Feature

Aksi Anak Muda Selamatkan Lingkungan: Kolaborasi Lintas Agama demi Bumi yang Lebih Hijau

31
×

Aksi Anak Muda Selamatkan Lingkungan: Kolaborasi Lintas Agama demi Bumi yang Lebih Hijau

Sebarkan artikel ini
FGD bersama kelompok muda lintas agama tentang Kerja-kerja Advokasi dalam ‘Keterlibatan Keagamaan dan Lintas Iman untuk memitigasi dan Mengelola Risiko Lingkungan’ pada Kamis 13 Maret 2025 secara daring melalui ZOOM

Krisis lingkungan butuh aksi nyata! Lewat kolaborasi lintas agama, generasi muda bergerak melindungi bumi. Dari advokasi hingga aksi langsung, mereka membuktikan bahwa masa depan hijau masih bisa diperjuangkan!

Tagar.co – Krisis lingkungan semakin nyata, dan solusinya tidak bisa dilakukan sendiri. Untuk itu, Kementerian PPN/Bappenas bersama The Foreign, Commonwealth, and Development Office of the UK Government (FCDO) mengadakan Forum Grup Diskusi (FGD) bertema “Konsultasi tentang Kerja-Kerja Advokasi dalam Keterlibatan Keagamaan dan Lintas Iman untuk Memitigasi dan Mengelola Risiko Lingkungan.”

Acara yang berlangsung secara daring, Kamis (13/3/25) ini merupakan bagian dari Program Pembangunan Rendah Karbon (Low Carbon Development Initiative/LCDI) Fase 2, yang diinisiasi oleh Oxford Policy Management Limited (OPML) dan Eco Bhinneka Muhammadiyah.

Baca juga: Saat 100 Anak Muda Berlatih Ecosociopreneur, Bisnis yang Peduli pada Bumi dan Sesama.

Dalam diskusi ini, berbagai pihak membahas bagaimana generasi muda dapat menjadi aktor utama dalam upaya menyelamatkan lingkungan. Melalui kolaborasi lintas agama, mereka diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik.

Baca Juga:  Aisyiyah Serukan Gerakan Sampah Tuntas: Saatnya Mengelola, Bukan Sekadar Membuang

Generasi Muda: Kunci Gerakan Keadilan Lingkungan

Parid Ridwanuddin dari Eco Bhinneka Muhammadiyah dan GreenFaith Indonesia menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menangani krisis lingkungan. “Survei UNDP 2022 menunjukkan bahwa anak muda di seluruh dunia sangat peduli terhadap lingkungan dan mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Sebaliknya, generasi yang lebih tua cenderung kurang peduli terhadap isu ini,” jelasnya.

Menurut Parid, ketidakpedulian generasi sebelumnya menyebabkan ketimpangan antargenerasi. “Kita harus mewariskan mata air, bukan air mata,” katanya tegas. Ia juga mengingatkan bahwa bencana seperti banjir dan longsor terjadi karena belum ada perubahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan. Oleh karena itu, anak muda harus diberi ruang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan publik.

Salah satu contoh nyata peran generasi muda adalah gerakan Save Meratus yang dipaparkan oleh Al Bawi, seorang aktivis lingkungan dari Kalimantan Selatan. Kawasan Meratus yang kaya keanekaragaman hayati menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan tambang. Berkat kolaborasi lintas agama, Muhammadiyah berhasil membentuk kader peduli lingkungan yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga alam.

Baca Juga:  Dari Meja Buka Puasa ke Aksi Lingkungan, Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Tokoh Lintas Iman

“Kolaborasi lintas agama dan keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam menghadapi krisis lingkungan,” ujar Al Bawi. Ia berharap gerakan seperti ini bisa menginspirasi anak muda lain di seluruh Indonesia.

Peran Strategis Lembaga Keagamaan

Ara Kusuma, Youth Work Manager and Integration Ashoka, menyoroti peran penting lembaga keagamaan dalam menjaga lingkungan. “Ada tiga cara utama yang bisa dilakukan, yaitu edukasi, aksi nyata, dan advokasi kebijakan,” jelasnya.

Menurutnya, komunitas berbasis agama bisa melakukan aksi sederhana seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan kampanye lingkungan. “Kita bisa mulai dari hal kecil di sekitar kita. Ajak lebih banyak orang agar sadar dan bergerak bersama,” ajaknya.

Dari perspektif keberagaman, Aldi Destian Satya dari Komunitas Pemuda Agama Konghucu menambahkan bahwa setiap budaya memiliki cara unik dalam melestarikan alam. “Indonesia kaya akan budaya, dan banyak di antaranya memiliki tradisi menjaga lingkungan, seperti pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang bijak,” katanya. Ia pun mengajak anak muda untuk aktif dalam kegiatan lingkungan seperti penanaman pohon dan pembersihan sungai.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Komitmen Bersama untuk Masa Depan Berkelanjutan

FGD ini merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang telah diadakan di beberapa kota, seperti Jakarta, Sawahlunto, Riau, dan Ambon. Dengan keterlibatan banyak pihak, diharapkan akan lahir lebih banyak inisiatif untuk pembangunan rendah karbon dan pelestarian lingkungan.

“Kami berharap pertemuan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis lingkungan di Indonesia. Mari kita mulai dari langkah kecil dan ajak lebih banyak orang untuk terlibat sebagai pembuat perubahan (change maker),” ujar Parid Ridwanuddin menutup acara.

Dengan semangat kolaborasi dan keterlibatan generasi muda, harapan akan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan semakin nyata. Mari bersama-sama menjadi bagian dari perubahan ini, karena bumi yang sehat adalah warisan terbaik bagi generasi mendatang. (#)

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni