
Ramadan adalah perisai, bukan hanya dari neraka, tetapi juga dari penyakit hati. Jika puasa kita berhasil, ia akan melahirkan tiga hal—serta mematikan tuga hal. Di sinilah letak ukuran suksesnya ibadah Ramadan kita.
Oleh Hogi Caesar Budianto, S.Pd.; Guru Tahfiz dan Al Islam SMA Muhammadiyah 10 GKB; Seketaris B Dakwah Pimpinan Daerag Pemuda Muhammadiyah Gresik; Imam dan Mubalig Muda Muhammadiyah Jawa Timur
Tagar.co – Naskah khotbah lengkap sebagai berikut:
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
الحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ اللِّقَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
Jemaah yang berbahagia
Segala puji bagi Allah Taala dan senantiasa bersyukur kepadanya, karena Kemuliaannya yang kekal abadi Dialah yang mengawali dan mengakhiri, yang kekal abadi dan Maha Mengadili segala urusan setiap makhluk-Nya.
Betapa banyak nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita, masih diberikan keistiqomahan dalam Iman dan Islam, diberikan kesempatan untuk menjalin keshalehan ritual dan sosial berusaha menjadi khorinnas anfauhum linnas yaitu sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Dan marilah senantiasa kuta tingkatkan taqwa kita kepada Allah dengan menancapkan ketaqwaan itu di lubuk hati terdalam dan mencerminkan ketaqwaan tersebut dalam perilaku kita sehari-hari
Pada hari ini kita telah menyelesaikan rangkain ibadah di bulan Ramadan, di mana di bulan ramadhan kita ditarbiyah oleh Allah untuk menjadi pribadi yang mutakin, diantaranya adalah melalu ibadah puasa yang merupakan benteng.
Rasulullah Saw juga bersabda:
قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Rabb kita Azza wa Jalla berfirman, Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (Ahmad, sahih).
Jemaah yang berbahagia
Makna kata junnah ada dua yaitu perisai di akherat berupa perlindungan daripada siksa neraka, sedangkan perisai di dunia berupa dihindarkan dari nafsu syahwat yang membuka jurang maksiat, Al-Imam Ghazali menjelaskan bahwa ada 3 pangkal kemaksiatan yang harus kita lawan dengan 3 pangkal kebalikan , dan melalui ibadah puasa ramadan yang sukses seorang hamba akan mudah menerapkan 3 pangkal kebaikan dan terhindar dari 3 pangkal kemaksiatan.
Jamaah sekalian
Puasa akan membawa kita kepada sikap tawadhu dan terhindar dari al-kibr.
At Tawadu wajiblah dimiliki orang seorang muslim, maksud di sini adalah Tawadu adalah menyadari kelemahan diri, tidak merasa lebih dari yang lain, dan memuliakan orang lain tanpa memandang status atau penampilan.
“وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ”
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (Muslim)
Dan kita telah menyadari bersama bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang pling tinggi jabatannya, bukan yang paling banyak aset kekayaannya bukan yang paling viral namanya tetapi yang paling bertakwa.
Jemaah yang berbahagia
Sedangkan lawan dari tawadu adalah al-kibr, yaitu kesombongan, Islam tidak melarang kita membeli barang mahal baju mahal rumah mewah, kendaraan mewah tidak, tetapi yang dimaksud al-kibr menurut Rasulullah adalah batharul haqwaghamtunnas, menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Sehingga orang tersebut akan menerjang larangan Allah tanpa mau mendengarkan nasehat orang lain.
Dalam hadis sahih dikatakan “Laa yadhulul jannah man kana lahu mistqala dzarratin minal kibr”.
“Tidak masuk surga siapa yang ada padanya kesombongan walau hanya sebutir dzarrah.” Maka melalui ibadah puasa ramadhan kita ditarbiyah Allah untuk menjadi sosok yang tawadhu serta terhindar dari sifat takabbur.
Jemaah yang berbahagia
Puasa dapat membawa kepada qanaah dan dihindarkan dari sifat hasad. Melalui puasa kita dididik untuk senantiasa menerima ketentuan dari Allah, termasuk keterbatasan dalam makan dan minum, serta ketika berbuka walaupun cuma dengan air dan kurma itu sudah angat nikmat, menandakan bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan sehingga akan timbul sifat qanaah pada diri kita.
