Feature

Aliansi BEM Surabaya Bangun Ruang Dialog Kritis dan Solutif dengan Pemkot

102
×

Aliansi BEM Surabaya Bangun Ruang Dialog Kritis dan Solutif dengan Pemkot

Sebarkan artikel ini
Kebersamaan Aliansi BEM Surabaya bersama narasumber dan peserta usai Dialog Interaktif bertema “Komunikasi dalam Kebijakan” di Rumah Bhineka Surabaya, Senin (20/4/2026). (Tagar.co/Nur Amalia Fitri)

Aliansi BEM Surabaya menggelar dialog interaktif untuk menjembatani komunikasi mahasiswa dan pemerintah serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif.

Tagar.co – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Surabaya menggelar Dialog Interaktif bertema “Komunikasi dalam Kebijakan” di Rumah Bhineka Surabaya, Senin (20/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif antara mahasiswa dan Pemerintah Kota Surabaya untuk membangun komunikasi yang lebih efektif dalam isu kebijakan publik.

Sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya turut ambil bagian, di antaranya Umsura, Unesa, Ubhara, STAI Lukman Hakim, STIDKI Ar-Rahmah, serta kampus lain yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya.

Baca juga: Ngabuburit Kebangsaan, Mahasiswa Surabaya Bahas Peran Demokrasi Menuju Indonesia Emas 2045

Forum ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait pentingnya komunikasi dalam kebijakan publik, membuka ruang dialog dengan pemerintah, sekaligus menghimpun aspirasi untuk dirumuskan menjadi rekomendasi strategis yang inklusif.

Dalam sesi pemaparan, narasumber Edi Setiawan menekankan pentingnya komunikasi sebagai fondasi dalam membangun relasi, menyampaikan gagasan, dan memengaruhi arah kebijakan. Ia juga menyoroti bahwa cara pandang seseorang tidak lepas dari pengalaman dan lingkungan yang membentuk perspektifnya.

Baca Juga:  Rapimda BEM Nusantara Jatim Perkuat Konsolidasi Gerakan Mahasiswa Jelang May Day

“Sering kali kita menilai sesuatu hanya dari apa yang terlihat. Padahal persepsi dipengaruhi oleh atensi, harapan, motivasi, dan ingatan. Maka penting bagi kita untuk membuka cara berpikir dan menghargai perspektif orang lain,” ujarnya.

Edi turut memaparkan konsep kunci kesuksesan yang mencakup rasa kemauan, rasa kemampuan, dan tenaga kemampuan. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh potensi, tetapi juga oleh kemampuan membangun pola pikir, menyusun perencanaan, serta mengeksekusi aksi secara konsisten.

Selain itu, ia mengingatkan peserta agar tidak terjebak dalam pola pikir jumping to conclusions, yakni menarik kesimpulan secara cepat tanpa analisis yang matang. Pola ini dinilai dapat memicu kesalahan persepsi dan memperbesar persoalan yang sebenarnya tidak signifikan.

Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya Nasrawi berharap tercipta komunikasi yang lebih terbuka antara mahasiswa dan Pemerintah Kota Surabaya. Forum tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan konstruktif sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam pembangunan daerah.

Dia menegaskan bahwa dialog ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan langkah awal menuju sinergi berkelanjutan antara mahasiswa dan pemerintah. Ia menekankan pentingnya ruang dialog yang setara agar aspirasi mahasiswa tidak hanya didengar, tetapi juga direspons secara konkret.

Baca Juga:  Ngabuburit Kebangsaan, Mahasiswa Surabaya Bahas Peran Demokrasi Menuju Indonesia Emas 2045

“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah. Melalui dialog ini, kami mendorong hadirnya komunikasi dua arah yang sehat, kritis, dan solutif. Harapannya, setiap gagasan yang lahir dari forum ini dapat menjadi rekomendasi strategis yang benar-benar dipertimbangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya,” tegasnya. (#)

Jurnalsi Nur Amalia Fitri Penyunting Mohammad Nurfatoni