
Sebagai persembahan untuk Chenyang Lou di akhir masa tugasnya, siswa ICP Spemdalas memasak jiaozi halal penuh semangat, memadukan praktik kuliner, filosofi Imlek, dan pembelajaran Bahasa Mandarin dalam satu momen lintas budaya yang hangat.
Tagar.co – Aroma bawang putih dan minyak wijen menyeruak dari ruang-ruang kelas International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemalas) Gresik, Jawa Timur, Rabu (11/2/2026).
Siang itu, suasana belajar tak seperti biasanya. Seluruh siswa kompak mengolah jiaozi, hidangan khas Tiongkok berbahan adonan tepung berisi daging, dalam balutan semangat kolaborasi dan lintas budaya.
Baca juga: Kuas, Tinta, dan Karakter: Siswa ICP Spemdalas Belajar Budaya Mandarin lewat Shufa
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program bersama guru tamu Bahasa Mandarin asal Tiongkok, Chenyang Lou, yang akrab disapa Lily Laoshi. Di penghujung masa tugasnya selama tiga pekan di Spemdalas, ia didaulat menjadi juri tunggal dalam kompetisi pembuatan jiaozi antarkelas.
Proses memasak berlangsung di kelas masing-masing selama 60 menit. Setiap tim membagi peran secara terstruktur: ada yang menyiapkan kulit, meracik isian, melipat dengan teknik presisi, hingga merebus atau menggoreng.
Dari tiap sudut sekolah, wangi khas dumpling berbumbu memenuhi koridor, menandakan keseriusan siswa menyajikan jiaozi terbaik mereka.

Siswa Solid
Di kelas 8 Germanium, kerja sama terlihat solid. Dinda Halwa Nabilah mendapat tugas melipat dan menggoreng. “Seru sekali. Harus hati-hati supaya tidak bocor, dan timer disetel agar merebusnya tidak terlalu lama, cukup enam sampai tujuh menit,” ujarnya.
Sementara itu, Indira Elkeisha Zahra bertanggung jawab pada bagian isian.“Kami menambahkan telur agar isian lebih lembut dan juicy,” katanya. Ia menegaskan seluruh bahan yang digunakan dipastikan halal. “No pork, no lard. We make halal jiaozi,” tambahnya penuh yakin.
Kelas 8 Germanium menghadirkan dua varian rasa, yakni ayam-udang dan daging sapi. Racikan bawang putih, bawang bombay halus, kecap asin, saus tiram, minyak wijen, lada bubuk, garam, serta bubuk kaldu menciptakan cita rasa gurih khas tanpa menggunakan bahan nonhalal.
Setelah proses memasak rampung, seluruh peserta berkumpul di Hall Andalusia untuk sesi presentasi dan penilaian. Sebelum perwakilan kelas maju, masing-masing tim menampilkan yel-yel dalam Bahasa Inggris dan Mandarin. Suasana semakin meriah dengan sorakan “We are the best!” serta “Jiāyóu! Jiāyóu!” yang menggema penuh semangat.

Filosof Jiaozi
Dalam presentasi, para siswa tak sekadar memaparkan bahan dan teknik memasak. Mereka juga menjelaskan filosofi jiaozi yang identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek, sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan.
Felecia Claryce Abida, salah satu perwakilan, mengaku sengaja terlibat langsung dalam proses memasak agar memahami materi secara utuh sebelum menyampaikannya di depan juri.
Lily Laoshi mencicipi setiap sajian dengan saksama. Ia memberikan apresiasi sekaligus umpan balik terkait rasa, tekstur, serta kerapian lipatan. Ia juga menyampaikan kebahagiaannya melihat siswa ICP mampu memadukan pembelajaran bahasa dengan praktik budaya kuliner secara konkret.
Hasil penilaian menetapkan Kelas 9 Hadramaut sebagai Terbaik 1, disusul Kelas 9 Granada (Terbaik 2), Kelas 8 Germanium (Terbaik 3), Kelas 8 Ferrum (Terbaik 4), Kelas 7 Great (Terbaik 5), dan Kelas 7 Fair (Terbaik 6).
Melalui kegiatan ini, jiaozi tak sekadar menjadi hidangan. Ia menjelma medium pembelajaran kolaboratif, kreatif, sekaligus lintas budaya yang memperkaya pengalaman akademik siswa ICP Spemdalas. (#)
Jurnalis Dina Hanif Mufidah Penyunting Mohammad Nurfatoni












