Cerpen

Tuduhan di Hari Raya

149
×

Tuduhan di Hari Raya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di pagi Idulfitri, tuduhan menghantam seorang penjaga yang tak pulang. Tapi justru di situlah makna maaf diuji.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Senja terakhir Ramadan perlahan meredup di langit Kabupaten Rempah. Gerbang megah Grand Hasanah tampak lebih lengang dari biasanya. Satu per satu mobil keluar, membawa keluarga yang hendak mudik.

Di pos jaga, Habibi (38 tahun) berdiri tegap. Seragamnya rapi, peluit menggantung di dada. Ia tersenyum setiap kali warga melambaikan tangan.

Klik dan baca: Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari

“Pak Habibi, kami mudik dulu ya. Titip rumah,” ujar seorang ibu dari balik kaca mobil.

“Siap, Bu. Semua alat listrik, kompor, dan air sudah dimatikan?” tanya Habibi, seperti biasa.

“Alhamdulillah, sudah.”

“Baik, Bu. Insyaallah aman.”

Senyum itu tulus. Namun di baliknya, tersimpan rindu yang tak pernah benar-benar reda. Sudah dua tahun ia tidak pulang kampung saat Lebaran. Tahun ini pun sama—tugas kembali didahulukan.

Malam takbiran tiba. Suara takbir menggema dari kejauhan, memantul di antara rumah-rumah kosong.

Baca Juga:  Nomor Lima yang Sengaja Dikosongkan

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Habibi duduk sendiri di kursi kayu pos jaga. Lampu temaram menerangi buku catatan keluar-masuk kendaraan.

Ponselnya bergetar. Panggilan video dari anaknya.

“Assalamualaikum, Yah!” suara kecil itu terdengar ceria.

“Waalaikumsalam, jagoan Ayah…”

“Ayah pulang besok?”

Habibi terdiam sejenak. Napasnya tertahan.

“Ayah lagi jaga amanah, Nak… supaya rumah orang-orang tetap aman.”

Anaknya menunduk.

“Aku kangen…”

Habibi tersenyum, meski matanya mulai basah.

“Ayah juga kangen. Doakan Ayah sehat, ya.”

Panggilan terputus. Sunyi terasa lebih dalam dari sebelumnya.

Pagi Idulfitri datang. Langit cerah, tetapi suasana Grand Hasanah tetap sepi. Hanya beberapa warga yang tidak mudik.

Habibi berdiri di gerbang, menyapa siapa pun yang lewat.

Tiba-tiba langkah tergesa terdengar. Seorang pria paruh baya, Pak Ari, datang dengan wajah panik.

“Pak Habibi! Jam saya hilang!”

“Jam, Pak?”

“Iya! Arloji mahal. Semalam masih saya simpan di kamar.”

Habibi tetap tenang.

“Mungkin bisa kita cek lagi, Pak. Atau—”

“Cek apa lagi? CCTV rusak! Saya sudah cari, tidak ada!” potong Pak Ari. “Ini pasti karena keluar-masuk ojek online! Bapak jaga atau tidak, sih?”

Baca Juga:  Green Ramadan: Puasa sebagai Gerakan Mengurangi Sampah dengan Prinsip 7R

Beberapa warga mulai berhenti dan memperhatikan.

“Perumahan ini harusnya aman, bukan seperti pasar!” lanjutnya dengan nada tinggi.

Habibi menunduk. Rahangnya sedikit mengeras, tetapi ia menahan diri.

“Saya sudah mencatat semua yang masuk, Pak. Sesuai prosedur.”

“Tapi tetap saja hilang!”

Tak ada yang bisa ia tambahkan. Ia hanya diam.

Setelah keributan mereda, Habibi kembali ke pos jaga. Ia duduk pelan. Tangannya sedikit gemetar.

“Ya Allah… saya hanya berusaha menjaga amanah ini…” bisiknya.

Takbir kembali terdengar, kali ini seperti mengetuk bagian terdalam hatinya.

Ponselnya berdering lagi.

“Ayah…”

“Iya, Nak…”

“Aku sudah pakai baju baru… tapi Ayah nggak ada…”

Habibi menutup matanya. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Maafkan Ayah, ya… Doakan Ayah.”

Ia menurunkan ponsel perlahan.

Menjelang siang, langkah kembali terdengar menuju pos jaga.

“Pak Habibi…”

Habibi mengangkat kepala. Pak Ari berdiri di depannya, kali ini dengan wajah berbeda.

“Jam saya… ternyata disimpan istri saya. Di lemari lain.”

Hening.

“Saya salah. Saya minta maaf.”

Baca Juga:  Mi Sahur Pukul 02.10

Habibi menatapnya sejenak, lalu mengangguk ringan.

“Alhamdulillah kalau sudah ketemu, Pak.”

Pak Ari menunduk lebih dalam.

“Saya terlalu cepat menuduh. Maafkan saya.”

“Tidak apa-apa, Pak.”

Tak lama, beberapa warga datang membawa makanan.

“Pak Habibi, ini lontong obos khas Kabupaten Rempah.”

“Terima kasih sudah menjaga kompleks ini.”

Suasana perlahan menghangat. Tawa kecil mulai terdengar.

Pak Ari kembali datang, membawa sekotak kue.

“Ini dari keluarga kami, Pak. Terima kasih.”

Habibi menerimanya dengan kedua tangan.

“Terima kasih, Pak.”

Siang itu, Habibi duduk di pos jaga dengan sepiring lontong obos di tangannya. Angin berembus pelan. Gerbang Grand Hasanah berdiri kokoh di hadapannya.

Jalanan masih lengang.

Ia sendirian.

Namun tidak lagi terasa kosong.

Suara takbir kembali terdengar dari kejauhan.

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Habibi menatap langit.

Ia tersenyum. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni