Cerpen

Astrea Tua yang Tak Mau Pensiun

18
×

Astrea Tua yang Tak Mau Pensiun

Sebarkan artikel ini
Ketika ojek daring memenuhi jalan kota, Mbah Sumarto tetap bertahan dengan Astrea tuanya—motor renta yang menjadi saksi kesetiaan seorang lelaki pada kerja dan martabat hidup.

Ketika ojek daring memenuhi jalan kota, Mbah Sumarto tetap bertahan dengan Astrea tuanya—motor renta yang menjadi saksi kesetiaan seorang lelaki pada kerja dan martabat hidup.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Sore itu langit Kabupaten Rempah tampak cerah. Angin berembus pelan, membawa debu tipis dari jalan utama yang ramai oleh truk, mobil, dan sepeda motor. Di tengah persimpangan berdiri Tugu Aren, penanda kota kecil yang sejak lama menjadi tempat orang menunggu dan bertemu.

Di teras kecil tugu itu, seorang lelaki tua duduk tenang.

Ia mengenakan hem panjang biru yang telah pudar, celana jeans jadul, dan topi hitam yang warnanya mulai memucat. Kerutan usia menghiasi wajahnya, tetapi matanya masih memancarkan keteduhan.

Dialah Mbah Sumarto.

Baca cerpen lainnya: Ujian Kejujuran di Alun-Alun Rempah

Di depannya berdiri sebuah Yamaha Astrea Grand Impressa keluaran lama. Catnya kusam, jok hitamnya penuh tambalan, dan bannya tampak menipis. Motor itu berdiri sedikit miring, seperti tubuh renta yang tetap berusaha tegak.

Mbah Sumarto menatap langit yang perlahan berubah keemasan.

Bibirnya bergerak lirih membaca kalimat toyyibah. Kedua tangannya saling menggenggam.

“Terima kasih, ya Allah… masih diberi kesehatan dan kesempatan berpuasa Ramadan tahun ini,” bisiknya.

Beberapa menit berlalu.

Di seberang jalan, beberapa pengemudi ojek daring berhenti sambil memandangi telepon genggam mereka. Sesekali terdengar suara notifikasi aplikasi.

Baca Juga:  Fania dan Ketakutan-Ketakutan Kecil

Tak lama kemudian, seorang dari mereka berangkat membawa penumpang.

Mbah Sumarto hanya memandang dari kejauhan.

Tangannya perlahan mengusap setang Astrea tua itu, seperti menenangkan kawan lama.

Sudah hampir satu jam ia menunggu.

Belum ada penumpang.

Tiba-tiba sebuah suara memanggil dari seberang jalan.

“Mbah Sumarto!”

Ia menoleh cepat.

Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana, membawa keranjang berisi botol-botol kosong yang biasa digunakan untuk jamu.

Mbah Sumarto tersenyum lega.

“Alhamdulillah… Yuk Narti.”

Ia segera menyalakan Astrea tuanya lalu menyeberang.

“Diantar seperti biasanya ya, Narti?” tanyanya.

Yuk Narti menata keranjang di pangkuannya.

“Mboten, Mbah. Tolong antar ke Pasar Kemiri sebentar. Saya mau beli serabi.”

“Serabi?” Mbah Sumarto tertawa kecil.

“Iya. Cucu saya datang hari ini. Katanya pengin buka puasa pakai serabi yang di sana.”

“Wah… cucu memang sering bikin hati kita kalah.”

Astrea tua itu melaju pelan meninggalkan tugu.

“Nget… nget… nget…”

Shockbreaker tua itu berbunyi setiap melewati jalan yang tak rata.

“Laris ya jualan jamunya, Narti?” tanya Mbah Sumarto.

“Alhamdulillah, tadi diborong ibu-ibu Gang Anggrek.”

Tak sampai lima menit mereka tiba di Pasar Kemiri. Aroma serabi yang dipanggang langsung menyambut.

