Feature

Dakwah Ketua PDA Gresik yang Mengalir: Keteladanan Perempuan dalam Masyarakat

39
×

Dakwah Ketua PDA Gresik yang Mengalir: Keteladanan Perempuan dalam Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin, membagikan kisah inspiratif dakwah keluarga dan masyarakat kepada kader muda Nasyiatul Aisyiyah. Ia menekankan peran setara perempuan sebagai penggerak peradaban.
Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin, membagikan kisah inspiratif dakwah keluarga dan masyarakat kepada kader muda Nasyiatul Aisyiyah. Ia menekankan peran setara perempuan sebagai penggerak peradaban.

Tagar.co — Suasana aula SMA Muhammadiyah 1 Gresik siang itu terasa hangat. Di tengah tawa, percakapan ringan, dan sapaan akrab antar kader, terselip nuansa teduh yang sulit terjelaskan. Hari itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik menggelar Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) II, kegiatan kaderisasi yang selalu menjadi ruang bertumbuh bagi perempuan muda Muhammadiyah.

Di hadapan peserta yang duduk melingkar dengan penuh perhatian, hadir sosok yang tak asing di lingkungan Aisyiyah: Innik Hikmatin, M.Pd.I., Ketua PDA Gresik periode 2022–2027. Dengan tutur lembut yang penuh pengalaman, Innik membawakan materi bertema “Perempuan dalam Dakwah Keluarga dan Masyarakat”.

Namun siang itu, ia tak sekadar menyampaikan teori. Innik berbagi kisah tentang perjalanannya sebagai perempuan, istri, ibu, sekaligus kader yang terus berjuang menjaga api dakwah hingga usia senja.

“Dakwah itu tidak selalu di mimbar,” ujarnya lembut, membuat ruangan hening. “Kadang justru di meja makan, di ruang tamu, atau di tengah tangisan anak kecil yang sedang belajar sabar.”

Baca Juga:  Sebar Mubalig, Cahaya Muhammadiyah Terangi Pelosok Kalimantan Tengah

Kalimat sederhana itu mengalir pelan, namun terasa dalam. Para peserta, sebagian besar perempuan muda yang tengah menapaki perjalanan dakwahnya, tampak tersentuh. Ada yang tersenyum lirih, ada pula yang menunduk dalam renungan.

Dedikasi Amanah

Perjalanan Innik Hikmatin, M.Pd.I mencerminkan dedikasi panjang dalam pendidikan dan dakwah. Ia pernah menjabat sebagai Ketua dan Koordinator Bidang Majelis Dikdasmen, kemudian Wakil Ketua PDA Majelis Dikdasmen Gresik periode 2015–2020, hingga kini memimpin Pimpinan Daerah Aisyiyah Gresik periode 2022–2027.

Setiap amanah ia jalani dengan kesungguhan dan semangat kolaborasi, menjadi teladan nyata bagi generasi penerus Aisyiyah. Dalam penyampaiannya, Bu Innik menegaskan, Islam memuliakan perempuan dan laki-laki secara setara. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan kesetaraan dan kemuliaan manusia (QS. al-Hujurat: 13, at-Taubah: 71, an-Nahl: 97).

“Perempuan bukan hanya pelengkap dakwah, tetapi juga penggeraknya,” tegas Bu Innik. “Dari rahim perempuan lahir generasi dakwah, dari tangannya tumbuh peradaban.”

Baca Juga:  Iftar Gathering: Siswa Spemdalas Kuatkan Ukhuah dan Lokomotif Kebaikan

Melalui materi tersebut, 30 peserta DANA II PDNA Gresik diajak untuk memahami tiga tujuan utama: memahami konsep dakwah dalam Islam, menemukan peran perempuan dalam dakwah keluarga, dan menjadi agen dakwah sosial di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Innik menyampaikan pesan singkat yang menjadi refleksi hidupnya yakni pesan yang ia sebut dengan “3B”: Bersyukur, Bersemangat, Bersinergi.

“Kalau kita mampu bersyukur atas setiap peran, menjaga semangat dalam berdakwah, dan bersinergi dengan sesama perempuan, insyaallah dakwah akan terus hidup,” ujarnya menutup dengan senyum.

Menguatkan Keluarga dengan Birrul Walidain

Innik juga membagikan inspirasi tentang cara ia mendidik putra-putrinya, bahkan cucu-cucunya. Innik mengisahkan hal itu secara lengkap beserta potongan foto kenangan buah hatinya.

“Kami berusaha menjadikan keluarga kita kuat lahir dan batin. Menjadi teladan, terus bertauhid. Terhadap anak, kami kuatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua), bukan handphone-nya yang dikuatkan,” tuturnya.

Berikutnya adalah sesi curhat. Peserta dapat menyampaikan curahan hati, lalu Innik menanggapi. Bagi mereka, Innik bukan sekadar narasumber. Ia adalah cermin hidup dari dakwah yang berjiwa perempuan; tenang, tulus, dan menghidupkan.

Baca Juga:  Ketika Scorpion 100 Tongkat Karya HW Spemdalas Raih Prestasi di Ajang Hisco

Sesi itu pun berakhir dengan tepuk tangan wow yang riuh, namun suasana tetap teduh dan hangat. Para peserta saling menatap dengan senyum lembut, seolah mendapatkan kembali arah dan makna dakwah yang sesungguhnya. Yakni mulai dari rumah, menjalani dengan cinta, dan menyebarkan dengan keteladanan. (#)

Jurnalis Liset Ayuni Penyunting Sayyidah Nuriyah