Cerpen

Sepeda Kecil, Semangat Besar

11
×

Sepeda Kecil, Semangat Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Sepeda Kecil, Semangat Besar
Ilustrasi cerpen Sepeda Kecil, Semangat Besar (Al)

Kebahagiaan sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang kebersamaan, kasih sayang, dan perjuangan untuk masa depan orang yang kita cintai.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, S.Si., guru SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Langit mendung menggantung pelan di atas tambak Bitoyo pagi itu. Angin membawa aroma asin laut, menyelinap ke sela-sela rumah kayu sederhana milik keluarga kecil itu.

Di dalam rumah, Bu Fatimah (29) berjongkok sambil memasangkan sepatu kets hitam yang sudah usang ke kaki kecil Maryam (4). Sepatu itu tampak pudar, tapi masih kuat—seperti harapan yang mereka genggam.

“Sudah siap, Nak?” tanya Fatimah lembut.

Maryam mengangguk riang. “Siap, Bu! Kita jadi ke Surajaya, kan?”

Di luar, Tarno (31) sudah bersiap di halaman sempit. Ia memeriksa sepeda mini berwarna pink—satu-satunya kendaraan mereka. Rantai dilumasi seadanya, ban dipompa semampunya.

“Ayo Buk, kita berangkat!” panggil Tarno sambil tersenyum. Maryam langsung berlari kecil, lalu digendong oleh ayahnya.

“Asiiik! Kita ke Surajaya!” serunya penuh semangat.

Fatimah tersenyum tipis. Di balik senyum itu, ada doa yang diam-diam ia panjatkan.Tas ransel hitam berisi pakaian Maryam sudah terikat di keranjang depan dengan tali rafia kuning.

Tas hijau tua disangkutkan di setang. Maryam duduk di boncengan kecil warna pink yang terpasang di depan.

Baca Juga:  Capaian Gemilang Siswa Spemdalas Alesha Sabrina Sakhi di Ajang Panahan Tingkat Provinsi

Sebelum mengayuh, Tarno berhenti sejenak. “Yuk, kita doa dulu,” ucapnya.

 

Mereka menundukkan kepala.

 

“Ya Allah… lancarkan perjalanan kami. Beri kami rezeki yang halal di Surajaya,” lirih Tarno.

“Aamiin…” sahut Fatimah dan Maryam bersamaan.

Sepeda pun mulai bergerak. Perjalanan panjang itu justru terasa hangat. Di sepanjang jalan, Maryam tak henti bertanya.

“Ayah, itu apa?” tunjuknya ke sawah luas.

“Itu sawah, Nak. Tempat orang menanam padi.”

“Kalau gedung tinggi itu?”

“Itu bank, tempat orang menabung,” jawab Tarno sabar.

Maryam terdiam sejenak, lalu berkata polos, “Nanti aku kerja di gedung tinggi ya, Yah… biar ayah nggak capek.”

Tarno tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Aamiin… Ayah doakan yang terbaik untuk Maryam.”

Fatimah hanya diam, menahan haru. Sekitar pukul 06.45, Maryam mulai merengek.

“Bu… aku lapar…”

“Iya, Nak. Kita cari tempat ya,” jawab Tarno.

Tak lama, mereka menemukan taman kota Rempah yang masih sepi. Tarno memarkir sepeda di bawah pohon rindang.

Fatimah membuka bekal dari tas. Nasi putih hangat, telur ceplok dan kecap manis kesukaan Maryam, dan ikan klotok sederhana.

“Wah! Favorit Maryam!” seru si kecil.

Mereka makan bersama di atas hamparan rumput taman. Angin sepoi-sepoi menemani.

“Enak ya, Bu…” kata Maryam sambil tersenyum lebar.

“Kalau makan bareng, pasti enak,” jawab Fatimah.

