
Perjalanan ini membuka lembaran sejarah Andalusia—tentang kemegahan arsitektur, kejayaan ilmu, dan pelajaran dari runtuhnya sebuah kekuasaan.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Perjalanan tour Maroko–Portugal–Spanyol menghadirkan kisah yang bukan sekadar wisata, tetapi juga tapak tilas peradaban besar yang pernah berjaya di Eropa.
Baca juga: Menyusuri Jejak Islam di Tanah Portugal
Dua kota, Córdoba dan Granada, menjadi saksi bisu kejayaan tersebut—menyuguhkan perpaduan sejarah, arsitektur, dan pelajaran berharga tentang naik turunnya sebuah peradaban.

Dari Badajoz ke Córdoba: Menyusuri Gerbang Andalusia
Perjalanan dimulai dari Badajoz, kota perbatasan Portugal–Spanyol, pada 28 April 2026 pukul 08.00 pagi. Dengan jarak sekitar 141 kilometer, rombongan tiba di Córdoba dua jam kemudian.
Kota ini langsung menyambut dengan atmosfer sejarah yang kental—seolah mengajak setiap pengunjung menyelami masa lalu Andalusia.
Didampingi pemandu lokal, Raffael Jesus Alvarez Córdoba—yang fasih berbahasa Indonesia—rombongan diajak mengunjungi berbagai situs penting.

Córdoba: Kota Warisan Peradaban
Salah satu titik pertama adalah Jembatan Musa bin Nushair, jembatan bersejarah yang melintasi Sungai Wadi Al-Kabir. Awalnya dibangun oleh Romawi, jembatan ini kemudian diperkuat pada masa Islam dengan struktur yang kokoh dan desain megah, terdiri dari 17 lengkungan yang simetris.
Tak jauh dari sana berdiri Menara Calahorra, benteng pertahanan kuno yang kini menjadi museum hidup Al-Andalus. Tempat ini merekam masa ketika Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dalam harmoni.
Namun, ikon utama Córdoba adalah Masjid-Katedral Córdoba (Mezquita). Bangunan ini memiliki perjalanan panjang: dari gereja Visigoth, menjadi masjid megah pada era Abdurrahman I, hingga akhirnya berfungsi sebagai katedral setelah penaklukan oleh Raja Ferdinand III. Kini, kompleks tersebut menjadi simbol percampuran budaya yang unik—70 persen museum dan 30 persen katedral aktif.
Menariknya, meski Córdoba pernah menjadi pusat Islam di Eropa, kini hanya terdapat masjid kecil yang digunakan komunitas Muslim setempat.

Jejak Ilmuwan dan Kota Istana
Córdoba juga menyimpan jejak tokoh ilmuwan seperti Mohamed Al Gafeolii, seorang dokter mata yang dikenal melalui karya The Right Guide to Ophthalmology. Patungnya masih berdiri sebagai penghormatan atas kontribusinya.
Keesokan harinya, rombongan mengunjungi Medina Az-Zahra, kompleks istana megah yang dibangun oleh Abdurrahman III sebagai pusat pemerintahan Kekhalifahan Córdoba. Meski kini tinggal reruntuhan, kemegahan masa lalu masih terasa dari struktur dan tata kotanya.

Granada: Benteng Terakhir Andalusia
Perjalanan berlanjut ke Granada, sekitar 200 kilometer dari Córdoba. Kota ini menjadi penutup kisah panjang kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia.
Di kawasan Albaicín, rombongan melaksanakan salat di masjid yang kini menjadi simbol keberadaan Muslim modern di Granada. Masjid ini berdiri menggantikan bangunan lama yang telah beralih fungsi.

Alhambra: Mahakarya di Atas Bukit
Puncak perjalanan di Granada adalah kunjungan ke Istana Alhambra—kompleks istana dan benteng yang dibangun pada abad ke-13 oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar.
Berdiri di atas Bukit La Sabica, Alhambra menawarkan panorama kota Granada dari ketinggian sekaligus menampilkan keindahan arsitektur Islam dengan ukiran kaligrafi Al-Qur’an di dinding-dindingnya.
Dengan luas sekitar 14 hektar, Alhambra merupakan satu-satunya kompleks istana Islam yang masih utuh dari era Dinasti Nasrid—kerajaan Islam terakhir di Eropa Barat.
Namun, kejayaan itu berakhir pada 2 Januari 1492, ketika Granada jatuh ke tangan Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol.

Refleksi: Pelajaran dari Sejarah
Córdoba dan Granada bukan hanya destinasi wisata, melainkan cermin perjalanan peradaban. Di masa lalu, kota-kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya yang maju.
Namun, sejarah juga mengingatkan bahwa setiap kejayaan memiliki masa puncak dan masa penurunan.
Perjalanan ini meninggalkan satu pesan kuat: kemajuan peradaban lahir dari ilmu dan toleransi, tetapi keberlanjutannya bergantung pada bagaimana nilai-nilai itu dijaga. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












