Feature

Buku Spiritual Changemakers Diluncurkan: Lintas Iman Bersatu, Lentera Perubahan untuk Bumi

19
×

Buku Spiritual Changemakers Diluncurkan: Lintas Iman Bersatu, Lentera Perubahan untuk Bumi

Sebarkan artikel ini
Peluncuran buku Spiritual Changemakers: Lentera Perubahan dari Keberagaman untuk Bumi dan Kemanusiaan, yang ditandatangani oleh Nani Zulminarni (Ashoka), Parid Ridwanuddin (GreenFaith Indonesia), dan Triningsih (Eco Bhinneka Muhammadiyah) (Tagar.co/Dzikrina Farah Adiba)

Ashoka Indonesia, Eco Bhinneka Muhammadiyah, dan GreenFaith Indonesia meluncurkan buku Spiritual Changemakers. Karya ini merekam perjalanan lintas iman yang menjadikan spiritualitas bukan sekadar keyakinan, melainkan energi perubahan sosial-ekologi.

Tagar.co – Sebuah karya kolektif lintas iman lahir di Jakarta. Kamis (11/9/2025), Ashoka Indonesia bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah dan GreenFaith Indonesia meluncurkan buku Spiritual Changemakers: Lentera Perubahan dari Keberagaman untuk Bumi dan Kemanusiaan.

Buku ini merekam kisah nyata bagaimana spiritualitas dapat menjadi energi perubahan sosial, merawat bumi, dan memperkuat empati antarmanusia.

Baca juga:GreenFaith dan GPIB Teken MoU: Iman yang Menolak Diam di Hadapan Krisis Ekologis

Dalam peluncuran buku, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, menekankan bahwa spiritualitas sejatinya tidak berhenti pada keyakinan pribadi.

“Spiritualitas harus menjadi energi perubahan sosial yang nyata. Nilai kemanusiaan, kebahagiaan, dan kebebasan mampu menumbuhkan empati lintas kelompok,” ujarnya.

Pesan itu selaras dengan visi Ashoka: Everyone a Changemaker. Bahwa setiap orang, tanpa memandang latar belakang, dapat mengambil peran dalam perubahan.

Baca Juga:  Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya
Sesi diskusi buku Spiritual Changemakers (Tagar.co/Dzikrina Farah Adiba)

Jejak Kolaborasi Sejak 2020

Nani Zulminarni, Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, mengisahkan inisiatif ini berawal pada 2020. Saat itu ia membayangkan bagaimana komunitas berbasis iman bisa bergerak bersama dalam gerakan sosial.

Dua tahun kemudian, sebuah lokakarya menghadirkan lebih dari 70 pegiat lintas iman. Dari membersihkan sungai hingga gerakan green church, aksi nyata itu menandai langkah awal yang akhirnya terdokumentasi dalam buku ini.

“Buku ini lahir dari kehidupan nyata, dengan empati dan akal sehat sebagai pijakan perubahan,” kata Nani.

Hening Parlan, Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, menyebut buku tersebut sebagai saksi bagi para pembaharu spiritual.

“Mereka bekerja dalam senyap, tetapi membawa dampak luas. Semoga buku ini menjadi cahaya bagi gerakan perubahan yang adil, damai, dan lestari,” tuturnya.

Foto bersama seluruh peserta dan pembicara peluncuran buku Spiritual Changemakers: Lentera Perubahan dari Keberagaman untuk Bumi dan Kemanusiaan (Tagar.co/Dzikrina Farah Adiba)

Suara dari Lapangan

Suasana peluncuran buku semakin hidup ketika tiga narasumber lintas latar belakang hadir berbagi pengalaman. Mereka adalah aktivis lingkungan Prigi Arisandi, Parid Ridwanuddin dari GreenFaith Indonesia, serta Pdt. Meilany Risamasu dari GPIB Karang Satria.

Baca Juga:  Bangun Generasi Unggul, Salmah Orbayinah Ajak Perkuat Ukhuah dan Kolaborasi

Pdt. Meilany membuka percakapan dengan menekankan pentingnya empati kepada seluruh ciptaan. Menurutnya, gerakan green church bukan sekadar program lingkungan, melainkan wujud kasih yang meluas hingga ke alam semesta.

Sementara itu, Prigi Arisandi mengajak hadirin menoleh pada ancaman nyata yang kerap terabaikan: mikroplastik. Dengan gaya komunikasinya yang lugas, ia mendorong generasi muda untuk tidak berhenti pada kesadaran semata, tetapi langsung turun ke lapangan.

Baginya, empati akan tumbuh menjadi aksi nyata jika diwujudkan dalam pengalaman langsung. Ia juga menekankan perlunya memvisualisasikan informasi dan menyebarkan cerita-cerita baik, agar lebih banyak orang tersentuh dan tergerak untuk bergabung dalam perubahan.

Parid Ridwanuddin menutup sesi dengan menegaskan bahwa perubahan sejati tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari nilai keyakinan yang hidup dalam diri manusia.

“Panggilan iman bisa menjadi dasar bagi manusia untuk bekerja sama menjaga kelestarian bumi bagi generasi mendatang,” tuturnya, memberi penekanan bahwa spiritualitas dapat menjadi landasan bersama untuk menghadapi krisis ekologis.

Peluncuran buku Spiritual Changemakers menjadi penegasan bahwa spiritualitas dan empati adalah bahasa universal. Ia menghubungkan iman dengan aksi nyata, menghadirkan peta jalan untuk menjawab tantangan zaman. (#)

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Jurnasi Dzikrina Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni