Feature

Belajar di Alam Terbuka, Santriwati MBS Madinatul Ilmi Kamping Ceria di Pantai Panduri

46
×

Belajar di Alam Terbuka, Santriwati MBS Madinatul Ilmi Kamping Ceria di Pantai Panduri

Sebarkan artikel ini
Kepala Smamsatu Nurul Ilmiyah melepas Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi di halaman sekolah, Jumat (12/12/25) (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi 2025 menjadi ruang pembelajaran spiritual dan sosial bagi santriwati melalui tadabur alam, memasak mandiri, hingga malam keakraban di pesisir Tuban.

Tagar.co – Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi Smamsatu Gresik kembali digelar dengan nuansa berbeda. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan kamping dilaksanakan di kawasan pegunungan atau bumi perkemahan, tahun ini para santriwati diajak menyatu dengan alam pesisir.

Kamping Ceria untuk santriwati Muhammadiyah Boarding School (MBS) Madinatul Ilmi ini berlangsung di Pantai Panduri, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, selama dua hari, 12–13 Desember 2025.

Baca juga: Zada Kanza, Kartini Modern Smamsatu Gresik yang Menginspirasi lewat Tulisan

Sebanyak 64 santriwati mengikuti kegiatan yang dirancang sebagai ruang pembelajaran spiritual dan sosial melalui tadabur alam serta penguatan kebersamaan.

Mereka tidak hanya diajak berkemah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk mensyukuri ciptaan Allah Swt. di tengah bentang alam laut yang terbuka.

Para santriwati peserta Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi di Patai Panduri, Tuban, Jumat (12/12/25) (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Kegiatan diawali dengan pembukaan di halaman Smamsatu. Di bawah terik matahari, Kepala SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, Jawa Timur, Nurul Ilmiyah, menyampaikan pengarahan sekaligus pesan moral kepada para santriwati sebelum keberangkatan.

Baca Juga:  Upgrading IPM Smamsatu 2026 Resmi Dibuka, Usung Tema “The Bridge to Better”

Ia menekankan pentingnya menjaga kewarasan berpikir, kesehatan fisik dan mental, serta kedisiplinan selama kegiatan berlangsung. “Jaga nama baik sekolah. Peraturan tetaplah peraturan. Jika sudah lulus, kebiasaan menaati aturan inilah yang akan terbawa dalam kehidupan bermasyarakat,” pesannya.

Bu Il, sapaan akrabnya,  juga mengingatkan agar para santriwati selalu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan para ustazah, sekecil apa pun persoalan yang dihadapi. Menurutnya, setiap rangkaian Kamping Ceria pasti mengandung hikmah yang patut direnungi dan diamalkan.

Ustazah Hadiyatan Wasilah menyampaikan materi Kajian Muslimah dalam Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi di Patai Panduri, Tuban, Jumat (12/12/25) (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Tepat pukul 13.30 WIB, seluruh santriwati bersama para ustazah bertolak menuju Pantai Panduri menggunakan dua truk Garnisun. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, mereka langsung melanjutkan aktivitas dengan mendirikan tenda di lokasi kamping.

Angin pantai bertiup cukup kencang, awan mendung menggantung, seolah hujan akan segera turun. Namun di sela suasana itu, matahari terbenam tetap menampakkan pesonanya, memanjakan mata dan menghangatkan hati.

Usai salat Magrib berjemaah, kegiatan khas MBS Madinatul Ilmi digelar, yakni Kajian Muslimah yang disampaikan Sekretaris MBS Madinatul Ilmi, Hadiyatan Wasilah. Mengusung tema tadabur alam, kajian tersebut mengulas tafsir Surah Al-Mulk ayat 15 tentang bumi yang diciptakan Allah agar mudah dijelajahi dan dimanfaatkan rezekinya oleh manusia.

Baca Juga:  Sekretaris PDM Gresik Ajak Guru dan Karyawan Smamsatu Rawat Semangat Kolektif

“Di mana pun kalian berada, syukurilah ciptaan Allah dan jangan lupa bersujud di tempat itu,” pesan Ustazah Hadiyatan, sapaanya, mengajak santriwati memaknai alam sebagai tanda kebesaran-Nya.

Para santriwati peserta Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi menikmati makan malam di tenda hasil masakan sendiri, di Patai Panduri, Tuban, Jumat (12/12/25) (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Selepas salat Isya, para santriwati dilatih untuk mandiri melalui kegiatan memasak bersama. Dengan peralatan sederhana—memasak nasi menggunakan panci dan meracik bumbu tanpa blender—mereka belajar bekerja sama dan saling membantu. Meski serba terbatas, suasana kebersamaan justru terasa hangat dan penuh makna.

Malam keakraban menjadi momen yang paling dinanti. Di sekeliling api unggun, tawa dan canda pecah. Para santriwati bernyanyi, berbincang, dan saling menguatkan, membangun kelekatan emosional yang menjadi ruh dari kegiatan kamping.

Alam pun memberi pelajaran tersendiri. Rintik hujan turun di tengah malam, disusul langkah sigap para santriwati yang mengamankan barang-barang ke aula utama. Setelah hujan reda, suara deburan ombak kembali menemani malam, menciptakan suasana syahdu di pesisir Pantai Panduri.

Para santriwati peserta Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi menikmati sunrise di Patai Panduri, Tuban, Sabtu (13/12/25) (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Hari kedua diawali dengan salat Subuh berjemaah. Para santriwati kemudian menantikan matahari terbit di tepi pantai. Meski mentari tidak menampakkan diri karena mendung, keceriaan tetap terasa. Mereka menikmati pagi dengan bermain dan mengabadikan momen kebersamaan di sepanjang pantai.

Baca Juga:  Di Antara Harapan Ayah dan Pilihan Hati, Ketum Pasbrama Smamsatu Gresik Berlabuh di Filsafat UGM

Sarapan pagi dinikmati setelah lomba memasak antarkelompok yang berlangsung sekitar dua jam. Setiap kelompok berlomba menyajikan masakan terbaik lengkap dengan kreasi dan hiasan, untuk dinilai oleh para ustadzah.

Rangkaian Kamping Ceria MBS Madinatul Ilmi 2025 ditutup dengan pembongkaran tenda dan acara penutupan. Musyrifah, Eka Rohmatun Nazilah, S.Pd., menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga MBS Madinatul Ilmi yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.

Melalui Kamping Ceria ini, para santriwati tidak hanya belajar mencintai alam, tetapi juga ditempa untuk mandiri, saling menguatkan, dan menumbuhkan rasa syukur—nilai-nilai yang diharapkan terus hidup dalam keseharian mereka. (#)

Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni