
Peserta workshop diajak mengasah kepekaan melalui pengamatan detail, mulai dari visual hingga intuisi, guna menghasilkan tulisan berita yang lebih hidup dan informatif.
Tagar.co — Workshop penulisan berita bertema “Mengaktifkan 6 Indra” diselenggarakan pada Jumat, 24 April 2026, di Kelas 1 K.H. Ibrahim, SD Muhammadiyah 1 Kebomas. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.15-16.30 WIB ini menghadirkan Mohammad Nurfatoni, Redaktur Pelaksana Tagar.co, sebagai narasumber.
Workshop diikuti oleh 23 guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 Kebomas serta 4 guru perwakilan SMP Muhammadiyah 4 Kebomas.
Baca juga: Dari “Bondo Nekat” ke Berkualitas, Guru SD Muri Diajak Naik Level Menulis
Sejak awal kegiatan, suasana kelas terasa hidup dan kondusif. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela ruang menambah kesan hangat kelas yang vercata dua gradasi warna: hijau dan biru. Sementara para peserta tampak duduk rapi dan fokus menyimak materi.
Penyampaian materi oleh Fatoni—sapaan akrabnya—yang jelas dan komunikatif membuat peserta mudah memahami isi materi. Sesekali, tawa ringan muncul dan mencairkan suasana kelas.
Alih-alih duduk di meja narasumber, ia lebih banyak bergerak aktif di dalam kelas. Ia berkeliling mendekati peserta, dengan ekspresi wajah yang terus berubah—kadang serius, kadang tersenyum, bahkan sesekali tertawa lepas. Sementara itu, gerakan tangannya turut menegaskan setiap poin yang disampaikan.

Dari Berita Pamflet ke Enam Indra
Kegiatan diawali dengan pembahasan tentang penulisan caption foto. Narasumber menjelaskan bahwa caption harus memuat unsur siapa, sedang apa, peristiwa yang terjadi, serta lokasi kejadian. Dengan demikian, caption tidak hanya menjadi pelengkap gambar, tetapi juga berfungsi sebagai informasi singkat yang tetap bernilai berita.
“Ini yang saya sebut berita pamflet,” kata Direktur Penerbit Kanzun Books itu.
Selama kegiatan berlangsung, suasana ruangan yang nyaman meski sedikit hangat turut mendukung konsentrasi peserta. Mereka tampak serius dan teliti dalam memilih kata saat mengikuti sesi latihan.
Untuk memperkuat pemahaman, peserta kemudian mengikuti kuis sederhana mengenai penggunaan kata sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Momen ini menghadirkan suasana yang dinamis, memadukan ketegangan dan antusiasme saat peserta berusaha menjawab pertanyaan dengan tepat.
Memasuki sesi inti, Fatoni yang mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan celana hitam menekankan pentingnya mengaktifkan enam indra dalam menulis berita, yakni visual, auditori, penciuman, perasa, peraba, serta intuisi.
“Dengan mengaktifkan indra, berita kita akan berasa karya sastra yang dibangun atas fakta,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa intuisi sebagai indra keenam berperan dalam membantu jurnalis menangkap hal-hal yang tidak tampak secara langsung dalam suatu peristiwa.
Peserta juga mendapatkan pelatihan pemotretan untuk menangkap momen penting. Melalui kegiatan ini, mereka diajak mengamati detail serta menggali sisi-sisi tersembunyi dari sebuah peristiwa, lalu menuangkannya ke dalam tulisan yang lebih hidup dan bermakna.
Secara keseluruhan, workshop berlangsung dengan suasana yang menyenangkan dan penuh semangat. Antusiasme peserta terlihat jelas, meskipun pada beberapa momen kegiatan terasa cukup menantang, terutama ketika banyak hasil tulisan ditampilkan secara bersamaan.
Dalam penyampaiannya, Fatoni berharap kemampuan menulis para peserta terus berkembang. “Saya berharap teman-teman ke depan tidak hanya mampu menulis berita, tetapi juga menulis cerpen dan opini. Menulis bisa menjadi gaya hidup sekaligus keterampilan hidup,” ujarnya.
Melalui workshop ini, diharapkan budaya menulis di lingkungan sekolah semakin tumbuh dan berkembang secara positif.
Jurnalis Nurul Ainia Rachmayuni; Juara ketiga praktik menulis











