
Lebaran telah berlalu, tetapi pertanyaan tentang makna silaturahmi justru baru dimulai. Di tengah maraknya ucapan digital berbasis AI, apakah hubungan kita benar-benar terjaga atau sekadar terasa terhubung?
Oleh Abdul Rokhim Ashari
Tagar.co – Lebaran telah berlalu. Ucapan “Selamat Idulfitri” yang beberapa waktu lalu memenuhi layar ponsel kini perlahan menghilang, tergantikan oleh rutinitas harian. Namun, ada satu hal yang patut kita renungkan setelah momen itu lewat: bagaimana cara kita bersilaturahmi di era digital—dan apa yang mungkin telah berubah tanpa kita sadari.
Baca juga: Beda Lebaran dan Ilusi Keseragaman Umat
Di tengah derasnya arus digital, cara kita menyampaikan ucapan hari raya memang telah bergeser. Jika dulu orang rela menempuh perjalanan jauh—naik bus, kereta, bahkan berjalan kaki—demi bertemu dan berjabat tangan, kini cukup beberapa detik: mengetik perintah, menyalin teks, lalu mengirimkannya. Ucapan menjadi rapi, penuh diksi indah, bahkan terasa lebih puitis daripada yang bisa kita susun sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan meningkat signifikan. Berbagai platform dimanfaatkan tidak hanya untuk pekerjaan, tetapi juga kebutuhan personal, termasuk menyusun ucapan hari raya. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan dominasi aplikasi pesan instan, ucapan Lebaran digital telah menjadi kebiasaan yang lumrah.
Namun, setelah semua pesan itu terkirim dan hari raya usai, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang benar-benar tersisa?
Ucapan berbasis AI memang impresif. Ia mampu menyesuaikan gaya bahasa—formal, santai, religius, bahkan humoris—dalam hitungan detik. Di sisi lain, kemudahan ini juga mengurangi keterlibatan emosional. Kita tidak lagi perlu berpikir panjang untuk merangkai kata; cukup meminta, lalu menerima hasilnya. Akibatnya, nilai personal dalam sebuah ucapan menjadi kabur. Kalimat yang terdengar menyentuh belum tentu lahir dari perasaan yang sungguh-sungguh.
Berbeda dengan silaturahmi. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, silaturahmi bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan juga memiliki dimensi spiritual. Ia menjadi sarana mempererat hubungan, memperbaiki yang renggang, sekaligus menumbuhkan empati. Tidak mengherankan jika banyak orang tetap berupaya pulang kampung setiap Lebaran, meskipun harus menghadapi kemacetan, biaya besar, dan keterbatasan waktu.
Kini, setelah Lebaran berlalu, kita bisa melihat dengan lebih jernih: mana hubungan yang benar-benar terjaga, dan mana yang hanya tersentuh oleh pesan singkat.
Sejumlah kajian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa interaksi tatap muka memiliki dampak emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan komunikasi digital. Tatapan mata, ekspresi wajah, dan sentuhan langsung menghadirkan kedekatan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teks atau bahkan panggilan video.
Itulah sebabnya, permintaan maaf yang disampaikan secara langsung sering terasa lebih tulus dan membekas.
Tentu, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung. Jarak geografis, kesibukan, dan kondisi ekonomi menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, teknologi—termasuk kecerdasan buatan—memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi.
Namun, menjadikannya sebagai pengganti utama silaturahmi adalah penyederhanaan yang keliru.
Kemudahan sering kali membuat kita lalai terhadap makna. Ucapan yang dulu disusun dengan penuh pertimbangan kini dapat diproduksi secara instan. Silaturahmi yang dulu direncanakan kini cukup diwakili oleh pesan siaran. Bahkan, tidak jarang kita menerima ucapan yang sama persis dari banyak orang.
Setelah Lebaran usai, justru inilah saat yang tepat untuk mengevaluasi: apakah hubungan kita benar-benar terpelihara, atau sekadar terhubung secara digital?
Lebaran sejatinya bukan hanya perayaan tahunan, melainkan momentum refleksi. Ia mengajarkan tentang pengendalian diri, kerendahan hati, dan keberanian untuk memperbaiki hubungan. Proses ini tidak instan dan tidak selalu nyaman. Ia membutuhkan niat, usaha, dan—yang paling penting—kehadiran.
Kecerdasan buatan tidaklah salah. Ia hanyalah alat. Ketika digunakan sebagai pelengkap, ia dapat membantu. Namun, ketika menggantikan niat dan kehadiran, di situlah makna mulai tergerus.
Yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Ucapan digital tetap relevan. Teknologi tetap bermanfaat. Namun, hubungan antarmanusia tidak seharusnya berhenti pada layar. Setelah hari raya berlalu, silaturahmi justru perlu dilanjutkan—melalui telepon, kunjungan, atau sekadar percakapan yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, yang membekas bukan seberapa indah kalimat yang kita kirim, melainkan seberapa tulus kita menjaga hubungan itu setelah momen Lebaran usai.
Di dunia yang serba cepat, silaturahmi adalah jeda yang bernilai. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu dipersingkat—termasuk dalam memaafkan dan merawat kebersamaan.
Dan mungkin, di situlah makna sejati Idulfitri tetap hidup, bahkan setelah perayaannya berlalu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












