
Orang tuanya pun belajar satu hal penting—bahwa mencintai anak bukan berarti selalu membenarkan, tetapi membantu anak memahami mana yang benar.
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Ardan anak yang ceria, aktif, dan suka bermain. Tapi ia punya kebiasaan yang membuat saya sering kewalahan—Ardan mudah menangis dan suka sekali mengadu kepada orang tuanya.
Setiap pulang sekolah, hampir selalu ada cerita.
“Ma, tadi aku didorong!”
“Ma, tadi aku dipukul!”
“Ma, temanku jahat!”
Cerita yang tidak selalu utuh dia sampaikan kepada Marwa, mamanya. Sebagai orang tua yang perhatian pada setiap detail anaknya, Marwa selalu membela Ardan tanpa kompromi.
“Ustazah, tadi Ardan bilang habis di tendang Raka, bagaimana bisa anak sekecil itu berbuat kasar pada temannya,“ pesan itu saya terima suatu sore.
Marwa melanjutkan dengan cerita panjang lebar. Bibir Ardan berdarah sepulang sekolah karena di tendang Raka, teman sekelas Ardan.
“Kemarin di cekik, sekarang di tendang, kok bisa,” lanjut Marwa.
“Tolong diperhatikan ya,” pesannya.
Saya hanya tersenyum membaca pesan Marwa. Saya tahu Ardan memang sering mengadu. Tapi saya juga tahu, cerita Ardan tidak selalu lengkap. Di kelas, Ardan memang sering terlihat seperti “korban”. Tapi sebenarnya, ia juga sering memulai.
Suatu hari saat bermain, Ardan mengambil balok milik Raka tanpa izin.
“Itu punyaku!” kata Raka.
Ardan tidak mau mengembalikan. Raka mencoba mengambil kembali, dan dalam tarik-menarik kecil itu, Ardan terdorong sedikit. Tak lama kemudian, Ardan menangis.
“Ustazah! Aku didorong Raka!” teriaknya.
Saya mendekat, tidak langsung memarahi siapa pun.
“Ceritakan dari awal, ya,” Saya mencoba untuk membuat mereka bercerita tentang apa yang terjadi.
Raka menjelaskan dengan pelan, “Tadi Ardan ambil balok aku…”
Ardan terdiam. Saya menatap Ardan dengan lembut. “Ardan, apakah kamu sudah minta izin?” Ardan menggeleng pelan.
“Ardan, saat bermain dengan teman, kita harus saling menghargai. Kalau mau meminjam, Ardan harus izin dulu.”
Namun seperti biasa, saat pulang, Ardan hanya menceritakan sebagian. Mama Ardan kembali kesal dan bertanya mengapa lagi-lagi Raka berbuat jahil pada anaknya.
“Kenapa sih selalu anak saya yang diganggu? Apa orang tuanya tidak tahu kalau anaknya nakal di sekolah? Kalau tidak di arahkan dari kecil lama-lama jadi kebiasaan, ustazah.”
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Marwa kepada saya membuat saya harus meluruskan tentang apa sebetulnya yang terjadi didalam kelas. Saya mengajak Mama Ardan berkomunikasi lebih lama.
“Bu, Ardan memang pernah didorong,” ucap saya tenang. “Tapi sebelumnya, ia mengambil mainan temannya tanpa izin.”
“Tapi kan bisa baik-baik caranya, tidak harus menyakiti anak saya,” Marwa masih kukuh dengan keyakinannya, Ardan anaknya adalah anak pendiam, tidak mungkin melakukan hal-hal yang diluar kendali.
“Anak-anak seusia mereka masih belajar. Kadang mereka belum tahu mana yang benar. Karena itu, penting bagi kita untuk melihat kejadian secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.”
Mendengar penjelasan saya, mama Ardan mulai berpikir.
“Apakah selama ini Ardan bercerita secara utuh? Misalnya mengapa dia sampai ditendang atau dipukul oleh temannya di sekolah? Atau apakah Ardan juga pernah memukul temannya?”
Mama Ardan terdiam.
“Coba nanti Ibu bisa bertanya kepada Ardan dengan cara yang lebih santai, ya?” pinta saya dengan suara yang lebih lembut, berharap Ardan bisa merasa lebih nyaman menceritakan pengalamannya di sekolah.
Selepas berbincang dengan saya, Marwa mencoba untuk mengubah pertanyaannya untuk Ardan.
“Ardan, tadi di sekolah kamu main apa?”
“Main balok,” jawab Ardan.
“Waktu itu, sebelum kamu didorong… kamu sedang apa?” tanya Mama pelan.
Ardan diam sejenak.
“…Aku ambil balok Raka…”
Mama mengangguk. “Kamu sudah minta izin?”
Ardan menggeleng.
Marwa tersenyum lembut, tidak marah seperti biasanya. Akhirnya dia mengerti, cerita Ardan tidak selalu utuh.
“Kalau begitu, besok Ardan minta maaf ke Raka, ya.”
Ardan menatap Mamanya. Ia merasa sedikit berbeda—tidak langsung dibela, tapi juga tidak dimarahi.
Hari-hari berikutnya, Marwa mulai mengubah caranya mendengarkan. Marwa tetap peduli, tapi sekarang dia juga bertanya, “Setelah itu kamu bagaimana?” “Kamu melakukan apa sebelumnya?”
Ardan mulai belajar bahwa setiap cerita punya dua sisi.
Suatu hari, Ardan kembali bermain dengan Raka. Kali ini ia ingin meminjam mobil-mobilan.
“Raka, aku boleh pinjam?” tanyanya.
Raka mengangguk. “Boleh, nanti gantian ya.”
Saat bermain, tanpa sengaja Raka menyenggol Ardan hingga hampir jatuh.
Ardan sempat kesal… tapi ia tidak langsung menangis.
“Raka, hati-hati ya,” katanya
Raka mengangguk. “Iya, maaf ya.”
Sore harinya, Mama bertanya seperti biasa, “Hari ini ada cerita apa?”
Ardan tersenyum.
“Tadi aku main sama Raka. Seru.”
Mama tersenyum lega.
Perlahan, Ardan tidak lagi hanya melihat dirinya sebagai korban. Ia mulai belajar melihat kejadian secara utuh, memahami perannya, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Orang tuanya pun belajar satu hal penting—bahwa mencintai anak bukan berarti selalu membenarkan, tetapi membantu anak memahami mana yang benar.
Dan sejak saat itu, Ardan bukan lagi anak yang suka mengadu, melainkan anak yang mulai belajar menyelesaikan masalah dengan bijak. (#)
Penyunting Ichwan Arif












