Opini

Satu Hari Jatah MBG Dihapus, Jutaan Anak Berdampak

1571
×

Satu Hari Jatah MBG Dihapus, Jutaan Anak Berdampak

Sebarkan artikel ini
Satu hari jatah makan MBG yang dikurangi mungkin terlihat kecil bagi negara, tetapi bagi jutaan anak, itu adalah kepastian yang hilang, dan dampaknya tidak pernah kecil.
Ompreng MBG

Satu hari jatah makan MBG yang dikurangi terlihat kecil bagi negara, tetapi bagi jutaan anak, itu adalah kepastian yang hilang, dan dampaknya tidak pernah kecil.

Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎Tidak ada yang keliru dari pernyataan pemerintah bahwa anggaran pendidikan tidak dipotong. Dalam struktur APBN, angka itu memang tetap utuh, bahkan meningkat.

Pernyataan itu sah. Namun kebenaran itu berhenti di level makro, di tabel anggaran, di laporan resmi, di bahasa kebijakan yang rapi.

Pada saat yang sama, laporan Reuters (25 Maret 2026) menyebut, pemerintah sedang mempertimbangkan mengurangi frekuensi program makan bergizi gratis (MBG) siswa dari enam hari menjadi lima hari per minggu, dengan potensi penghematan sekitar Rp40 triliun.

Ini bukan kalkulasi yang lahir dari tekanan ekonomi dan kebutuhan menjaga stabilitas anggaran negara.

Jika diturunkan ke angka konkret, logikanya tampak sederhana.

Dengan asumsi sekitar 50 juta siswa dan biaya makan Rp10.000 per porsi, pengurangan satu hari berarti selisih Rp10.000 per anak per minggu.

Baca Juga:  Hela 50 CC Diburu Kolektor Motor

Dalam skala nasional, angka kecil itu menjelma menjadi sekitar Rp500 miliar setiap minggu, dan dalam satu tahun mendekati Rp40 triliun.

Dari sudut pandang negara, ini efisiensi yang masuk akal. Pengurangan kecil yang menghasilkan ruang besar.

Namun di sisi lain, angka yang sama berubah makna ketika dilihat dari kehidupan sehari-hari.

Satu hari yang hilang setiap minggu berarti sekitar lima puluh kali makan yang lenyap dalam setahun bagi setiap anak. Ini bukan lagi hitungan fiskal, melainkan kenyataan yang berulang.

Dalam satu wilayah dengan 100.000 siswa saja, pengurangan ini berarti jutaan porsi makan hilang dalam setahun.

Angka yang bagi negara mungkin hanya pecahan, tetapi bagi masyarakat adalah kehilangan besar.

Dampak Keluarga Miskin

‎Pengalaman dari program besar seperti Midday Meal Scheme menunjukkan bahwa kekuatan utama program makan sekolah bukan hanya pada keberadaannya, tetapi pada konsistensinya.

Program tersebut terbukti meningkatkan kehadiran sekolah hingga 10–15 persen serta memperbaiki status gizi anak secara signifikan.

Kuncinya bukan sekadar memberi makan, tetapi memberi makan secara rutin setiap hari sekolah.

Baca Juga:  Longsor Cisarua, Duka Musibah di Jawa Barat

‎Ketika frekuensi itu dikurangi, dampaknya tidak berhenti pada satu hari yang hilang.

Bagi anak-anak dari keluarga rentan, kepastian makan adalah alasan untuk datang ke sekolah. Ketika kepastian itu retak, yang terpengaruh bukan hanya asupan gizi, tetapi juga kehadiran, fokus belajar, dan daya tahan keluarga menghadapi tekanan ekonomi.

‎Di titik ini, terlihat jelas dua dunia yang berjalan berdampingan tetapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Negara berbicara dalam angka besar, menjaga stabilitas fiskal, memastikan anggaran tetap terlihat utuh.

Sementara masyarakat hidup dalam frekuensi harian, merasakan perubahan dari hal-hal kecil yang berulang.

Secara administratif tidak ada pemotongan, tetapi secara substantif ada pengurangan manfaat.

‎Analitiknya tegas: penghematan besar lahir dari akumulasi pengurangan kecil yang tersebar luas.

Negara menghemat dari jutaan porsi yang dihilangkan satu per satu, sementara dampaknya dikumpulkan oleh individu dalam bentuk kehilangan yang berulang.

‎Pada akhirnya, kebijakan ini menyisakan satu kesimpulan yang sulit dibantah. Anggaran bisa tetap utuh, tetapi nilainya bisa menyusut dalam kehidupan.

Baca Juga:  Dapur MBG PTDI Jatim dan Ikhtiar Melawan Generasi Lemah

Satu hari yang dihapus mungkin terlihat kecil bagi negara, tetapi bagi jutaan anak, itu adalah kepastian yang hilang, dan dampaknya tidak pernah kecil. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto