajaran Kristen.

“Lebih dari 2.000 riset mengungkap bahwa akar krisis iklim adalah keserakahan. Maka narasi kita harus kuat, berbasis data dan nilai keimanan,” tegas Hening.

Sementara itu, Amalia Nur Milla dari ‘Aisyiyah Jawa Barat membawa perspektif akar rumput. Ia menceritakan bahwa ‘Aisyiyah telah menyusun 73 naskah kultum lingkungan dari ibu-ibu se-Jabar. “Kami ingin karya jurnalistik dari anak muda juga menyentuh, seperti kisah ibu-ibu ini. Menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” katanya.

Baca Juga:  Ketika Alam Dianggap Ibu: Pelajaran Ekologi dari Masyarakat Adat Sunda Wiwitan

Menulis dari Pinggiran, Menyentuh Pusat

Tri Joko Her Riadi, Pemimpin Redaksi BandungBergerak, menegaskan semangat jurnalisme warga yang menjadi fondasi pelatihan ini. “Suara kecil dari pinggiran itu penting. Mereka adalah saksi langsung dari krisis yang sering luput dari narasi besar media arus utama,” ucapnya.

Ia menjelaskan, selama satu setengah bulan ke depan, para peserta akan mengikuti pelatihan intensif. Mulai dari teori lintas iman dan keadilan iklim, praktik jurnalisme, peliputan, hingga menulis dari perspektif keberagaman dan keberpihakan pada lingkungan. “Kita belajar menggali cerita dari bawah—bukan dari versi pemerintah.”

Agenda dan Harapan

Workshop ini diikuti 16 peserta terpilih—8 laki-laki dan 8 perempuan—dengan latar belakang agama dan organisasi kepemudaan beragam di Bandung. Seleksi dilakukan sejak 21 Mei hingga 7 Juni, dan hasilnya diumumkan pada 11 Juni 2025.

Setelah sesi daring perdana ini, agenda selanjutnya adalah forum diskusi pada 13 Juni 2025 yang mengangkat dua topik utama: “Mengadvokasi Keadilan Iklim dari Akar Rumput” dan “Keadilan Iklim, Urgensi Sampah, dan Spirit Green Rumah Ibadah.” Pada 22 Juni, peserta akan mengikuti sesi luring untuk praktik jurnalistik dan peliputan lapangan.

Baca Juga:  Ramadan Datang, saatnya Pangan Lokal Menjadi Sajian Utama di Meja Buka dan Sahur

Tentang Smile

Program Smile adalah inisiatif Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperkuat kepemimpinan pemuda lintas iman dalam menghadapi perubahan iklim. Melalui pendekatan keadilan gender dan ekofeminisme, SMILE mendorong keterlibatan aktif generasi muda—terutama perempuan dan kelompok disabilitas—dalam aksi konkret menghadapi krisis iklim. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni