
Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik melatih ketelatenan dan kesabaran melalui teknik menghias tumpeng pakai garnish guna menciptakan sajian kuliner bernilai seni.
Tagar.co — Jumat siang (30/1/2026), bel SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) telah berbunyi, menandakan waktu pulang bagi para siswa. Sebagian siswa justru menolak pulang. Mereka memilih merapat ke kantin sekolah demi sebuah ujian kesabaran yang terkemas dalam ekstrakurikuler Cooking Class. Meski jarum jam menyentuh pukul 13.00 WIB, semangat mereka tetap membara untuk menyelami seni menata garnish pada tumpeng.
Para siswa datang dengan persiapan matang. Mereka menenteng tepak makan berisi aneka lauk-pauk seperti ayam goreng, nugget, tempe kering, hingga telur rebus. Rina Ariani, sang guru pembina, telah menyiapkan nasi kuning di atas meja. Sebelum memulai, ia memastikan area kerja bersih agar pikiran para siswa tetap fokus saat menghadapi kerumitan menghias nanti.
“Kalau kerja harus bersih. Agar tidak bingung dan jorok,” pesan Rina. Ia menekankan, keindahan tumpeng bermula dari disiplin diri. Setelah semua siswa mengenakan apron, Rina memberikan arahan tentang nilai sebuah ketekunan. “Kita di sini belajar menghias tumpeng. Perhatikan baik-baik. Garnish inilah yang membuat tumpeng menjadi mahal harganya. Ustadzah Rina sudah mengikuti pelatihan khusus demi bisa menyusun tumpeng seperti ini,” jelasnya.
Rina kemudian mencetak nasi kuning menjadi tiga tingkat yang presisi. Sambil menata lauk, ia mendemonstrasikan teknik mengupas telur dengan sangat cepat. Ia menggelindingkan telur di atas meja sambil menekannya dengan telapak tangan. “Cara cepat ini akan sangat membantu kalau telurnya banyak,” ujarnya. Para siswa pun terkesima, menyadari bahwa kecepatan teknis harus berpadu dengan ketelitian agar hasil akhirnya sempurna.

Ujian Sabar
Memasuki tahap inti, Rina Ariani, S.Pd. membimbing siswa kelas III hingga V tersebut untuk memasang garnish. Ini adalah momen yang menguji batas kesabaran mereka. Bahan-bahan seperti mentimun, lobak, cabai merah, dan sawi yang telah dipotong menyerupai bunga dan daun sudah tersedia di atas meja. Warna-warni dari pewarna makanan membuat hiasan tersebut tampak hidup, namun menatanya ke badan nasi tumpeng bukanlah perkara mudah.
Sebagian siswa turut memasang tusuk gigi pada hiasan sayur, lalu menancapkannya ke tumpeng dengan penuh kehati-hatian. Proses ini memakan waktu lama dan menuntut konsentrasi tinggi.
Di tengah jalan, beberapa siswa mulai tampak bosan. Semangat mereka timbul tenggelam akibat rasa lelah. Namun, mereka kembali terpacu saat melihat teman di sampingnya masih berjuang fokus pada proses praktik siang itu. Apalagi, ada beragam garnish kelopak bunga warna-warni.
“Di sini Ustadzah mau menunjukkan bagaimana meriahnya sebuah tumpeng,” ujar Rina. Tanpa sadar, para siswa perlahan mencondongkan badan ke depan karena penasaran.
Ia menjelaskan, tumpeng bukan sekadar makanan, melainkan hasil dari proses panjang yang tidak bisa terburu-buru. “Membuatnya memang lama. Ustazah tidak menerima pesanan tumpeng kalau h-1. Bahan mungkin ada, tapi menyiapkan detailnya butuh waktu, apalagi tempehnya,” ungkapnya sambil menunjukkan nampan bambu yang menjadi piring jumbo tumpeng.
Sentuhan terakhir adalah memasang mahkota daun pisang berbentuk corong di puncak tumpeng. Rina juga memberikan wawasan tentang penjenamaan (branding) dengan menempelkan stiker logo bisnis pada bagian atas.
Setelah seluruh proses selesai, rasa lelah para siswa terbayar lunas. Mereka berfoto bersama sebelum akhirnya menikmati tumpeng hasil kesabaran kolektif tersebut. Pelajaran siang itu membuktikan, keindahan sejati hanya lahir dari tangan-tangan yang sabar. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