 

Tarno menatap mereka berdua. Dalam diam ia berkata pada dirinya sendiri, Inilah kebahagiaan… bukan soal banyaknya harta, tapi kebersamaan.

Baca Juga:  Guru Spemdalas Menimba Energi Baru di Wardah Inspiring Teacher Gen 8

Perjalanan kembali dilanjutkan. Namun belum jauh, sepeda mendadak oleng.

“Wah… bannya bocor,” gumam Tarno.

Mereka pun harus berjalan kaki. Sekitar 300meter mereka dorong sepeda bersama.

“Capek nggak, Nak?” tanya Tarno.

“Enggak! Ini seru!” jawab Maryam sambil tertawa.

Fatimah tersenyum. Anak kecil itu tak pernah mengeluh. Akhirnya mereka menemukan tukang tamban ban. Merekapun melanjutkan perjalanan ke Kota Surajaya.

Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang nenek pemulung duduk lemas di pinggir jalan. Tarno berhenti. “Buk, ada air minum?” tanyanya.

Fatimah mengangguk dan menyerahkan sebotol minuman. Tarno menghampiri nenek itu. “Nek… ini diminum dulu ya.”

Nenek itu menerima dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Nak… semoga kalian dimudahkan rezekinya.”

Maryam menatap dengan polos. “Ayah, kita kasih lagi nggak?”

Tarno mengelus kepala anaknya. “Kalau kita punya, kita berbagi ya, Nak.”

Maryam mengangguk mantap.

Menjelang masuk kota Surajaya, mereka berhenti lagi di gerbang kota. Seekor kucing kecil tampak kurus meringkuk di dekat pos. Maryam turun dari boncengan.

“Bu, kasihan… kita kasih makan ya?”

Fatimah membuka bungkusan plastik yang sengaja diisi makanan kucing.

“Boleh, Nak.”

Maryam meletakkan makanan tersebut di depan kucing itu. Kucing itu langsung makan dengan lahap.

Maryam tersenyum bahagia.

Baca Juga:  Belajar Digital Lebih Dalam, Siswa Spemdalas Jelajahi Dunia Game dan Teknologi Berkelanjutan

“Dia pasti lapar banget…”

Tarno menatap anaknya dengan bangga. Akhirnya, setelah perjalanan panjang, mereka sampai di kos kecil yang dulu pernah mereka tempati.

“Alhamdulillah… sampai juga,” ucap Fatimah.

Tarno menarik napas panjang. “Mulai lagi dari sini, Buk.”

Fatimah menatapnya penuh keyakinan. “Iya, Pak. Kita mulai lagi… demi Maryam.”

Maryam berlari kecil masuk ke dalam.

“Ini rumah kita ya? Aku suka!”

Tarno dan Fatimah saling berpandangan, lalu tersenyum. Hari-hari berikutnya, kehidupan mereka kembali berputar.

Tarno bekerja sebagai kuli bangunan. Keringatnya menjadi saksi perjuangan. Fatimah berjualan gorengan di depan kos. Aroma hangat tempe goreng dan ote-ote mengundang pembeli.

Maryam? Ia tumbuh di tengah kesederhanaan, tapi penuh cinta.

Suatu sore, Maryam memeluk ayahnya.

“Ayah capek ya?”

“Iya, Nak… tapi Ayah senang.”

“Kenapa?”

“Karena Ayah punya kamu dan Ibu.”

Maryam tersenyum.

Di bawah langit Surajaya yang mulai jingga, keluarga kecil itu duduk bersama di depan kos. Tak ada mobil mewah.

Tak ada rumah besar. Hanya sepeda kecil, peluh, dan cinta yang tak pernah habis. Dan di situlah kebahagiaan tinggal.

Kebahagiaan sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang kebersamaan, kasih sayang, dan perjuangan untuk masa depan orang yang kita cintai.

Dalam keterbatasan, justru lahir ketulusan yang paling murni. (#)

Penyunting Ichwan Arif.