Yuk Narti turun membeli beberapa bungkus.

“Mbah, nanti antar saya pulang juga ya.”

Baca Juga:  Menjaga Konsistensi, Warga GKA Dorong TPS Bersih Berkelanjutan

“Siap… budhal.”

Ketika Yuk Narti kembali, Mbah Sumarto melihat dua pengemudi ojek daring berhenti tak jauh dari situ. Penumpang mereka tampak memesan lewat aplikasi.

Ia menarik napas panjang.

Astrea tua itu kembali melaju.

Menjadi tukang ojek sudah dijalani Mbah Sumarto lebih dari empat puluh tahun.

Dulu Tugu Aren selalu ramai.

Setiap sore orang berdesakan mencari ojek.

Kini keadaan berubah.

Orang lebih sering memesan kendaraan lewat telepon genggam.

Beberapa kawan lamanya sudah berhenti menarik ojek. Ada yang menjadi buruh bangunan, ada pula yang pulang kampung.

Mbah Sumarto pernah mencoba mendaftar menjadi pengemudi ojek daring.

Namun telepon genggamnya hanya bisa untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Astrea tuanya pun tak memenuhi syarat.

Ia akhirnya kembali ke Tugu Aren.

Menunggu, seperti dulu.

Menjelang magrib, Mbah Sumarto pulang ke rumah kecilnya.

“Assalamualaikum,” ucapnya sambil menuntun Astrea masuk halaman.

“Waalaikumussalam,” jawab Mbok Siti dari dapur.

Aroma sayur kelor memenuhi ruangan.

Mbok Siti Asiyah sedang menyiapkan hidangan berbuka.

“Dapat penumpang, Bah?” tanyanya.

“Alhamdulillah… satu.”

Mbok Siti tersenyum.

Tak lama kemudian azan magrib berkumandang dari surau dekat rumah.

Mereka berbuka dengan sederhana: nasi hangat, sayur kelor, dan tempe goreng.

Namun suasana rumah kecil itu terasa hangat.

Selepas salat tarawih, Mbah Sumarto menyalakan kembali Astrea tuanya.

“Mbok, ayo kita ke rumah Mbak Dini,” katanya.

Baca Juga:  Menjaga Jalan Pulang

Malam itu mereka hendak membayar cicilan hutang.

Mbok Siti duduk di belakang sambil memegang pinggang suaminya.

Astrea tua itu melaju pelan di jalan yang mulai lengang.

Angin malam Ramadan terasa sejuk.

Setelah mengangsur hutang kepada Mbak Dini, mereka pulang dengan hati lega.

Di tengah perjalanan, Mbah Sumarto tiba-tiba berhenti di sebuah gerobak kecil.

“Mau beli apa, Bah?” tanya Mbok Siti.

“Ronde hangat.”

Mereka duduk di bangku kayu.

Uap jahe mengepul dari mangkuk.

Beberapa pengemudi ojek daring melintas dengan motor baru dan jaket seragam berwarna terang.

Astrea tua mereka tampak berbeda.

Lebih tua.

Lebih pelan.

Namun Mbah Sumarto tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menyeruput ronde hangat itu perlahan.

Mbok Siti tersenyum kecil.

“Bah, hidup kita memang sederhana ya.”

Mbah Sumarto mengangguk.

“Iya, Mbok. Tapi kita masih bisa bekerja.”

Mereka saling menatap sebentar, lalu tertawa pelan.

Tak lama kemudian Astrea tua itu kembali melaju di bawah lampu jalan yang redup.

Pelan.

Namun tetap bergerak.

Di tengah kota kecil yang terus berubah, motor tua itu masih setia mengantar dua orang yang tak pernah berhenti berusaha menjalani hidup dengan jujur.

Dan malam Ramadan pun berjalan tenang, seperti doa yang tak selalu terdengar, tetapi terus naik ke langit. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni