Feature

Tujuh Saudara dalam Lingkaran Kenangan Idulfitri

91
×

Tujuh Saudara dalam Lingkaran Kenangan Idulfitri

Sebarkan artikel ini
Tujuh saudara Bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani kembali berkumpul saat Idulfitri di Surabaya. Mereka merajut kembali silaturahmi melalui canda tawa, permainan, dan kenangan keluarga yang hangat.
Keluarga besar bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani foto bersama setelah pembagian hadiah game pada momen pertemuan keluarga di Tempel Sukorejo, Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 23 Maret 2026. (Tagar.co/Miftahuddin Al-Anshory)

Tujuh saudara Bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani kembali berkumpul saat Idulfitri di Surabaya. Mereka merajut kembali silaturahmi melalui canda tawa, permainan, dan kenangan keluarga yang hangat.

Tagar.co — Hari Raya Idulfitri tahun ini menghadirkan suasana istimewa bagi kami. Tujuh bersaudara dari keluarga besar Bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani bertemu.

Kami kembali menghabiskan malam penuh kehangatan di kediaman Imam Suyuti (63), sang kakak tertua, di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (23/3/2026). Setelah satu tahun terpisah oleh jarak, kesibukan, dan waktu, rumah yang biasanya tenang mendadak riuh oleh tawa dan cerita indah masa lalu.

Sultan Ahmad Ateem (8), putra kedua saya, bahkan sudah tidak sabar ingin segera sampai di tujuan. Alhasil, saya dan keluarga kecil saya sengaja tiba sehari sebelum hari raya, Kamis (19/3/2026). Kelima saudara saya yang lain datang menyusul secara berurutan pada hari Ahad (22/3/2026).

Tiba Satu per Satu

Imam Muttaqin (47), kakak kelima saya, tiba dari Malang sekitar pukul 11.00 WIB bersama istri dan lima buah hatinya—Fina, Farah, Fatih, Fia, dan Fio—dengan balutan busana sarimbit bernuansa abu-abu dan hitam. Tak berselang lama, Imam Al-Amin (51) dari Lamongan menyusul sekitar pukul 14.00 WIB bersama istri dan putri semata wayangnya, Shaqueena Meivira Al-Amin (8). Di waktu yang sama, adik bungsu kami, Dahlia Nurfarikhah (41), juga hadir bersama suami dan putranya, Hisyam (8).

Tidak lama berselang, Imam Syaukani (60) yang tinggal di Kupang Praupan, Surabaya, turut hadir bersama istri, Nurul Kartika Ayu, serta dua anak mereka, Abil dan Rafi.

“Loh, kok tambah tua?” celetuk Imam Syaukani sembari menjabat tangan kakak tertua kami yang rambutnya kini telah memutih. Sontak, pertanyaan itu memancing gelak tawa kami semua, seolah waktu berputar mundur dan membawa kami kembali ke masa kanak-kanak yang penuh keceriaan.

Baca Juga: Dari Gubuk Reyot ke Tanah Suci: Kisah Kaji Bejo Dapat Mukjizat saat Tragedi Mina

Tujuh saudara Bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani kembali berkumpul saat Idulfitri di Surabaya. Mereka merajut kembali silaturahmi melalui canda tawa, permainan, dan kenangan keluarga yang hangat.
Keluarga besar bani Moh. Hasjim Thohir Djaelani foto bersama pada momen pertemuan keluarga di Tempel Sukorejo, Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 23 Maret 2026 (Tagar.co/Miftahuddin Al-Anshory)

Permainan Seru Penghangat Malam

Menjelang magrib, Diyana Mufidati (57), kakak ketiga kami, akhirnya tiba bersama suami dan tiga anaknya: Iqbal, Nadya, dan Ais. Khusus putra sulung Diyana, ia memilih menggunakan kendaraan roda dua karena harus kembali bekerja esok pagi.

Selepas salat magrib, Zuraida Nur Allifah (27) membuat suasana pertemuan keluarga kian semarak. Ia mengajak kami bermain gim yang seru dan menegangkan, terutama bagi anak-anak yang sedari sore sudah mengamati berbagai macam camilan di atas meja. Fia, putri keempat dari Imam Muttaqin, tampak sangat antusias menanti biskuit cokelat favoritnya.

Zura, panggilan akrabnya, telah menyiapkan 34 paket hadiah sehari sebelum acara berlangsung. Paket tersebut berisi kaos, dompet, perlengkapan salat, sembako, hingga camilan, yang masing-masing bernomor urut 1 sampai 34. Zura juga menyiapkan kertas bertuliskan angka serupa yang digantung pada tali sepanjang satu meter.

“Kita urutkan dari anak yang usianya paling muda ya,” ujar Zura.

Fio (1), anak bungsu Imam Muttaqin, mendapat giliran pertama. Karena belum memahami aturan permainan, sang ayah dengan sigap membantu menarik benang yang dipilihnya. Setiap tarikan benang memancing kehebohan.

Dapat Hadiah

Melihat ekspresi lucu para keponakan saat menerima hadiah yang tak sesuai keinginan justru membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Usai permainan, kami melanjutkan malam dengan obrolan santai yang mengalir, mulai dari urusan pekerjaan, kehidupan di kota, hingga kenangan tentang ayah dan ibu yang telah tiada.

Sesekali suasana hening menyelimuti ruang tamu saat nama orang tua kami terucap. Namun, keheningan itu bukan duka, melainkan ruang untuk mengenang kehadiran mereka dalam setiap cerita.

Malam kian larut, udara dingin mulai merayap melalui jendela, menerpa wajah-wajah keluarga besar, tujuh saudara, yang lelah namun bahagia. Pertemuan ini mungkin hanya semalam, namun ia menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun kami melangkah, rumah dan keluarga akan selalu menjadi tempat untuk pulang. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Sayyidah Nuriyah