
Krisis lingkungan semakin nyata. Di Riau, tokoh berbagai agama bersatu mencari solusi. Melalui diskusi dan aksi nyata, mereka membuktikan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman.
Tagar.co – Krisis lingkungan semakin nyata di hadapan kita. Dari deforestasi hingga polusi, dampaknya tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga mengancam kesehatan, ekonomi, dan keamanan masyarakat. Menyadari urgensi ini, tokoh agama dan organisasi lintas iman di Pekanbaru, Riau, bersatu dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah dan GreenFaith Indonesia, di The Zuri Hotel Pekanbaru, Riau, Rabu (26/2/26).
Dengan tema “Keterlibatan Agama dan Lintas Iman dalam Mengelola Risiko Lingkungan”, diskusi ini menghadirkan 42 peserta dari berbagai latar belakang—tokoh agama, ahli lingkungan, organisasi lintas iman, hingga perwakilan kelompok disabilitas. Dari jumlah tersebut, 14 peserta adalah perempuan, menegaskan pentingnya keterlibatan gender dalam isu lingkungan.
Forum ini mendapat dukungan dari Bappenas serta Kantor Persemakmuran dan Pembangunan Luar Negeri (FCDO) Pemerintah Inggris melalui Oxford Policy Management Limited (OPML).
Agama sebagai Kekuatan Transformasi Lingkungan
Diskusi ini menegaskan bahwa agama bukan sekadar keyakinan spiritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Dr. H.M. Rasyad Zein, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau, menyatakan bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai luhur untuk menjaga keseimbangan alam.
“Pendekatan lintas agama adalah solusi efektif dalam menghadapi krisis lingkungan,” katanya.
Parid Ridwanuddin, Manajer Program GreenFaith Indonesia, menyoroti ancaman nyata perubahan iklim, deforestasi, dan polusi. “Isu lingkungan ini tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengancam kehidupan kita. Agama harus menjadi kekuatan yang menggerakkan aksi nyata untuk menjaga bumi,” ujarnya.

Jihad Ekologis: Perlawanan terhadap Krisis Lingkungan
Isu lingkungan juga dikaitkan dengan maqasid syariah (tujuan syariah), sebagaimana disampaikan Dr. Muhammad Ikhsan, Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Riau. Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kewajiban agama. “Organisasi keagamaan harus berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat, mempengaruhi kebijakan, dan mendorong praktik ramah lingkungan,” jelasnya.
Dr. Elviriadi, M.Si, seorang akademisi dan aktivis lingkungan, mengungkapkan bahwa deforestasi di Riau telah mencapai 11.000 hektar per tahun. Ia menyerukan perlunya Jihad Ekologis, yaitu perlawanan terhadap degradasi lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan dan lemahnya penegakan hukum. “Agama harus menjadi kekuatan transformatif dalam menegakkan keadilan ekologis,” katanya.
Dari perspektif Kristen, Pdt. Masieli Zendrato, Sekretaris Umum PGI Wilayah Riau, mengajak gereja untuk menjadi Eco Church, yaitu gereja yang tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga bertindak nyata dalam pelestariannya. Hal senada diungkapkan Jonno dari Persatuan Umat Buddha Provinsi Riau yang menekankan perlunya regulasi tegas dalam pengelolaan lingkungan. “Tanpa kebijakan yang kuat, upaya pelestarian lingkungan akan sia-sia,” ujarnya.
Jaelani, Wakil Bendahara Majelis Ulama Indonesia, dan Frans dari PGI menambahkan bahwa penegakan hukum yang tegas sangat diperlukan, bahkan mengusulkan hukuman berat bagi perusak lingkungan sebagai bentuk komitmen terhadap keadilan ekologis.
Kesadaran Kolektif untuk Masa Depan Bumi
Kesadaran lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Wirdati Irma, Ketua Lembaga Lingkungan Hidip dan penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Riau, menekankan pentingnya edukasi sejak dini.
“Kita tidak hanya menjadi penikmat lingkungan, tetapi juga penjaganya,” ujarnya. Ia mencontohkan kampanye di sekolah-sekolah untuk mengajarkan pentingnya menjaga gambut dan mangrove.
Dengan kolaborasi lintas iman ini, harapannya muncul aksi nyata untuk menjaga lingkungan. Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga langkah awal menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (#)
Jrnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni












