Feature

Belajar Bahasa lewat Rasa: Siswa ICP Spemdalas Sajikan Jiaozi Halal untuk Chenyang Lou

48
×

Belajar Bahasa lewat Rasa: Siswa ICP Spemdalas Sajikan Jiaozi Halal untuk Chenyang Lou

Sebarkan artikel ini
Guru tamu Bahasa Mandarin, Chenyang Lou alias Lily Laoshi (ketiga dari kiri) , menyerahkan hadiah kepada perwakilan kelas peraih karya Jiaozi terbaik dalam kegiatan International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, Rabu (11/2/2026). Kompetisi ini menjadi penutup masa tugasnya selama tiga pekan di Spemdalas. (Dina Hanif Mufidah/Tagar.co)

Sebagai persembahan untuk Chenyang Lou di akhir masa tugasnya, siswa ICP Spemdalas memasak jiaozi halal penuh semangat, memadukan praktik kuliner, filosofi Imlek, dan pembelajaran Bahasa Mandarin dalam satu momen lintas budaya yang hangat.

Tagar.co – Aroma bawang putih dan minyak wijen menyeruak dari ruang-ruang kelas International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemalas) Gresik, Jawa Timur, Rabu (11/2/2026).

Siang itu, suasana belajar tak seperti biasanya. Seluruh siswa kompak mengolah jiaozi, hidangan khas Tiongkok berbahan adonan tepung berisi daging, dalam balutan semangat kolaborasi dan lintas budaya.

Baca juga: Kuas, Tinta, dan Karakter: Siswa ICP Spemdalas Belajar Budaya Mandarin lewat Shufa

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program bersama guru tamu Bahasa Mandarin asal Tiongkok, Chenyang Lou, yang akrab disapa Lily Laoshi. Di penghujung masa tugasnya selama tiga pekan di Spemdalas, ia didaulat menjadi juri tunggal dalam kompetisi pembuatan jiaozi antarkelas.

Proses memasak berlangsung di kelas masing-masing selama 60 menit. Setiap tim membagi peran secara terstruktur: ada yang menyiapkan kulit, meracik isian, melipat dengan teknik presisi, hingga merebus atau menggoreng.

Baca Juga:  Kisahkan Bilal, Guru Spemdalas Sentuh Hati Siswa SD Muhammadiyah Sidayu

Dari tiap sudut sekolah, wangi khas dumpling berbumbu memenuhi koridor, menandakan keseriusan siswa menyajikan jiaozi terbaik mereka.

Perwakilan masing-masing kelas bersiap mempresentasikan Jiaozi karya mereka dalam ajang International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, Rabu (11/2/2026). Presentasi dilakukan di hadapan guru tamu asal Tiongkok, Lily Laoshi, sebagai bagian dari penilaian akhir kompetisi kuliner lintas budaya. (Dina Hanif Mufidah/Tagar.co)

Siswa Solid

Di kelas 8 Germanium, kerja sama terlihat solid. Dinda Halwa Nabilah mendapat tugas melipat dan menggoreng. “Seru sekali. Harus hati-hati supaya tidak bocor, dan timer disetel agar merebusnya tidak terlalu lama, cukup enam sampai tujuh menit,” ujarnya.

Sementara itu, Indira Elkeisha Zahra bertanggung jawab pada bagian isian.“Kami menambahkan telur agar isian lebih lembut dan juicy,” katanya. Ia menegaskan seluruh bahan yang digunakan dipastikan halal. “No pork, no lard. We make halal jiaozi,” tambahnya penuh yakin.

Kelas 8 Germanium menghadirkan dua varian rasa, yakni ayam-udang dan daging sapi. Racikan bawang putih, bawang bombay halus, kecap asin, saus tiram, minyak wijen, lada bubuk, garam, serta bubuk kaldu menciptakan cita rasa gurih khas tanpa menggunakan bahan nonhalal.

Setelah proses memasak rampung, seluruh peserta berkumpul di Hall Andalusia untuk sesi presentasi dan penilaian. Sebelum perwakilan kelas maju, masing-masing tim menampilkan yel-yel dalam Bahasa Inggris dan Mandarin. Suasana semakin meriah dengan sorakan “We are the best!” serta “Jiāyóu! Jiāyóu!” yang menggema penuh semangat.

Baca Juga:  Bahaya Self-Diagnosis di Era Maraknya Konten Psikologi di Media Sosial
Salah satu tampilan sajian Jiaozi halal karya siswa ICP SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik yang dinilai berdasarkan cita rasa, tekstur, dan kerapian lipatan, Rabu (11/2/2026). Hidangan ini menjadi media pembelajaran kolaboratif sekaligus praktik budaya kuliner Tiongkok. (Dina Hanif Mufidah/Tagar.co)

Filosof Jiaozi

Dalam presentasi, para siswa tak sekadar memaparkan bahan dan teknik memasak. Mereka juga menjelaskan filosofi jiaozi yang identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek, sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan.

Felecia Claryce Abida, salah satu perwakilan, mengaku sengaja terlibat langsung dalam proses memasak agar memahami materi secara utuh sebelum menyampaikannya di depan juri.

Lily Laoshi mencicipi setiap sajian dengan saksama. Ia memberikan apresiasi sekaligus umpan balik terkait rasa, tekstur, serta kerapian lipatan. Ia juga menyampaikan kebahagiaannya melihat siswa ICP mampu memadukan pembelajaran bahasa dengan praktik budaya kuliner secara konkret.

Hasil penilaian menetapkan Kelas 9 Hadramaut sebagai Terbaik 1, disusul Kelas 9 Granada (Terbaik 2), Kelas 8 Germanium (Terbaik 3), Kelas 8 Ferrum (Terbaik 4), Kelas 7 Great (Terbaik 5), dan Kelas 7 Fair (Terbaik 6).

Melalui kegiatan ini, jiaozi tak sekadar menjadi hidangan. Ia menjelma medium pembelajaran kolaboratif, kreatif, sekaligus lintas budaya yang memperkaya pengalaman akademik siswa ICP Spemdalas. (#)

Jurnalis Dina Hanif Mufidah Penyunting Mohammad Nurfatoni

Baca Juga:  Saat Manajer PLN UPT Gresik Unit Induk Transmisi Jawa Timur dan Bali Mengajar di Spemdalas