Feature

Gerhana Bulan di Kebomas, Khatib Ajak Jemaah Tinggalkan Mitos dan Perkuat Iman

232
×

Gerhana Bulan di Kebomas, Khatib Ajak Jemaah Tinggalkan Mitos dan Perkuat Iman

Sebarkan artikel ini
Ustaz Agus Wahyudi memaparkan peristiwa gerhana sebagai bukti kekuasaan dan kemahabesaran Allah Swt. dalam khutbah salat khusuf di Masjid At-Taqwa Giri, Kebomas, Gresik, Selasa (3/3/2026). (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Salat khusuf di Masjid At-Taqwa Giri Kebomas menjadi momentum tafakur. Khatib Agus Wahyudi menegaskan gerhana bukan pertanda kematian, melainkan tanda kebesaran Allah yang menguatkan keimanan.

Tagar.co – Peristiwa gerhana bulan total pada Selasa (3/3/2026) dimaknai sebagai pengingat akan kebesaran Allah oleh jemaah Masjid At-Taqwa Giri, Muhammadiyah Cabang Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Melalui pelaksanaan salat Khusuf berjemaah, umat diajak memperkuat keimanan sekaligus meluruskan pemahaman dari mitos yang tidak berdasar.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Momentum Muhasabah dan Istigfar: Naskah Khotbah

Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Giri, H. Agus Wahyudi, bertindak sebagai khatib, sementara salat gerhana bulan (khusuf) diimami Ari Suhadak.

Di awal khotbahnya, Agus mengisahkan peristiwa wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah Saw. dari pernikahannya dengan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir. Saat itu, sebagian masyarakat Madinah mengaitkan wafatnya Ibrahim dengan terjadinya gerhana matahari.

Rasulullah Saw. kemudian meluruskan anggapan tersebut dengan mengajak para sahabat melaksanakan salat kusuf. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka salat dan berdoalah kepada Allah.” (Bukhari).

Baca Juga:  Dua Anggota PDS Almadany Dapat Apresiasi Kepala Sekolah

Agus menjelaskan, pada masa Rasulullah Saw. setidaknya tercatat delapan peristiwa gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan—tiga kali gerhana matahari dan lima kali gerhana bulan. Namun, menurut riwayat lain, Nabi Saw. masing-masing sekali melaksanakan salat gerhana matahari (kusuf) dan sekali salat gerhana bulan (khusuf).

Pria asli Kawisanyar, Kebomas, itu juga mengutip Surah ar-Ra‘d 2 tentang kekuasaan Allah yang menundukkan matahari dan bulan agar beredar sesuai ketetapan-Nya.

Menurut alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo tersebut, gerhana bulan merupakan fenomena alam yang menjadi bagian dari sunnatullah dalam siklus kehidupan. Khusuf adalah peristiwa ketika cahaya bulan menghilang, baik sebagian maupun total pada malam hari, karena terhalang bayangan bumi akibat posisi bulan berada di balik bumi dan matahari.

Ia menegaskan, hukum salat gerhana, baik bulan maupun matahari, adalah sunah muakkadah. Agus juga mengutip firman Allah dalam Surah Fusilat 37 yang mengingatkan manusia agar tidak bersujud kepada matahari dan bulan, melainkan hanya kepada Allah yang menciptakan keduanya.

Baca Juga:  Istikamah: Kunci Menjaga Ibadah agar Tidak Musiman

Salat khusuf di Masjid At-Taqwa Giri berlangsung khusyuk dan menjadi momentum tafakur bagi jemaah untuk semakin menyadari kuasa Allah melalui fenomena alam. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni