
Kegiatan ini ada tukar kado, kemudian buka puasa bersama, salat maghrib berjamaah, dan makan Bersama. Momen ini ada proses merawat kebersamaan.
Tagar.co – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam kegiatan Kajian Ramadan dan Buka Puasa Bersama Keluarga Guru dan Karyawan SD Alam Al-Ghifari Kota Blitar yang digelar, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan ini diadakan oleh pihak sekolah dan berlangsung di aula lantai 2 mulai pukul 16.30 WIB hingga selesai.
Acara tersebut diikuti oleh hampir seratus dari keluarga guru dan karyawan yang meliputi suami, istri, dan anak. Menariknya, kegiatan ini khusus untuk keluarga besar guru dan karyawan tanpa melibatkan murid. Hal ini dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antar keluarga besar sekolah.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan sambutan kepala sekolah, dilanjutkan Kajian Ramadan, tukar Kado, buka puasa bersama, salat maghrib berjamaah, makan bersama, foto bersama, dan diakhiri dengan kepulangan para peserta.
Kepala SD Alam Al-Ghifari Kota Blitar, Adif Fanani, S.Si., dalam sambutannya mengajak seluruh keluarga besar sekolah untuk meneladani semangat ibadah Nabi Muhammad pada akhir Ramadan.
“Pada 10 hari terakhir Puasa Ramadan, Nabi Muhammad lebih semangat dalam beribadah. Semoga kita juga bisa berusaha seperti itu, aamiin,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kebersamaan seluruh keluarga besar sekolah dalam kegiatan tersebut.
“Untuk acara ini kami sudah berusaha yang terbaik dan mohon maaf jika ada kekurangan. Kalau ada kebaikan maka bisa diceritakan, tetapi kalau ada keburukan maka jangan diceritakan,” tambahnya.
Kajian Ramadan pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Ustadz Muhammad Saifudin Zuhri yang dikenal sebagai penggiat pendidikan pemuda, koordinator Al-Qur’an, trainer Wafa, serta aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan.
Dalam materinya, ia mengingatkan bahwa perjalanan Ramadan harus disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Telah terjadi gerhana bulan, itu menjadi tanda bahwa kita sudah melewati setengah perjalanan Puasa Ramadhan. Maka waktu yang tersisa harus dimaksimalkan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa masa terbaik dalam sejarah umat Islam adalah ketika hidup bersama Nabi Muhammad dan setelahnya yaitu para sahabat. Menurutnya, kehidupan seorang Muslim harus dipenuhi dengan rasa syukur dan kesabaran dalam keseharian.
“Kita ini berada dalam komunitas yang saling mengingatkan untuk kebaikan. Umat Islam disebut sebagai umat terbaik, kuntum khoiro umatin,” jelasnya.
Sebagai penguat pesan tersebut, ia menyampaikan dalil dari Al-Qur’an:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Ia juga menekankan bahwa Allah memberi ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Bahkan malaikat pun bisa melihat bahwa manusia terkadang belum maksimal dalam menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Oleh karena itu, umat Islam perlu terus memperbaiki diri.
Menurutnya, saat ini masih ada orang yang tidak berpuasa tanpa udzur syar’i. Hal tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar lebih menjaga ibadahnya.
Dalam kajian tersebut ia juga menyampaikan kisah Siroh Nabi Muhammad. Selama hidupnya, Rasulullah bertemu bulan Ramadhan sebanyak sembilan kali. Puasa Ramadhan sendiri baru diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah.
Pada masa itu, aktivitas kaum Muslimin sangat berat karena banyak kegiatan fisik, termasuk peperangan.
“Rasulullah selama 10 tahun sekitar 65 kali terlibat dalam peperangan. Jika dihitung, dalam satu tahun sekitar enam sampai tujuh kali, berarti hampir dua bulan sekali terjadi perang. Bahkan pernah terjadi juga pada bulan Ramadan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa umat Islam tidak boleh terlihat lemah dan harus menjaga harga diri.
Ia juga menceritakan peristiwa pada 4 Ramadan tahun pertama Hijriyah ketika sekitar 30 orang kaum Muslimin menghadang kafilah dagang Quraisy yang jumlahnya lebih banyak. Peristiwa tersebut akhirnya diselesaikan dengan damai melalui penengah.
Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak boleh dipandang lemah meskipun jumlahnya sedikit.
Selain itu, ia mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri setiap pertemuan dan kebersamaan. “Kita harus mensyukuri setiap pertemuan. Dari komunitas yang kecil bisa menjadi besar. Kedholiman tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.
Pada akhir kajian ia menegaskan bahwa menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan bukanlah sunnah Rasulullah.
“Saat puasa menjadi santai itu tidak sunnah. Justru Ramadan adalah momentum untuk lebih semangat beramal,” katanya.
Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh pemateri.
Tukar Kado
Kegiatan dilanjutkan dengan tukar kado yang berlangsung meriah, kemudian buka puasa bersama, salat maghrib berjamaah, makan bersama, foto bersama, dan diakhiri dengan kepulangan para peserta dengan penuh kebersamaan.
SD Alam Al-Ghifari Kota Blitar beralamat di Jalan Sumba Nomor 38, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Sekolah ini berada dalam naungan Yayasan Al-Ghifari Kota Blitar.
Lembaga pendidikan ini memiliki visi Cinta Allah, Cinta Islam, dan Cinta Alam dengan menjadikan alam sebagai media pembelajaran. SD Alam Al-Ghifari juga tergabung dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) dan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Empowering Islamic School.
Selain itu, sekolah ini juga telah meraih predikat Adiwiyata Mandiri Tahun 2023 serta menjadi Sekolah Penggerak pada Tahun 2022.
SD Alam Al-Ghifari termasuk dalam Yayasan Sekolah Alam Al-Ghifari Kota Blitar dan terus berupaya menjadi lembaga pendidikan yang terbaik, unggul, ramah anak, serta semakin diminati masyarakat dengan jumlah murid yang terus bertambah di masa mendatang. (#)
Jurnalis Agus Fawaid. Penyunting Ichwan Arif