Seorang muslim wajib memiliki sifat kanaah yaitu nerimo ing pandum dening gusti Allah, menerima segala ketentuan Allah khairihi wa syarihi. Ada taqdir yang bisa diusahakan dan ada yang sudah ditetapkan di Lauhilmahfuz, orang yang qanaah maka diberi kelapangan hati atas segala urusannya.
Sedangkan lawan dari kanaah adalah hasad. Hasad adalah membenci nikmat yang dimiliki orang lain dan berharap nikmat itu hilang darinya.
Hasad itu menyakiti penderitanya baik jasmani maupun rohani, setiap hasad itu tercela kecuali kepada kedua orang yaitu
رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا.
(1) Seorang laki-laki yang dikaruniai Allah harta, lalu ia belanjakan di jalan yang benar.
(2) Dan seorang laki-laki yang dikaruniai Allah hikmah (ilmu), lalu ia berhukum dengannya dan mengajarkannya.” (Muttafaqun alaih)
Puasa menghindarkan dari hasad, karena disaat puasa kita diperintahkan untuk lebih empati kepada orang lain terutama kepada yang kurang mampu sehingga hati kita menjadi lembut dan lapang, hasad berasal dari kerasnya hati karena syahwat keinginan memiliki terhadap apa yang orang lain capai.
Jemaah yang berbahagia
Yang ketiga adalah puasa mengajarkan sikap zuhud dan meninggalkan al hirsu
Ketika bulan ramadhan , kita dituntut menguatkan orientasi aktivitas akherat kita sehingga pola hidup kita menjadi sederhana, orang yang berpuasa akan menyadari bahwa pahala di sisi Allah itu jauh lebih baik dari pada kesenangan duniawi sesaat.
Zuhud yang benar bukanlah harus melepas kelaziman hidup di dunia sepenuhnya seperti tidak usah bekerja, berpenampilan yang kumel kemana mana jalan kaki pakai tongkat naik macan putih sebagaimana yang diviralkan beberapa waktu yang lalu tidak, kata Imam Ahmad rahimahullah adalah :
“Zuhud itu bukan berarti kamu tidak memiliki harta. Tetapi zuhud itu adalah ketika harta tidak menguasai hatimu.”
Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata: “Zuhud terhadap dunia bukan dengan mengharamkan yang halal, tetapi engkau lebih percaya pada apa yang di sisi Allah daripada apa yang di tanganmu.”
Silahkan menikmati fasilitas mewah menikmati fasilitas duniawi lainnya, tetapi jangan sampai melalaikan dari Allah , punya baju bagus mari kita gunakan untuk salat, jam tangan mahal, mobil mewah bawalah ke masjid dan lain-lain.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sudah terjangkit al-hirsu, atau tamak, orang tamak itu sekaya apapun dia tetap seperti orang miskin, walau punya emas satu gunung tetap dia itu merasa kekurangan berbeda dengan orang biasa saja walaupun penghasilannya standar tapi dia merasa cukup , maka inilah yang dinamai keberkahan.
Pesan saad bin abi waqash kepada anak nya wahai anakku janganlah menjadi orang yang tamak karena kefakiran pasti hadir dalam sifat tamak. Maka melalui rangkaian ibadah Ramadan kita diajarkan untuk merasa cukup akan kenikmatan dunia yang menipu sehingga kita terhindar dari sikap al-hirsu.
Semoga ibadah puasa kita sukses di sisi Allah, bernilai pahala beserta seluruh amalan salih di dalamnya, serta kita bisa menerapkan at tawadhu, kanaah dan zuhud serta meninggalkan takabur, hasad dan al-hirsu.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَأَعِدْ عَلَيْنَا رَمَضَانَ أَعْوَامًا عَدِيدَةً وَنَحْنُ فِي أَحْسَنِ حَالٍ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِينَ.
اَللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Penyunting Mohammad Nurfatoni








