
Tagar.co – Fenomena langit langka akan menghiasi langit Indonesia pada Selasa malam, 3 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan akan terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat diamati langsung dari berbagai wilayah di Tanah Air.
Atas fenomena itu umat Islam disunahkan salat gerhana bulan. Berikut adalah naskah khotbah gerhana bulan oleh Ustaz Ridwan Manan, Ketua Takmir Masjid Ar-Rayyan Muhammadiyah, Buduran, Sidoarjo:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
Maasyiral muslimin rahimakumullah
Tagar.co – Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dengan ketulusan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Peristiwa gerhana bukan peristiwa biasa tanpa makna. Ia adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Langit, bumi, dan segala yang ada di dalamnya diatur secara detail dengan keteraturan dan penataan yang sempurna.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Fussilat: 37)
Rasulullah Saw. bersabda:
إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena wafat atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, perbanyak takbir, laksanakan salat, dan bersedekahlah.” (Bukhari dan Muslim)
Terjadinya gerhana adalah sunnatullah. Semua yang ada di langit dan di bumi tunduk dan patuh pada ketentuan Allah dengan bertasbih.
Allah berfirman:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (As-Shaff: 1)
Gerhana tidak terkait dengan kematian atau hidupnya seseorang sebagaimana anggapan masyarakat Arab dahulu. Selama hidupnya, Rasulullah Saw. hanya sekali mengalami peristiwa gerhana.
Peristiwa itu terjadi di akhir hayat beliau, tepatnya pada 29 Syawal tahun ke-10 Hijriah, atau sekitar lima bulan sebelum beliau wafat.
Saat itu muncul desas-desus di kalangan sahabat bahwa gerhana terjadi karena wafatnya putra beliau, Ibrahim. Untuk menepis anggapan tersebut, Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah sebagaimana hadis di atas.
Maasyiral muslimin rahimakumullah
Rasulullah Saw. memerintahkan saat terjadi gerhana agar memperbanyak doa, takbir, salat, istigfar, dan sedekah.
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَدُعَائِهِ، وَاسْتِغْفَارِهِ
“Bersegeralah menuju zikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya.” (Bukhari dan Muslim)
Peristiwa gerhana juga mengingatkan kita akan terjadinya kiamat. Kekuasaan Allah tidak terbatas; terang dapat seketika menjadi gelap. Begitu pula gempa bumi, gunung meletus, dan berbagai kejadian alam lainnya dapat terjadi kapan saja.
Maka, dengan kekuasaan-Nya, kiamat sugra maupun kubra dapat terjadi kapan pun. Karena itu, perbanyaklah doa, zikir, dan istigfar, memohon ampunan Allah atas segala dosa yang pernah kita lakukan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












