Cerpen

Tanpa Amplop, Aku Ditulis sebagai Pemberi Terbesar

120
×

Tanpa Amplop, Aku Ditulis sebagai Pemberi Terbesar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Aku datang ke pernikahan sahabat tanpa amplop—hanya dengan rasa malu yang kusembunyikan. Bertahun-tahun kemudian, sebuah surat membuktikan bahwa kehadiranku adalah hadiah paling berharga.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Undangan pernikahan itu tergeletak di atas meja kecil yang catnya mulai mengelupas. Di sebelahnya, dompetku terbuka—tipis, nyaris kosong. Di dapur, beras tinggal seperempat toples. Aku menatap keduanya bergantian, lalu menghela napas pelan.

Di lantai, kedua anakku tertawa memainkan mobil-mobilan plastik yang rodanya sudah tidak lengkap. Suara mereka ringan, seolah dunia tidak sedang sesempit ini.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Rika.

Baca juga: Perkara Dianggap Selesai

Namanya langsung menarikku kembali ke masa ketika kami duduk berdampingan di bangku kuliah, berbagi catatan, berbagi mimpi yang waktu itu terasa besar dan mungkin.

“Aku menikah bulan depan. Kamu harus datang, ya.”

Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali. Jempolku menggantung di atas layar.

Datang… tanpa membawa apa-apa?

Rasanya seperti masuk ke ruangan penuh cahaya sambil membawa bayangan.

Akhirnya aku mengetik balasan.

“Aku senang sekali dengarnya, Rik. Tapi… mungkin aku tidak bisa datang. Keadaanku lagi sulit.”

Aku berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.

Kali ini kukirim.

Tidak sampai satu menit, balasan muncul.

“Kamu datang saja. Jangan pikirkan apa-apa. Bawa anak-anakmu. Makan yang banyak, ya.”

Aku menatap layar itu lama. Kalimatnya sederhana, tapi ada sesuatu yang mengendur di dalam dada—seperti simpul yang perlahan dilepas.

Baca Juga:  Hukum Balasan dalam Kehidupan

Hari pernikahan itu datang juga.

Aku memilih gaun terbaik yang masih tersisa di lemari. Bahannya sudah sedikit pudar, tapi masih rapi. Sepatu kupinjam dari tetangga—sedikit sempit, tapi cukup pantas.

Di depan gedung, aku berhenti sebentar.

Orang-orang berdatangan dengan pakaian indah. Di dekat pintu masuk, sebuah kotak besar berdiri, dijaga dua orang. Satu per satu tamu memasukkan amplop, lalu melangkah masuk dengan percaya diri.

Tanganku menggenggam tangan anak-anakku lebih erat.

Kami berjalan melewati kotak itu.

Tanpa berhenti.

Di dalam, lampu-lampu menggantung terang. Aroma makanan hangat bercampur dengan parfum para tamu. Suara tawa, obrolan, dan musik mengisi ruangan.

Aku berdiri di tepi, berusaha tidak terlihat mencolok.

Lalu seseorang memanggil namaku.

“Eh! Kamu datang!”

Rika.

Ia sudah berdiri di pelaminan, tapi begitu melihatku, ia turun begitu saja. Gaunnya sedikit terangkat saat ia berjalan cepat, hampir berlari.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, ia sudah memelukku erat.

Pelukan itu hangat. Tidak canggung. Tidak basa-basi.

Seolah aku memang ditunggu.

“Kamu benar-benar datang,” katanya pelan di dekat telingaku.

Aku hanya mengangguk. Tenggorokanku terasa penuh.

Ia lalu menatap kedua anakku, tersenyum lebar.

“Lapar, ya? Ayo, kita ambil makan dulu.”

Ia menggandeng tanganku, membawaku ke meja prasmanan. Ia bahkan memanggil petugas katering, meminta mereka menyiapkan piring untuk anak-anakku.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Merawat Cinta setelah Ramadan

“Yang banyak, ya,” katanya.

Cara ia berbicara—tanpa ragu, tanpa sungkan—membuatku merasa bukan tamu yang kekurangan, tapi seseorang yang memang punya tempat di sana.

Aku duduk di sudut ruangan setelah itu.

Dari jauh, kulihat tamu-tamu datang silih berganti ke pelaminan. Mereka berjabat tangan, tersenyum, lalu pergi. Rika sesekali melirik ke arahku.

Setiap kali mata kami bertemu, ia tersenyum kecil.

Senyum yang tidak meminta apa-apa.

Malam itu aku pulang dengan langkah yang lebih ringan.

Di jalan, anak-anakku tertidur di pundakku.

“Aku akan membalasnya,” bisikku dalam hati.

Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku yakin suatu hari nanti, aku harus.

Tahun-tahun berlalu.

Suamiku pergi.

Tanpa banyak kata, tanpa penjelasan yang bisa kupegang.

Rumah yang dulu terasa sempit kini terasa kosong sekaligus berat.

Aku mulai bekerja apa saja.

Menjahit. Membuat kue. Menitipkan dagangan di warung.

Hari-hari terasa panjang, tapi tidak ada pilihan selain berjalan.

Di sela-sela itu, ingatan tentang Rika sesekali muncul—singkat, tapi hangat.

Suatu sore, pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Aku membacanya sekali.

Lalu sekali lagi.

Rika meninggal.

Tanganku diam di atas ponsel. Ruangan terasa sunyi, meskipun suara televisi masih menyala.

Beberapa hari kemudian, seorang perempuan datang ke rumahku.

Ia memperkenalkan diri sebagai sepupu Rika.

Baca Juga:  Doa ke Makkah sebelum Dewasa

Di tangannya, sebuah amplop cokelat.

“Ini untuk kamu,” katanya.

Aku tidak langsung membukanya.

Amplop itu tergeletak di meja, di tempat yang sama seperti undangan dulu.

Setelah lama, aku duduk dan membukanya perlahan.

Di dalamnya, ada surat tulisan tangan.

Dan uang.

Banyak.

Tanganku bergetar sedikit saat membuka lipatan surat itu.

Tulisan Rika masih sama—rapi, tenang.

Ia menulis tentang hari pernikahannya.

Tentang aku.

Tentang bagaimana aku datang.

Mataku mulai buram.

Ia menulis bahwa kehadiranku hari itu lebih ia ingat daripada semua amplop yang ia terima.

Ia menulis bahwa sejak saat itu, ia berjanji—jika suatu hari ia mampu, ia ingin membantuku.

Aku berhenti membaca sejenak. Mengusap mata.

Lalu melanjutkan.

Di bagian akhir, kalimatnya semakin pelan, seolah ia sedang berbicara langsung.

Uang dalam amplop itu, katanya, bukan hadiah.

“Itu amplop pernikahanku untukmu.”

Napasaku tertahan.

Aku membaca baris terakhir.

Ia menulis bahwa sejak awal, ia tahu aku tidak membawa apa-apa hari itu.

Tapi di catatan pribadinya, ia tetap menulis namaku.

Sebagai pemberi amplop terbesar.

Aku menurunkan surat itu perlahan.

Ruangan terasa sunyi.

Di luar, suara anak-anak bermain terdengar samar.

Aku menatap amplop itu lama.

Lalu akhirnya memeluknya.

Seolah itu adalah pelukan terakhir yang tertunda bertahun-tahun. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni