Feature

Malam yang Menyalakan Mimpi: Cara Mabit SD Muri Membentuk “Kapten Masa Depan”

121
×

Malam yang Menyalakan Mimpi: Cara Mabit SD Muri Membentuk “Kapten Masa Depan”

Sebarkan artikel ini
Mahfudz Efendi, S.Pd.Gr., M.M., memberikan motivasi kepada peserta Mabit SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Jum’at, (17/4/2026) (Tagar.co/Indah Khoirunnisa)

Bukan sekadar menginap, puluhan siswa SD Muhammadiyah 1 Kebomas diajak mengenali arah hidup sejak dini—belajar, bermimpi, dan berani menakhodai masa depan mereka sendiri.

Tagar.co – Suasana malam di SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (17/4/2026) terasa berbeda. Di balik langit yang tenang, puluhan siswa mengikuti Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) dengan penuh antusias. Namun, kegiatan ini bukan sekadar bermalam di sekolah—ia menjelma menjadi ruang refleksi, pembentukan karakter, sekaligus titik awal menyalakan mimpi.

Di antara lantunan doa dan tadarus yang mengalun khidmat, terselip satu gagasan kuat yang menjadi benang merah kegiatan: setiap anak adalah kapten bagi masa depannya sendiri.

Baca juga: Deg-degan di Depan Penguji: Kisah 54 Siswa SD Muri Menaklukkan Munaqasah

Pesan tersebut disampaikan oleh Mahfudz Efendi, yang hadir sebagai pemateri. Dengan pendekatan sederhana dan komunikatif, ia mengajak siswa membayangkan diri sebagai nahkoda kapal yang tengah mengarungi lautan kehidupan.

“Belajar itu seperti angin yang menggerakkan kapal kita,” menjadi ilustrasi yang mudah dicerna, namun membekas. Belajar, dalam perspektif ini, bukan lagi beban, melainkan energi penggerak menuju tujuan.

Baca Juga:  CSR SD Almadany Hadirkan Cermin Keselamatan, Warga Sekitar Beri Apresiasi

Alih-alih hanya mendengar, para siswa diajak aktif membangun imajinasi. Satu per satu mulai menyebutkan cita-cita—dokter, guru, tentara, hingga pengusaha. Malam itu, mimpi tidak terasa jauh; ia hadir, dekat, dan mungkin untuk digapai.

Diana Rahmania, siswi kelas 5, mengungkapkan kesan yang menggambarkan perubahan perspektifnya.

“Saya jadi ingin lebih rajin belajar supaya bisa mencapai cita-cita. Ternyata belajar itu bisa menyenangkan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Hal senada disampaikan Hamdan Rafif Abrisam, siswa kelas 6. “Biasanya saya cepat bosan kalau belajar. Tapi tadi dijelaskan bisa sambil bermain, jadi saya ingin coba di rumah,” katanya.

Dampak kegiatan ini juga dirasakan para guru pendamping. Mohammad Hilmi Fahruddin menilai Mabit bukan hanya memperkuat sisi spiritual, tetapi juga membentuk pola pikir siswa.
“Anak-anak jadi lebih sadar bahwa belajar itu penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Guru lainnya menambahkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan keseharian siswa—mulai dari disiplin, manajemen waktu, hingga penggunaan gadget secara bijak. Pendekatan kontekstual ini membuat pesan lebih mudah diterima dan diterapkan.

Baca Juga:  Ramadan, Kursus Intensif Pengendalian Diri

Sepanjang kegiatan, siswa juga diperkenalkan pada konsep belajar yang lebih fleksibel dan menyenangkan. Kebiasaan sederhana seperti membaca ulang materi, menulis kembali, berdiskusi, hingga menjaga waktu istirahat ditekankan sebagai fondasi keberhasilan jangka panjang.

Di balik proses tersebut, peran orang tua dan guru tetap menjadi faktor kunci. Mereka adalah penuntun yang menjaga arah, terutama saat anak mulai kehilangan fokus.

Menjelang larut malam, semangat peserta justru semakin terasa. Penutup kegiatan menegaskan kembali pesan inti: apa yang dipelajari hari ini adalah investasi masa depan.

Melalui Mabit, SD Muhammadiyah 1 Kebomas tidak hanya menanamkan nilai iman dan takwa, tetapi juga keberanian untuk bermimpi dan konsistensi untuk mewujudkannya.

Di bawah langit malam yang hening, layar-layar kecil itu mulai terkembang—membawa para kapten muda menuju samudra kehidupan yang luas dan penuh kemungkinan. (#)

Jurnalis Abdul Rokhim Ashari Penyunting Mohammad Nurfatoni