Cerpen

Goresan Kecil di Balik Sedekah Subuh

68
×

Goresan Kecil di Balik Sedekah Subuh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Goresan Kecil di Balik Sedekah Subuh
Ilustrasi cerpen Goresan Kecil di Balik Sedekah Subuh (Al)

Sejenak ia berpikir untuk tetap melaju, tetapi takut menabrak rumah atau pengendara lain. Ia pun mendadak mengerem, hingga akhirnya terjatuh dan terpental dari motor, terguling beberapa kali.

Oleh Rita Maralina, S.E., S.Pd., guru TK Aisyiyah 5 Bungah Gresik

Tagar.co –  Sore itu, tidak biasanya anak lelakiku rajin merawat motor kesayangannya. Ia mengganti oli dan melakukan servis sehingga motornya terasa lebih ringan dan nyaman.

“Ma, besok Selasa aku boleh pinjam motornya?” tanya Iqbal padaku.

“Lho, bukannya motor itu sudah kamu pakai dari kemarin? Pakai saja. Mama tidak sedang ke mana-mana,” jawabku, sedikit penasaran. “Memangnya kamu mau ke mana, Kak?” lanjutku.

“Aku mau muncak, Ma. Tidak menginap kok, naik lalu langsung turun lagi,” kata Iqbal, merajuk agar aku mengizinkan.

Seperti sebelumnya, setiap kali ia meminta izin untuk naik gunung, hati dan perasaanku selalu terasa berat dan resah. Entah mengapa aku seakan tidak rela melepasnya ke tempat itu.

Belum lagi, belakangan ini viral berita tentang seorang pendaki yang tidak pamit kepada orang tuanya, lalu tiba-tiba menghilang dan tak kembali.

“Ehm… bukan soal itu juga. Namanya juga takdir,” gumamku dalam hati.

Baca Juga:  Mi Sahur Pukul 02.10

Sebenarnya, aku sangat khawatir ketika ia muncak nanti akan meninggalkan beberapa waktu salatnya.

Aku tahu kebiasaannya di rumah: selalu harus diingatkan entah berapa kali untuk salat.

Samar-samar terdengar azan subuh berkumandang. Sebelum berangkat ke masjid, aku sempat membangunkan Iqbal.

“Kak, sudah azan subuh. Salat dulu ya sebelum berangkat muncak.”

Sampai di pintu, aku berbalik lagi ke kamar. Kubuka dompet yang hanya tersisa uang seratus lima puluh ribu rupiah untuk seminggu. Tanpa berpikir panjang, kuambil selembar uang biru itu, yang sudah kusiapkan sejak selesai salat tahajud tadi malam.

Entah mengapa hatiku resah, seolah doaku saja tidak cukup untuk menjaga anakku.

Sedekah subuh itu kuniatkan agar Allah menjaga anakku saat aku tak bisa menjaganya. Aku memohon agar Allah mengembalikannya ke dalam pelukanku.

Waktu pun berlalu. Tak terasa malam tiba.

“Ma, kakak ke mana kok belum pulang?” tanya adiknya yang baru saja pulang kerja.

“Kalau tidak ada dicari, tapi kalau ketemu masalah kecil saja bisa adu mulut. Kenapa, kangen ya?” jawabku, sedikit meledek.

Baca Juga:  Di Antara Terapi, Lelah dan Doa Seorang Nenek

“Iya, dari pagi bangun tidur aku sudah tidak ketemu kakak. Ini sudah malam, lho, Ma,” katanya mulai khawatir.

“Tidak tahu. Kakak juga tidak memberi kabar. Nanti kalau Mama WhatsApp, paling cuma dibaca saja, atau malah tidak aktif,” jawabku, kini mulai cemas.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Berkali-kali terbangun, tetapi kupaksa untuk kembali terlelap karena besok harus bekerja. Usia yang telah melewati setengah abad memaksaku untuk lebih menjaga kesehatan, termasuk pola tidur dan makan.

Dari dalam kamar, aku mendengar suara motor kakak membuka pagar rumah. Namun, karena baru saja terlelap, aku tidak sanggup bangun untuk menyapanya.

Hingga pagi hari, setiap bangun tidur, aku memastikan untuk melihat ke kamarnya, memastikan ia baik-baik saja.

Siang itu, sepulang kerja, aku mulai menyapanya. Aku bertanya tentang pengalaman muncaknya sambil menyodorkan sebungkus nasi goreng untuk makan siang.

Saat itulah aku melihat kedua lutut anakku memar biru dan sedikit lecet.

“Kenapa, Kak, kaki kamu? Kamu jatuh ya? Jatuh di mana? Mama sudah bilang, naik motor jangan ngebut. Kalau jatuh, sakit, kan?” tanyaku bertubi-tubi.

Baca Juga:  Doa yang Tak Pernah Pensiun

Anakku pun mulai menceritakan kronologinya. Ternyata ia pergi bersama kekasihnya, lalu mengantarnya pulang.

Karena lelah, ia diminta beristirahat sebentar, apalagi saat itu hujan turun deras. Setelah hujan reda, ia pamit pulang karena tidak ingin membuatku menunggu terlalu lama.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ia mengantuk. Ia kaget saat di depannya ada pertigaan dengan tikungan tajam.

Sejenak ia berpikir untuk tetap melaju, tetapi takut menabrak rumah atau pengendara lain. Ia pun mendadak mengerem, hingga akhirnya terjatuh dan terpental dari motor, terguling beberapa kali. Untungnya, ada seorang bapak tua penjual gorengan yang segera menolongnya.

Mendengar kisah itu, sekilas aku sempat menyalahkan Tuhanku. Marah dan bertanya, “Mengapa tidak Kau jaga anakku, ya Allah?”

Namun, setelah kuusap lukanya, tanpa kusadari air mata ini menetes. Hatiku luluh menatap anakku.

Dalam hati aku berbisik, “Terima kasih, ya Allah. Kau selamatkan anakku. Kau kembalikan dia ke dalam pelukanku. Seandainya tadi pagi aku tidak menitipkannya kepada-Mu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Aku bersyukur atas kehendak-Mu, dan aku beriman kepada-Mu.

Penyunting Ichwan Arif

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…